Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
176 Siapkan Mental


__ADS_3

"Jangan egois Arby, Freya Haris dibawa ke rumah sakit."


"Jangan!"


Wajah Arby sudah semakin pucat. Sungguh, dia sangat ketakutan kalau Freya harus ke rumah sakit untuk pengobatan.


Sepertinya Arby phobia dengan rumah sakit. Mungkin lebih tepatnya phobia Freya sakit.


Arby memang suka trauma melihat Freya yang harus berbaring di atas brankar. Rasa takut itu bukan mengada-ada, tapi terjadi dengan sendirinya di bawah alam sadarnya.


"Se ... sebenarnya Freya sakit apa?" Setelah bertanya itu, Arby langsung memejamkan matanya, takut mendengar hal buruk.


"Bisa-bisanya kamu menghamili Freya lagi! Dasar!" ucap Nuna.


"Freya yang aku hamili, kenapa kamu yang sewot!"


"Eh, apa?" tanya Arby, takut salah dengar.


"Freya lagi hamil, bukan begitu?" tanya Nuna ke Aruna dan yang lain.


"Iya, dari hasil pemeriksaan kami, begitu."


Tadinya Nuna tidak yakin dengan hasil pemeriksaannya, makanya dia menyuruh yang lain ikut memeriksa, dan ternyata yang lainnya juga sama.


"Ha ... hamil?"


Arby mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih basah.


"Ya ampun Arbyyyyy!" teriak yang lain heboh.


"Sachi masih berumur enam bulan, kamu sudah mengembang biakkan kecebong baru lagi!"


Arby langsung menunduk, lalu terkikik senang.


"Dasar Arjun, dulu malu-malu sampai lama banget baru ada Sachi, sekarang malah ketagihan launching lagi, hihihi."

__ADS_1


"Dasar enggak tahu malu!"


Pria itu cuek saja. Dia menutup mulutnya menahan tawa dengan kedua tangannya, kaku menggerakkan badannya kiri kanan, persis seperti anak kecil.


Berbeda dengan Arby yang girang ....


Marcell, Vian, Ikmal dan Mico saling menggenggam, memejamkan mata dengan kaki yang gemetaran.


Ya Tuhan, kenapa harus ada yang baru lagi?


Nooo, ujian macam apa ini, kenapa datangnya bertubi-tubi?


Sudah pasti mereka lagi yang akan dibuat ribet.


Arby melihat Chiro.


"Chiro, kamu mau punya adik lagi," ucapnya girang.


"Adik?"


"Yeeeeyyy, asik. Adik lagi!"


Ayah dan anak itu jingkrak-jingkrak, saling berpegangan tangan.


"Sachi, kamu akan punya adik juga," ucap Chiro.


Karena Sachi belum bisa diajak jingkrak-jingkrak, jadi Arby dan Chiro hanya menoel-noel pipi tembem Sachi. Seolah mengerti apa yang Daddy dan abangnya itunkatakan, Sachi menggerakkan tangan dan kakinya sambil bertepuk tangan pelan, kaku ikut tertawa.


Ikmal menepuk jidatnya.


Habislah kita!


Tidak lama kemudian Freya melenguh pelan. Dia membuka matanya dan bingung dengan sekitarnya.


"Aku lapar, ada makanan enggak."

__ADS_1


"Ada, Sayang."


Arby senyum-senyum pada Freya, membuat perempuan itu bingung.


"Kenapa tampang kamu mencurigakan begitu?"


"Enggak apa. Gimana perasaan kamu, tadi kamu pingsan, loh."


"Jadi kamu senyum-senyum karena aku pingsan."


"Enggak. Jangan ngambek lagi, Sayang. Kasihan adiknya Sachi."


"Adiknya Chiro?"


"Iya, maksudnya adiknya Chiro dan Sachi."


"Adiknya Sachi?"


"Iya, kamu mau ngasih aku anak lagi, dong."


Freya melebarkan matanya.


"Aku hamil lagi? Kok bisa?"


"Ish, kalau aku yang hamil, baru kamu bingung, kok bisa."


Freya memutar bola matanya.


Makanan langsung diantarkan untuk Freya. Dia makan dengan lahap. Tidak ada gejala mual-mual atau muntah.


"Habis ini kita ke rumah sakit, ya. Biar bisa USG."


Freya masih diam saja. Melihat Sachi yang masih berusia enam bulan. Tanpa sadar Arby kembali meneteskan air matanya.


"Jangan-jangan Freya yang hamil kamu yang sensitif," celetuk Marcell.

__ADS_1


Arby yang tidak sensitif saja sudah menyebalkan, apalagi Arby yang sensitif. Siapkan mental kalian!


__ADS_2