Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
60 Patah


__ADS_3

Mereka bangun pagi-pagi sekali untuk olah raga bersama. Lagi-lagi teringat masa-masa itu, di mana mereka setiap hari rutin menjalankan ibadah berjamaah, olah raga, dan makan bersama.


Freya menghirup dalam-dalam udara pagi yang sangat segar. Dilihatnya pemandangan sekitar villa yang sangat asri.


"Sarapan apa kita?" tanya Marvell.


"Jangan khawatir soal makanan lah kalau di sini. Kalian kan tahu sendiri di sini banyak sayur dan buah. Tinggal metik di kebun. Mau ayam juga tinghal ambil di peternakan, mau ikan tinggal ambil di empang."


"Kalau mau daging sapi?"


"Telp orang dulu, soalnya peternakan sapi dan kambing agak jauh dari sini."


Mereka menyusuri perkebunan teh yang masih berselimut kabut dan embun yang membasahi daun teh.


"Pelan-pelan Chiro, jangan lari nanti jatuh."


Freya yang sejak tadi memandangi lingkungan di sana, merasa tak asing dengan tempat itu.


"Sekalian saja kita metik sayur-sayuran dan buah-buahan."


"Iya, biar cepat yang perempuan ambil sayur dan buah, yang laki-laki nangkap ikan dan ayam."


Chiro bingung untuk ikut mommy atau daddynya. Dia ingin ikut memetik buah dan sayur, tapi dia juga ingin menangkap ikan.


"Daddy, ayo kita metik buah dan sayur sebentar, lalu menangkap ayam dan ikan."


Tentu saja keinginan Chiro itu disambut oleh Arby. Namun yang terjadi adalah, yang laki-laki ujung-ujungnya ikut-ikutan memetik buah juga sayur lebih dulu dan membawa keranjang untuk tempatnya. Karena sama seperti kejadian dulu, para cewek itu khilaf sehingga memetik banyak sayur dan buah. Setelah urusan buah dan sayur selesai, mereka semua ikut ke pemancingan dan peternakan ayam.


Chiro langsung bersorak kegirangan, melihat banyak ayam yang sedang mencari makan. Apalagi suara kokoknya sangat nyaring.


"Ayo daddy, tangkap ayam itu."


Ini adalah peternakan ayam kampung, mereka akan dilepas untuk mencari makan sendiri namun tetap dalam pengawasan. Jadi wisatawan yang datang bisa memilih sendiri ayam yang akan mereka makan.


Arby benar-benar mewujudkan apa yang Freya ucapkan dulu, meski wanita itu tak ingat sama sekali. Tidak jauh dari situ juga banyak villa yang disewakan, yang juga masih milik Freya.


"Wah, tempat wisata ini benar-benar bagus, ya?" ucap Kirei yang tak tahu apa-apa.


Setelah menangkap empat ekor ayam yang berukuran besar, mereka lalu ke pemancingan.


"Mau ikan apa?"


"Gurame."


Kini mereka sudah basah karena Chiro yang ingin masuk ke empang namun harus di gendong Arby. Para pria itu bersikap seperti anak-anak yang bermain air.


Sangat mudah menangkap ikannya.


"Di sini juga ada pemancingan?"


"Ada, di dekat restoran. Kolamnya bersih dan memang untuk pengunjung restoran yang ingin memancing sendiri ikannya."


Mereka akhirnya tiba ke villa dan segera membersihkan diri, setelah itu yang perempuan langsung memasak untuk sarapan.


.


.


.


Sepanjang siang ini mereka habiskan di dalam villa, nanti sore baru akan berkeliling lagi. Arby mencoba mendekati Freya, namun wanita itu terus saja menghindari dengan memasang wajah jutek.


Salah apa aku ya? Aku kan bukan pria mesum!


"Chiro, mommy kenapa, sih?" tanya Arby pada anaknya itu.


"Memang mommy kenapa, Daddy?"


Ditanya malah nanya balik.


"Mommy kamu marah sama daddy?"


"Enggak tahu daddy. Mungkin mommy lagi galau."


"Galau, galau kenapa?"

__ADS_1


"Ya enggak tahu, kan mungkin."


Aih, ya sudahlah.


Sore harinya, sebelum jalan-jalan, pars cewek menyempatkan diri untuk ngerujak.


