Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
149 Alergi


__ADS_3

Hari ini Freya kembali ke kantor Arby.


"Siapa kamu?"


"Selamat siang Nyonya, saya Ferdi, sekretaris tuan Arby yang baru."


"Ke mana perempuan itu?"


"Jasmine sudah dipindahkan ke bagian keuangan."


"Sebagai apa?"


"Staf biasa, yang mentraining karyawan baru."


Freya menatap wajah Ferdi yang menurutnya imut. Tiba-tiba saja dia ingin mencubit pipi pria itu.


"Fer?"


"Ya, Nyonya?"


"Sini deh!"


Ferdi mendekat, dan Freya langsung mencubit pipi itu dengan gemas, bertepatan dengan pintu ruang kerja Arby yang terbuka.


Arby menatap tajam apa yang dilihatnya. Ferdi langsung lemas, apa dia akan langsung di pecat di hari pertama dia bekerja sebagai sekretaris Arby.


"Sayang, sekretaris kamu ini imut banget, sih. Namanya juga mirip sama nama aku. Jangan-jangan jodoh!"

__ADS_1


"Enak saja. Didi!"


Didi? Siapa Didi? Batin mereka.


"Mulai sekarang kamu saya panggil Didi. Jangan coba-coba kamu jadi pebinor, ya. Awas saja!"


"Baik, Tuan."


Arby lalu mendekati Freya, mengusap-usap tangan yang tadi mencubit pipi Didi, lalu telapak tangan Freya itu dia elus-eluskan ke pipinya.


Ferdi yang sekarang dipanggil Didi itu, kini bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sikap bos besarnya itu kepada Freya.


"Perempuan itu sudah kamu pindahkan?"


"Sudah Sayang, jangan khawatir."


"Ayo."


Arby langsung memeluk pinggang Freya, sambil menatap penuh ancaman pada Didi. Didi dan Evan saling tatap, sambil dalam hati berkata, kalau yang seharusnya takut pada orang ketiga itu bukan Freya, tapi justru Arby.


Didi melihat Freya dari belakang, lekuk tubuh ibu hamil itu memang bagus, cara jalannya juga memang seperti model meski dia bukan model. Belum lagi leher dan kakinya yang jenjang.


"Perhatikan pandangan matamu! Kalau tuan Erlangga tahu kamu melihat istrinya seperti itu, habislah riwayatmu!"


"Enggak kok, Tuan. Saya hanya mengangumi ciptaan Tuhan saja. Kan harus pandai bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan, salah satunya dengan cara memuji ciptaan-Nya."


"Dasar, bisa saja ngelesnya. Ingat, jangan cari masalah. Aku yang merekomendasikan dirimu, jadi jangan membuat aku malu dan mengecewakan tuan Arby."

__ADS_1


"Baik Tuan, saya mengerti."


Setelah menjemput Chiro, mereka masuk ke salah satu restoran. Kehadiran mereka menjadi pusat perhatian, karena restoran itu juga sering digunakan oleh kalangan atas untuk makan atau meeting.


Keluarga itu memang tetap terlihat harmonis meski belum lama ini mendapat masalah.


"Erlang," panggil seseorang.


Freya menghela nafas, ada saja pengganggu.


"Kamu masih bersama dia? Apa hanya karena anak saja?"


"Kamu masih hidup?" tanya Arby ketus. Freya tertawa renyah. Wajah perempuan itu langsung merah padam. Perkataan Arby yang tidak pelan itu tentu saja didengar oleh orang lain. Pria bermulut pedas itu masih tetap sama. Tidak akan menutupi Ketidak sukaannya pada orang jika orang itu menyebalkan.


Memang tidak punya malu, dia justru duduk di depan Arby, agar bisa memandang wajah takkan pria itu.


"Bibi, jangan duduk di dekatku. Aku alergi dengan perempuan jelek!"


Terdengar suara tawa, bukan hanya dari Arby dan Freya, tapi dari orang lain juga.


Wajah perempuan itu semakin merah. Sudah dia dipanggil bibi, dikatain jelek juga oleh Chiro.


Dasar, bapak dan anak sama saja!


Seorang gadis kecil yang umurnya tidak jauh dari Chiro, terus menatap Chiro tanpa berkedip.


Apa tadi dia bilang? Dia alergi pada perempuan jelek? Berarti aku harus jadi perempuan cantik. Mulai hari ini aku akan melakukan perawatan seperti bunda agar selalu cantik.

__ADS_1


__ADS_2