
Acara baby shower itu sangat meriah, layaknya pesta pernikahan. Para tamu pria yang menggunakan pakaian berwarna pink sedangkan perempuan yang menggunakan. gaun biru membuat Freya tersenyum.
Ada juga kue besar yang berwarna pink dan biru. Juga ada banyak kado dengan berbagai ukuran.
Saat ini, Freya dan Arby disuruh memilih salah satu kado. Jika hadiahnya adalah perlengkapan bayi untuk anak laki-laki, maka bayinya laki-laki, begitu juga sebaliknya.
Ya, ini namanya tebak-tebak berhadiah, karena memang tidak ada yang tahu kalau bayi itu laki-laki atau perempuan.
"Yang, kita pilih yang mana? Yang paling gede aja?" tanya Arby.
"Jangan! Bisa jadi itu hanya tipuan."
"Maksudnya?"
"Kotaknya gede, eh isinya malah sepasang kaos kaki." Arby hanya manggut-manggut saja.
"Kalau begitu, kita cari yang paling berat."
"Jangan, itu juga bisa jadi tipuan. Pas dibuka isinya kotak lagi. Buka lagi, kota lagi. Buka lagi, kotak lagi. Gitu aja terus sampai kita menemukan sepasang sepatu bayi."
Arby kembali manggut-manggut.
"Kalau begitu, kita cari yang paling ringan dan kecil. Gimana?"
"Ck, itu mah bisa ditebak. Isinya bedongan bayi sehelai."
"Woy, apa kalian berharap menemukan emas batangan atau kapal pesiar di dalam kado itu?" tanya Ikmal kesal.
__ADS_1
Para tamu tertawa melihat pasangan suami istri itu. Untung saja mereka tidak tersinggung. Hadiah-hadiah itu memang dibawa oleh para tamu undangan. Tidak harus mahal, mereka boleh membawa apa saja yang berhubungan dengan bayi. Sebotol susu bayi pun tidak masalah, karena ini memang hanya untuk seru-seruan saja. Bahkan satu jepitan rambut yang dijual di Abang-abang mainan keliling juga tidak masalah.
"Kita ambil yang bungkus kadonya warna merah saja." Akhirnya Freya mengambil keputusan memilih warna kesukaannya.
"Ada banyak yang bungkusnya warna merah, Yang."
"Aku boleh buka semua yang warna merah?"
"Enggak boleh. Pilih salah satu, dong," ucap Vanya.
"Hm, aku boleh pegang dulu?"
"Ya ampun, emangnya kamu ngarep dapat apa, sih? Sertifikat tanah? Minta sama Arby sana."
"Ya kali saja ada yang mau ngasih saham ke calon anak aku, kan."
Freya hanya terkikik saja. Akhirnya Freya memilih kotak merah yang berukuran sedang. Dia dan Arby sangat antusias membuka hadiah itu dengan hati-hati.
Mereka melihat kardus mie instan. Lalu dibuka lagi, isinya kardus sabun colek.
"Tuh kan, benar kata aku. Jangan-jangan isinya sikat gigi bayi."
Mereka tertawa mendengar perkataan Freya.
Mereka membuka lagi, kini isinya kotak berwarna abu-abu. Mulut Freya sudah komat-kamit, membuat dia terlihat menggemaskan.
"Buka, buka, buka ...." Mereka menyemangati Arby dan Freya.
__ADS_1
"Arby, aku tidak sanggup melihat isinya!" ucap Freya memeluk Arby.
"Aku juga. Bagaimana kalau isinya hanya selembar kertas yang bertuliskan MAAF, ANDA BELUM BERUNTUNG. SILAHKAN COBA LAGI."
Mereka melihat kotak yang kini berukuran kecil.
Yang lain menepuk jidat mereka. Pasangan suami istri itu berpelukan sambil melirik kota itu dengan mata seperti sedang menerawang.
"Buruan buka napa!" ucap Marcell kesal.
"Apa kalian begitu penasaran?"
"Besok aja Yang, kita bukanya."
Rasanya ingin sekali mereka mencekik pasangan itu. Kotak-kotak hadiah itu memang dilarang menggunakan nama pemberinya, jadi kalau hadiahnya menyebalkan, mereka tidak bisa mengirim pembunuh bayaran untuk balas dendam.
"Hitung sampai seratus, baru kami buka!"
"Dasar kalian menyebalkan!"
"Seharusnya mereka yang penasaran, kenapa malah kita yang sengsara?"
Tamu yang memberikan hadiah itu hanya bisa menahan tawa. Karena tentu saja dia tahu apa isinya.
"Dah hadiahnya adalah ...," ucap Arby.
"Jreng jreng jreng ...," lanjut Freya.
__ADS_1
"Tunggu setelah iklan berikut ini!" sambung Chiro.