"Seger-seger banget ya, buah-buahannya."


"Dah, yuk. Nanti keburu malam."


"Daddy, Chiro mau naik Kuda."


"Iya, nanti kita naik Kuda."


"Sama mommy juga ya, Dad?"


"Iya, sama mommy."


Mereka menuju salah satu tempat wisata, dan membeli jagung bakar juga wedang jahe. Chiro benar-benar merasa senang, bukan karena liburannya, tapi karena dia bisa liburan bersama dengan mommy daddy, juga para uncle dan aunty, hal yang dulu sangat dia harapkan.


Dia kadang merasa iri saat mendengar teman-temannya bercerita tentang kibiran bersama kedua orang tuanya. Bahkan sepupunya juga suka libur bersama.


"Mommy, Daddy, Chiro mau foto bersama."


"Ayo. Ayo, Frey!"


Mereka bertiga foto bersama dengan berbagai gaya.


Muka jelek, muka imut, muka lucu.


"Kamu kenapa sih, Ya?"


"Enggak, aku kayanya pernah ke daerah sini, dah," jawab Freya. Mico hanya mengangguk.


.


.


.


"Ya sudah, itu aja ya, Jas." Arby menutup ponselnya, saat dia berbalik, dilihatnga Freya yang menatapnya dengan wajah kesal.


"Jangan dekat-dekat. Kamu memang cowok paling nyebelin yang aku kenal. Pokoknya mulai sekarang jaga jarak dari aku."


Freya langsung masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Arby, pria berdiri mematung dengan wajah sendu. Dia mengusap wajahnya, merasakan sesak atas sikap Freya.


Apa aku benar-benar harus menyerah?


Arby segera masuk ke kamarnya. Ditatapnya langit-langit kamar.


Dia patah hati, lagi dan lagi. Patah karena perempuan yang sama.


Chiro, bagaimana ini?


Kini dirinya tak dapat tidur, meski jam telah menunjukkan pukul dua malam. Entah kenapa Freya tiba-tiba bersikap dingin padanya.


Apa karena aku menciumnya saat itu? Sebelumnya dia baik-baik saja. Aku kan hanya ingin menunjukkan bahwa aku masih mencintainya, bukan hanya dengan kata-kata. Bisa saja aku langsung melamarnya, tapi aku tahu dia butuh waktu untuk kami saling ... oh, bukan. Bukan kami, tapi dia. Dia butuh waktu untuk mengenalku lebih jauh. Aku ingin menunjukkan bahwa dia milikku, hanya milikku, dan masih milikku.


Apa dia tak pernah merasakan apa yang aku rasakan.


Arby membuka laptopnya, melihat puluhan fotonya bersama Freya saat masih kecil dulu, dengan diiringi oleh musik.


Jauh di lubuk hatiku


Masih terukir namamu


Jauh di dasar jiwaku


Engkau masih kekasihku


Tak bisa kutahan lagi angin


Untuk semua kenangan yang berlalu


Hembuskan sepi merobek hati

__ADS_1


Meski raga ini tak lagi milikmu


Namun di dalam hatiku sungguh engkau hidup


Entah sampai kapan


Kutahankan rasa cinta ini


Jauh di lubuk hatiku


Masih terukir namamu


Jauh di dasar jiwaku


Engkau masih kekasihku


Dan kuberharap semua ini


Bukanlah kekeliruan seperti yang kukira


Seumur hidupku


Akan menjadi doa untukmu


Jauh di lubuk hatiku


Masih terukir namamu


Jauh di dasar jiwaku


Engkau masih kekasihku


Andai saja waktu bisa terulang kembali


Akan kuserahkan hidupku ini di sisimu


Namun ku tau itu takkan mungkin terjadi


Rasa ini menyiksaku sungguh-sungguh menyiksaku


Jauh di lubuk hatiku


Masih terukir namamu


Jauh di dasar jiwaku


Engkau masih kekasihku


Kau masih kekasihku


Kau masih kekasihku


Kau masih kekasihku


Kau masih kekasihku


Jauh di lubuk hatiku


.


.


.


Yang belum baca MOTHER bisa mampir ke sana.






__ADS_1



Jangan lupa mampir ya, dan dukung juga cerita MOTHER 😊


__ADS_2