
Arby yang uring-uringan, orang lain ikut pusing. Dia terus merecoki Ikmal, Marcell, Vian, Larva, bahkan dokter Agam dan Mico.
"Mungkin ada pria lain di hati Freya," celetuk Marcell tanpa pikir panjang. Arby langsung mencengkram kerah baju Marcell, dan mengguncang-guncangkannya.
"Sakit, woy!"
"Tadi kamu bilang apa?"
"Enggak ada siaran ulang."
Yang lain diam saja, tidak ada yang mau membantu Marcell. Pertama, salah sendiri kenapa Marcell bicara sembarangan. Yang kedua, mereka senang melihat Marcell yang tersiksa seperti ini.
Arby sudah mencoba mencari tahu dari Nina, siapa tahu saja Freya bercerita pada Nuna. Bukannya menjawab pertanyaan Arby, Nuna langsung memarahi pria itu, karena membuat Freya terluka ... lagi.
"Mal, cobalah kamu bilang pada Nuna, jadi cewek tuh jangan galak-galak amat, nanti enggak laku, loh," ucap Arby, yang kembali duduk setelah puas pada Marcell. Sedangkan Marcell mendengkus, bajunya yang tadinya rapih, sekarang jadi lecek gara-gara Arby.
"Freya juga galak, tapi sudah lama laku," sahut Ikmal polos, sepertinya dia lupa sedang bicara dengan siapa, mengikuti jejak Marcell.
"Freya itu enggak galak, tahu!" Arby mendelik kesal pada Ikmal.
"Dia itu ekspresif, dan menggemaskan."
"Iya dah, apa pun yang ada pada diri Freya, selalu terlihat indah di matamu."
__ADS_1
"Iya dong, mataku. Masa matamu!"
Mereka geleng-geleng kepala. Susah memang, bicara dengan mantan duda yang satu ini.
"Aha, aku tahu kenapa Freya seperti itu."
"Kenapa?"
"Ar, jangan-jangan Freya lagi hamil."
Arby langsung tersenyum, tapi kemudian dia cemberut lagi.
"Enggak, Freya belum hamil."
"Kan Freya sebelumnya lagi datang bulan. Eh pas baru selesai, dia malah ngambek. Enggak dapat jatah kan aku. Ya ampun, Arjun dapat jatah libur tambahan."
Mereka langsung menertawakan penderitaan Arby.
"Marga, kamu jangan tertawa. Kamu tahu sendiri kan siapa istri kamu itu. Mungkin saja tidak lama lagi, kamu pun akan merasakan a yang aku rasakan."
Marva langsung diam. Apa yang dikatakan Arby memang benar. Gimana akrabnya istrinya itu pada Freya, yang sudah seperti saudara sendiri.
"Itulah masalahnya, kenapa para perempuan itu justru yang dekat dengan Freya. Freya itu bagai magnet, membuat yang lain tertarik dengannya. Lihat saja kan, Freya ke Inggris, yang lain malah ikut ke Inggris."
__ADS_1
Kuping para wanita itu terasa gatal.
"Pasti mereka lagi ngomongin kita, nih."
Nuna melirik Freya, dia ingin tahu, apa yang menyebabkan Freya marah pada Arby, tapi juga tidak ingin ikut campur sebelum Freya sendiri yang menceritakannya.
Tapi Freya juga tidak pernah mengeluh. Dia terlihat baik-baik saja.
"Kita jalan-jalan ke mall yuk. Tanpa para pria itu. Aku bosan melihat mereka terus menerus," ucap Nania.
"Kamu sama Marcell gimana?"
"Enggak gimana-gimana. Kan aku sudah bilang, dia hanya masa lalu. Dari dulu kelakuan begitu terus."
"Mungkin Marcell tidak bermaksud begitu, Nan."
Nania diam saja. Dia menghela nafas.
"Nanti kalau dia benar-benar melepas kamu, kamu baru nyesal, loh."
"Kenapa sih, kita semua harus terlibat dengan mereka."
Mereka sama-sama menghela nafas.
__ADS_1
Mereka juga bingung. Memang ada ikatan keluarga yang terjalin dengan para pria itu, meskipun mereka sendiri sebenarnya tidak suka. Freya sendiri tidak terlalu mengerti. Ngomong-ngomong soal ikatan keluarga, dia sepertinya pernah mendengar ini, tapi kembali, tidak ingat siapa yang pernah mengatakannya.