
Freya diam, melihat testpack di tangannya, lalu disimpannya di dalam kotak.
"Kamu lama banget di dalam kamar mandi, lagi mesum, ya? Ngajak-ngajak napa!"
Menikah dengan Arby, entah Freya harus bersyukur atau tidak.
Dia tidak tahu harus dan lebih banyak tertawa atau mendengkus.
"Kebanyakan mengkhayal itu enggak baik, Honey. Mendingan langsung praktek saja, yuk! Kasihan Arjun, jangan biarkan dia jadi pengangguran."
Tuh kan tuh kan tuh kan!
🌺🌺🌺
Arby melihat kotak kecil, dibukanya kotak itu.
Testpack!
Dengan senyum bahagia, diambilnya benda itu untuk dilihatnya sendiri.
Senyumnya langsung sirna.
Garis satu.
__ADS_1
"Jangan dilihat!" Freya langsung mengambil benda itu, dan membuangnya.
"Jangan dibuang!" Arby kembali mengambil testpack yang jumlahnya banyak itu, tapi hasilnya negatif semua. Tidak tahun sudah berapa lama Freya menggunakannya, mungkin sejak mereka melakukan malam pertama dulu.
"Garisnya hanya satu!"
"Nanti biar aku kasih garis lagi, biar garisnya jadi dua," jawab Arby enteng. Dilihatnya wajah Freya yang tertawa, tapi tawa itu langsung sirna lagi.
"Jangan sedih, mungkin saja ini ulah Arjun. Dia mungkin sudah berpesan pada para kecebong untuk tidak melanjutkan misi. Kan nanti kalau ada dedek bayi di perut kamu, si Arjun enggak bisa bekerja full, hanya paruh waktu saja. Apalagi kalau dedek bayi baru lahir. Bisa dirumahkan lagi, dia!"
Freya tertawa, dia tahu dia harus merasa bersyukur karena menikah dengan Arby, yang selalu bisa memberikan jawaban yang tidak disangka-sangka.
"Pokoknya, kita nikmati saja waktu bertiga dulu."
Awas ya kamu, Arjun! Bikin malu saja. Sudah sering aku banggakan, malah bikin kecewa. Kan malu aku sama beben Freya.
Arjun, kalau saja bisa bicara, pasti sudah demo. Sudah disuruh kerja, digaji enggak, biaya lembur enggak dikasih, dimarahi pula!
Tapi tak apalah kalau kami hanya memiliki Chiro saja, aku sudah sangat bahagia. Banyak yang sudah menikah lama, tapi belum memiliki anak juga. Aku tidak mau Freya terlalu banyak berpikir, apalagi hal buruk yang bisa menyebabkan dia sakit lagi.
Freya berpikir, untung saja dia menikah dengan Arby, bukan dengan orang lain. Marva misalnya?
Untung saja kamu menikah dengan Arby, bukan dengan Marva!
__ADS_1
Freya tersentak. Entah di mana dia pernah mendengar perkataan ini. Dia mencoba mengingat, tapi itu membuat dia merasa mual.
"Kamu kenapa? Ayo istirahat dulu." Arby langsung menggendong Freya. Freya selalu membuatnya cemas.
Sedikit pucat saja, sudah membuat Arby panik. Freya juga masih rutin memeriksakan kesehatannya, yang menurut dokter, baik-baik saja.
"Kenapa aku tidak beruntung kalau menikah dengan Marva?" gumam Freya pelan, tapi sayangnya, itu didengar oleh Arby.
"Menikah dengan Marva?"
"Eh? Kenapa?"
"Tadi kamu bilang, tidak beruntung menikah dengan Marva?"
"Oh, itu ... hmmm ...."
"Kenapa?"
"Seperti pernah ada yang mengatakan, kalau aku bisa tidak beruntung, kalau menikah dengan Marva."
"Oh."
Hanya itu tanggapan Arby, meski Arby sendiri tidak tahu, siapa yang pernah mengatakan itu pada Freya. Tapi dalam hatinya, dia penasaran juga.
__ADS_1
Terserahlah, asal orang itu tidak kompor saja! Jangan sampai Freya yang tidak ingat apa-apa, malah diprovokasi oleh orang lain yang kami tidak tahu. Awas saja kalau ada yang berani mengusik keluargaku. Akan aku balas orang itu.