Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
216 Saingan


__ADS_3

Arby sedang rapat dengan rekan bisnisnya di restoran hotel. Pria itu bersama dengan tangan kanannya yang ada di Jepang.


Freya juga baru akan ke restoran, karena sekarang waktunya makan siang. Dia tidak mau makan di kamar, karena bosan.


Sesampainya di restoran, Freya memesankan banyak sayuran untuk anak-anaknya. Untung saja anak-anaknya menyukai sayur, karena selalu melihat Arby dan Freya yang juga makan sayur.


"Mommy, mau tempe."


Untung saja Arby sudah meminta pihak restoran untuk menyiapkan segala jenis masakan Indonesia. Jauh-jauh ke Jepang, yang dicari malah tempe.


Sachi, Ichi dan Ishi dari jauh melihat Arby. Ketiga anak itu diam-diam menyelinap, saat Freya sedang sibuk menyebutkan menu yang mereka inginkan.


Ketiganya merangkak diam-diam ke Arby. Lalu saat sampai ke Arby ....


"Daddy, nih. Makan cendili gak ajak-ajak."


"Lapal, Daddy."


Ketiganya persis seperti anak yang ditelantarkan oleh ayahnya, memasang wajah imut menggemaskan sekaligus menyedihkan.


Daddy menghela nafas, untung para bocil pakai bahasa Indonesia. Coba kalau bahasa Inggris atau bahasa Jepang, bisa dikira Daddy tak bertanggung jawab, dia!


"Ini anak-anak Anda, Tuan Arby?"


"Benar sekali, ini tiga di antara anak-anak saya."


"Memang masih ada lagi?"


"Ada, kakak mereka, dan yang masih di perut."

__ADS_1


"Wah, Anda hebat sekali, ya."


Iya, dong. Arjun gitu, loh!


"Apa rahasianya bisa punya anak sebanyak ini? Saya juga ingin memiliki banyak anak, biar rumah saya ramai."


Arby diam berpikir, apa kira-kira jawabannya?


Diterawang, dilihat, diraba?


Atau ....


Diputar, dijilat, dicelupin?


Oh, jelas bukan, karena itu sudah umum.


"Awas kalau gak topcer, nanti dikarungin!"


Arby tanpa sadar terkikik geli.


"Tuan Arby?"


"Eh, iya? Hm ... tidak ada rahasia khusus. Hanya makan makanan yang sehat, rajin olahraga (dalam hati berkata, "Senam kasur, karena kalau senam lantai sakit.") dan jangan terlalu banyak pikiran. Kebetulan istri saya juga seorang dokter, jadi selalu memperhatikan kesehatan keluarga."


"Oh, jadi begitu. Bagaimana kalau nanti malam kita makan bersama. Ajak anak-anak dan istri Anda, saya juga akan mengajak istri saya."


"Boleh."


Mereka tidak sadar kalau Sachi dan si kembar sedang sibuk makan makanan Arby.

__ADS_1


Freya sendiri hanya menatap dari jauh. Anak-anaknya itu memang tidak bisa membuat mereka meleng dikit, langsung saja ngacir ke mana-mana.


Arby memesankan lagi makanan untuk dia, dan dari jauh mengedipkan matanya pada Freya, yang dibalas dengan kedipan dari nenek-nenek yang kemarin dibilang antik oleh anaknya.


Dih, nenek-nenek ganjen banget!


"Ayo Chiro, kita makan berdua saja. Adik-adik kamu itu memang tidak bisa diam."


"Oke, Mom."


Arby dan Freya suap-suapan, membuat Arby, Sachi, dan si kembar merasa iri. Wajah keempatnya sama-sama cemberut, seperti melihat gebetan yang didekati oleh pria lain.


Chiro tersenyum mengejek pada mereka, lalu memeluk Freya dari samping dan menjulurkan lidahnya pada mereka.


"Mom, ada apa nih di kepala Chiro?"


"Coba sini mommy lihat." Freya mengusap kepala Chiro, dan Chiro menahan tawanya pada Daddy dan adik-adiknya.


Freya tidak tahu saja, kalau para lelaki itu sebenarnya sering perang dingin untuk menguasai Freya dan bermanja-manja dengannya.


"Coba mommy cium pipi Chiro."


Cup


Arby mengepalkan tangannya.


*Aw*as nanti malam kalau kalian sudah pada tidur, Daddy mau bikin dedek baru buat kalian.


Lah, yang itu aja belum keluar!

__ADS_1


__ADS_2