Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
89 Di Dalam Toko


__ADS_3

Kemarin covernya Jarak diganti sama NT, ya. Tapi mukanya Chiro enggak kelihatan😌


.


.


.


"Dah ya, Sayangku. Jangan berpikiran jelek. Tidak ada perempuan kedua, ketiga, dan seterusnya."


Arby pelan-pelan menghela nafasnya.


Aku harus bisa mengatasi masalah ini secepatnya. Jangan sampai Freya berpikiran buruk dan rumah tanggaku berantakan.


Pria itu mengecup kening dan pipi Freya. Lalu mendusel-dusel di leher putih mulus dan wangi milik istrinya itu.


☘️☘️☘️


"Aku mau ke tempat Ikmal dulu, kamu mau ikut, enggak?"


"Enggak, aku mau ke mall saja."


"Ya sudah, nanti kita ketemuan di sana saja, ya. Chiro aku ajak."


Sore harinya, Arby dan para sepupunya itu pergi ke mall. Dengan langkah pasti, pria itu memasuki satu toko, yang menghentikan langkah yang lainnya.


"Mau apa ke sini?"


"Ya belanja, lah."


"Kenapa kamu yang beli, bukan Freya?"


"Mana mau Freya beli yang beginian. Sebagai suami yang baik dan pengertian, jadi aku yang akan membelikannya. Ayo!"

__ADS_1


"Ayo?"


"Iya, kalian juga ikut. Belajar menjadi suami yang baik meski sampai sekarang belum laku."


Mereka tentu saja menolak, tapi langsung didorong oleh pria tidak tahu malu itu.


"Ada Chiro, Ar. Memangnya kamu enggak malu?"


"Malu tidak akan membuat kamu bahagia. Coba bayangkan kalau malam pertama, kamu malu. Duduk saja sana di kasur sepanjang malam, dan berharap tahu-tahu muncul anak di hadapan kamu."


Mereka mendengkus mendengar perkataan Arby, kenapa harus dihubungkan dengan malam pertama dan sesuatu yang berbau mesum?


"Ada yang bisa kami bantu, Tuan-Tuan?"


Para penjaga toko itu merasa kagum dengan Arby dan yang lain, begitu juga dengan para pengunjung perempuan.


"Mbak, saya mau membeli semua warna dan model lingerie di sini. Jangan lama-lama, karena saya sudah enggak kuat."


Enggak kuat?


"Jangan bicara sembarangan, Ar. Kamu enggak malu, apa! Orang-orang melihat kita."


"Memang apa salahnya aku membeli lingerie? Mereka juga banyak kok, yang membeli lingerie."


"Itu tadi kamu bilang, kamu sudah enggak kuat!"


"Aku enggak kuat menahan lapar. Kalian tuh yang mesum! Dasar!"


"Oh," sahut mereka serempak.


"Aku juga merindukan my bebeb. Pengen nyium, dipeluk, disayang-sayang. Tuh kan, jadi pengen buat dedek bayi!"


Ingin sekali mereka menendang Arby. Pria itu pasti sengaja membuat mereka malu.

__ADS_1


"Ini, Tuan."


Arby melihat lingerie-lingerie itu, dan sedikit berpikir.


"Enggak jadi deh, Mbak. Percuma pakai lingerie, ujung-ujungnya dilepas juga. Sobek, beli yang baru. Sobek, beli yang baru. Ayo, kita makan saja!"


Wajah mereka memerah, mendengar perkataan yang semakin tidak tahu malu itu.


"Awas, jangan mesum. Jangan dibayangin. Nanti kalau enggak bisa dilampiaskan, stres, loh!"


Perkataan Arby itu justru membuat orang-orang itu jadi membayangkannya, kan.


Ikmal sejak tadi sudah menutup mata dan telinga Chiro.


Kenapa aku harus punya saudara yang seperti ini?


"Taruh lagi di tempatnya, Mbak!"


Dengan cueknya Arby meninggalkan toko itu. Beberapa pengunjung yang terpengaruh dengan perkataan Arby, juga batal membelinya.


Mendingan naked saja dari awal.


Mungkin begitu kira-kira pikiran mereka.


"Kenapa tadi masuk kalau enggak jadi beli?" tanya Marcell kesal.


"Kan tadi aku sudah bilang, percuma. Nanti ujung-ujungnya dilepas juga."


Sudahlah, percuma saja bicara dengan Arby.


Hukumnya jika mereka bersama Arby:


Arby selalu benar

__ADS_1


__ADS_2