
"Freya!"
Semua orang panik saat Freya pingsan. Arby langsung mengangkat tubuh Freya ke sofa. Untung saja kepalanya tidak terbentur meja atau apa pun. Wajah Freya sangat pucat, membuat Arby sangat ketakutan.
"Sayang, jangan tinggalkan aku!"
Pria itu menangis sesenggukan. Tangan kokoh itu gemetar memegang tubuh Freya. Keringat dingin keluar dari tubuh Arby. Melihat kedua orang tuanya yang seperti itu, Chiro pun ikut menangis.
Dia tahu dak tahu apa yang terjadi dengan mommynya, tapi dia tahu sesuatu yang. Uruk sedang terjadi. Sachi pun ikut menangis, membaut suasana semakin panik.
"Ar, biar kami periksa dulu," ucap Nuna.
"Lepas!"
Arby tidak mau melepaskan dekapannya dari Freya.
"Sayang, bangun! Jangan tinggalkan aku dan anak-anak. Sachi masih bayi, masih butuh kehadiran mommy-nya. Jangan pergi, Sayang."
"Ar ...."
"Lepas!"
Arby terus saja mengguncang tubuh Freya.
"Berdiri dulu, Ar." Marcell menarik tubuh Arby, dan Nuna segera memeriksa Freya. Melihat ekspresi Nuna, semakin membuat Arby terisak, begitu juga dengan Chiro yang kini sudah dipeluk oleh Vanya.
Nania yang penasaran, akhir ya ikut memeriksa Freya, dan reaksinya sama seperti Nuna. Akhirnya, karena takut salah mendiagnosa, Rei dan Aruna juga diminta untuk memeriksa Freya.
"Lepaskan aku!"
Arby kembali memeluk Freya.
__ADS_1
"Sayang, jangan tinggalkan aku, aku mohon."
Arby sangat khawatir dengan keadaan Freya, yang akhir-akhir ini memang sering pusing dan sakit kepala.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa wajah kalian seperti itu?" tanya Anya.
"Marcell, coba kamu periksa Freya!"
Marcell akhirnya ikut memeriksa Freya, dan seketika wajahnya pucat.
"I ... ini ...."
Arby langsung muntah-muntah di tempat, akibat terlalu setres sepertinya.
"Sebenarnya ada apa, jangan membuat kamu panik!" ucap mamanya Freya yang juga sudah mulai ketakutan.
Kelima dokter itu langsung berembuk bisik-bisik.
"Sepertinya tidak."
"Apa ini benar-benar terjadi pada Freya?"
Marcell menutup mulutnya, wajahnya semakin pucat seperti tak berdarah.
"Apa yang kalian bicarakan? Freyaku tidak apa-apa, kan?" Arby mencengkram kerah baju Marcell.
Pluk
Plak
Bugh
__ADS_1
Tuk
"Awww! Kalian ini apa-apaan, hah!"
Arby baru saja dipukul oleh Nania, dilempar pakai bantal oleh Nuna, diketok oleh Aruna, dan ditendang oleh Marcell.
Sedangkan Rei, ingin ikut memukul Arby tapi segan. Dia tidak seperti sahabat-sahabatnya yang bisa cuek dengan pria itu, karena mereka memang sudah kenal dan cuek sejak lama dengan Arby.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada Freya, hah?" teriak Nuna murka.
"Tidak ada, memangnya apa yang akan aku lakukan kada istriku?"
"Freya bisa seperti ini akibat ulah kamu, Arby. Kamu sudah menyiksa Freya!"
Kali ini Nania yang ngamuk pada pria itu. Arby langsung melihat Marcell. Marcell menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang sudah saudaranya itu lakukan pada istrinya.
"Kamu sungguh keterlaluan, Arby. Bahkan Sachi masih kecil, tapi kamu menyiksa Freya!" Marcell menatap Arby dengan pandangan sangat kesal.
"Apa? Apa Freya mengalami KDRT?" tanya papanya Freya.
"Tidak! Itu mana mungkin terjadi, kalian jangan memfitnahku."
Arby tentu saja tidak terima difitnah seperti itu.
"Sebaiknya segera bawa Freya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut," ucap Nuna.
Nuna menatap iba pada Freya, begitu juga dengan sahabatnya yang lain termasuk Marcell.
"Jangan! Jangan bawa Freya ke rumah sakit!"
__ADS_1
Baca cerita terbaruku, ya🤗