
Selesai makan, mereka langsung pergi ke hotel. Tidak perlu memesan kamar, karena ada tempat khusus untuk Arby dan se.ia orang-orangnya. Maklum, ini kan hotel miliknya.
"Ya ampun Bang, ceweknya cantik-cantik banget ya. Bisa perbaiki keturunan nih, kalau menikah dengan cewek Jepang," bisik Jon pelan kepada seniornya.
Sayangnya, bisikan itu cukup jelas didengar oleh Arby dan Freya.
"Iya, Jon. Kita bertiga hitam, nah mereka putih. Nanti anak kita jadi ...."
"Abu-abu?"
Freya tertawa mendengarnya.
"Om, Om. Mau nikah sama cewek Jepang biar punya anak abu-abu ya, Om?"
Ya ampun, kalau Sachi dan si kembar sudah bicara, siap-siap saja dengan jantung mereka.
Ti J tidak sehitam yang dibayangkan, tap memang kulit mereka lebih coklat karena sering panas-panasan saat di kampung, dsn tidak tahu bagaimana cara merawat diri. Kalau sekarang, kulit mereka sudah bersih terawat dengan warna coklat eksotis.
"Om, Om, tuh cewek tuh, cakep tuh Om. Buat Om aja."
Yang ditunjuk adalah nenek-nenek yang berwajah putih, begitu juga dengan rambutnya.
__ADS_1
Arby dan Freya kembali tertawa. Lebih baik para bodyguard mereka yang dibully, daripada mereka yang pusing.
Mereka lupa, kalau ada Sachi dan si kembar, lebih baik dalam mode silent saja, bisa-bisa jantung mereka tidak sehat.
"Alo Tante antik."
Perempuan itu, yang sedikit mengerti bahasa Indonesia menerjemahkan seperti berikut:
Antik, berarti barang langka, atau barang kuno, atau barang tua.
Dasar bocah nakal, mentang-mentang aku sudah tua, dibilang antik. Begitulah isi hatinya kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Dia tidak tahu saja, kalau antik yang dimaksud oleh Ichi adalah cantik.
"Anak-anak, jangan bikin rusuh, ya."
Arby dan keluarga kecilnya ada di dalam lift, sedangkan bodyguard ada di lift yang kain, karena tidak muat.
Mereka tiba di lantai yang dituju. Arby membuka pintunya dan ruangan yang sangat besar dan bagus menyambut kedatangan mereka.
Si kembar langsung naik ke sofa dan meloncat-loncat.
__ADS_1
"Hati-hati jatuh."
Arby segera mengeluarkan bekal yang di bawa dari Indonesia. Apa nanti kalau orang-orang tahu anak-anaknya membawa bekal yang dijual di pinggir jalan?
"Mau mamam itu, Dad."
"Kalian ini bari makan, loh."
"Bial gak basi, Dad. Kan kata mommy enggak boleh buang-buang makanan."
"Heleh, pintar banget ngelesnya."
Arby menghela nafas. Pertama kali tiba di hotel, masa dia harus memanaskan bekal dari Indonesia. Kok kedengarannya enggak elit banget, ya.
Sachi dan si kembar membuka baju dan celana panjangnya, menunjukkan perut mereka yang gembul dan sangat montok.
"Ayo cuci tangan dan kaki, setelah itu ganti baju."
"Sama Chiro saja, Mom. Mommy istirahat saja."
Freya tersenyum melihat kecekatan Chiro. Anak iri memang sangat lincah mengurus adik-adiknya. Chie juga mencuci tangan dan kakinya, lalu mengganti baju. Semua baju ini memang sudah ada di Jepang, karena Arby tidak mau repot-repot membawa semua itu.
__ADS_1
Heleh, padahal tadinya dia bawa lima koper besar yang sisinya barang-barang anak-anaknya, termasuk perlengkapan si dede dalam perut dengan alasan pengobat rindu.
Pura-pura pikun, dia. Takut ditertawakan oleh bebebnya.