Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
72 888.888.888


__ADS_3

“Ar, bangun!"


"Bangun, jangan seperti ini!”


Arby membuka matanya.


Mimpi?


Tidak ini bukan mimpi. Dia masih melihat tubuh Freya yang terguncang dalam pelukan Ami. Juga orang-orang yang melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Tubuh Freya semakin terguncang, diiringi tawa.


Freya lalu mengangkat wajahnya, mengusap air mata diiringi tawa yang semakin kencang.


Ya Allah, mimpi ini benar-benar aneh.


"Bangun dong, Ar. Masa di acara pernikahan mukanya kusut begitu."


"Iya, ini acara pernikahan Freya, jadi kamu jangan bikin kacau."


"Sudah ah, aku enggak kuat lagi," ucap Freya, kemudian melanjutkan, "Ini acara pernikahan kita, By."


"Suprise!" teriak semua orang.


"Ini ...?"


Mereka tertawa, sedangkan para tamu tersenyum, mau ikut tertawa tapi merasa segan. Ya kecuali Zion cs yang tidak tahu tempat.


"Maksudnya gimana, sih?"


"Ini hari pernikahan kamu dan Freya."


"Aku dan Freya? Kami menikah? Sekarang? Freya tahu?" pertangaan beruntun itu diajukan kepeda mereka. Bahkan kepala Arby menoleh ke sana ke sini mencari jawaban.


"Ya tahulah, kan dia yang merencanakan semua ini."


"Rencananya? Rencana Freya?"


"Saat kita pulang dari lamaran minggu lalu, Freya menghubungi kami dan merencanakan semuanya. Dia yang menyiapkan pernikahan ini dan membuat sandiwara ini."


"Muka aku hampir kena tonjok, nih," keluh Mico sambil meraba-raba wajahnya.


"Ya habis siapa lagi coba, yang paling cocok berperan sebagai calon suami palsu Freya kalau bukan kamu, Mic?" kata Ikmal.


Mico dan Freya melakukan tos sambil tertawa.


"Tapi puas banget aku, bisa ngerjain dia kaya begini," ucap Mico masih dengan tawa.


"Jadi kalian semua sekongkol?"


"Iya dong, jangankan kami, para tamu saja tahu."


Suara tawa akhirnya memenuhi tempat itu.


"Lihat gak ekspresinya Arby?"


"Gak tega aku sebenarnya, tapi lucu juga, sih."


Vian dan Marcell ikut berkomentar.


"Ini benaran kan, bukan hanya mimpi, kan?"


"Heleh, dasar plin-plan. Tadi pasti berharap semuanya hanya mimpi, sekarang berharap semuanya harus nyata!"


Mereka kembali tertawa.


Arby benar-benar kehilangan kata-kata.

__ADS_1


"Biasanya kan, perempuan yang dapat kejutan pernikahan, kenapa malah calon pengantin laki-lakinya?" tanya Arby, dirinya sendiri masih loading, seolah nyawanya belum semua terkumpul.


"Ya sudah, kalau enggak mau, diundur saja nikahnya," ucap Freya.


"Eh, jangan-jangan, sekarang saja nikahnya."


Pria itu menghentak-hentakkan kakinya.


"Kami benar-benar harus menjaga rahasia ini dari kamu, bahkan mewanti-wanti tamu undangan agar tidak bertanya atau berbicara apa-apa padamu."


Arby langsung memeluk Freya.


"Lain kali kalau mau bikin kejutan jangan yang bikin aku bisa kena serangan jatung napa, Yang."


"Jadi kamu enggak suka sama kejutan ini?"


Arby mengangguk juga menggeleng.


"Aku takut kamu benar-benar menikah dengan orang lain. Aku juga tidak menyangka kamu membuat kejutan ini untukku. Ini semua tidak pernah ada dalam benakku."


Arby masih sesenggukan dalam pelukan Freya. Sungguh, dia benar-benar dibuat hampir gila.


"Aku ajak mengurus surat nikah, kamu bilang lagi sibuk terus," keluhnya.


"Kan aku memang sibuk. Sibuk mengurus kejutan ini buat kamu."


Freya kembali tertawa.


Baru satu minggu yang lalu Arby melamar Freya, dan merengek minta cepat-cepat nikah yang ditolak oleh keluarga. Nyatanya, satu minggu kemudian malah dia yang mendapat kejutan ini.


Harus dengan kata apa dia mengungkapkan perasaan bahagianya ini?


"Baju yang kamu pakai itu Freya yang memilihnya. Bahkan dia sudah menyiapkan baju lain, untuk jaga-jaga jika nanti baju itu rusak karena kamu berkelahi dengan Mico," ucap Ikmal.


"Jadi para tamu ini tahu, kalau yang mau menikah aku dan Freya?"


Arby menatap Zion cs, teringat gosip mereka tadi. Sedangkan yang ditatap semakin tertawa.


"Apa kalian bilang tadi? Pengantin laki-lakinya jelek? Nikahnya terpaksa?"


Zion hanya mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah.


Arby lalu kembali menghentakkan kakinya tanpa rasa malu.


"Mommy sama daddy tega banget ngerjain aku!"


"Jadi tidak, nikahnya?" tanya penghulu lagi.


"Jadilah, awas kalau enggak!" ucap Arby.


"Ya sudah, ayo, kamu duduk di sana!"


"Mom, cincin nikahnya?"


"Sudah mommy bawa."


Untung saja Arby sudah membuat cincin pernikahannya dengan Freya dari jauh-jauh hari. Sebenarnya dia ingin menggunakan cincin pernikahan mereka yang lama, tapi karena beberapa hal, dia membuat yang baru.


Pertama, cincin lama itu tidak muat lagi di jari Freya. Kedua, Arby di cincin pertama itu, kehidupan rumah tangganya tidak berjalan lancar, dan berakhir dengan perpisahan. Jadi Arby ingin membuat yang baru, dengan harapan mereka benar-benar menjalani kehidupan pernikahan yang baru, yang jauh lebih baik. Memang hanya sebuah simbol, tapi dia ingin cincin itu terus tersemat di jari istrinya. Design yang sama namun dengan permata yang lebih banyak. Dengan harapan kebahagiaan mereka akan bertambah dan semakin bersinar.


"Mas kawiinnya, Mom?"


"Sudah beres."


Arby duduk di hadapan Wildan.


"Mom, rambut aku masih rapih, gak?"

__ADS_1


"Iya, Sayang."


Arby dan Wildan mulai menjabat tangan.


"Mom, muka aku kucel gak?"


"Iya, muka kamu kucel banget. Sudah mata merah, ingus meleber ke mana-mana," ejek Elya, gregetan dengan anaknya yang sudah mau nikah tapi malah nanya penampilan.


"Hah? Aku mau cuci muka dulu. Air mana, air?"


"Ke kamar mandi, Ar."


"Enggak ah, nanti Freya hilang."


Jawaban apa itu?


Ikmal mendengkus, tapi tetap memberi air untuk Arby.


"Aku masih wangi, kan?"


"Ya Allah, Arbyyy ...!"


"Kamera mana, kamera?"


"Sudah Freya, kamu batalin saja! Dia mau nikah apa mau fasion show, sih?"


"Kan harus kelihatan keren, Mom."


"Ti ...."


"Apa, apa lagi yang kamu mau?" Elya memototi anaknya itu.


"Buruan Ar, nanti enggak malam pertama, loh!" celetuk Zion.


Malam pertama? Aduh, aku jadi deg-degan nih. Mana belum beli lingerie buat Freya, lagi.


"Ya sudah, ayo, aku sudah siap."


Arby melihat Freya yang duduk di sebelahnya.


Cup


"Ya ampun, Ar. Belum ijab, sudah main nyosor!"


"Nyobain dulu dikit, biar enggak tegang."


Elya dan Arlan menunduk menahan malu. Kenapa bisa mereka memiliki anak semesum dan tidak tahu malu seperti itu.


Arby menatap Wildan yang duduk dengan gagah di hadapannya.


Bayangan tentang masa kecil dia dan Freya, terutama saat dia menikah dulu berputar dalam ingatannya.


Kini, dia akan menikah dengan perempuan yang sama. Dia memandang Freya, memandang penghulu yang sama, saksi-saksi yang sama, namun tamu-tamu yang lebih banyak.


Air matanya menetes tanpa suara.


Ini nyata, kan?


Tangan Arby dan Wildan saling menjabat.


"Siap semuanya?"


"Arby Erlangga Abraham, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Freya Canaya Zanuar dengan mas kawin uang tunai 888.888.888 rupiah."


"...."


Hening, tidak ada jawaban dari Arby.

__ADS_1


__ADS_2