
"Sayang, kamu enggak apa-apa, kan?"
"Iya."
"Maafkan aku yang tidak bisa menjaga kamu dari Kekasaran mereka." Arby mendelik kesal pada yang lainnya.
"Freya, maafkan aku. Ini semua salahku."
"Iya, maafkan kami juga Freya."
Yang lain minta maaf semua. Siapa yang menyangka akan ada kejadian seperti ini. Walaupun sudah menahan emosi, tetap saja yang namnya kesal dan terpancing, akan mengalahkan akal sehat.
"Sudah, lupakan saja. Aku juga baik-baik saja. Kalau saja kalian ...."
"Sudah, jangan dibahas lagi."
Arby mengusap kepala Freya dengan lembut.
"Mana saja yang sakit? Apa kepala kamu terluka? Apa ada memar? Apa ada yang benjol? Apa ada yang terkilir?"
"Enggak ada."
Arby benar-benar tidak terima dengan apa yang terjadi pada istrinya. Dia yang selama ini menjaga Freya mati-matian, tidak pernah menyakiti Freya (pernah sih, dulu), sekarang malah orang lain yang menyakiti istrinya itu. Rasanya Arby benar-benar dendam.
"Kamu tidur ya, Sayang."
__ADS_1
Arby mengempok-ngempok Freya, yang langsung ditepis oleh perempuan itu.
"Jangan mesum."
"Enggak mesum, biar kamu cepat bobo."
"Emangnya aku bayi?"
Arby pura-pura enggak dengar.
Setelah Freya tidur, dia melihat mereka yang ada di ruangan itu.
"Maafin aku, Arby," ucap Nuna. Suaranya masih bergetar.
Arby menghela nafas kasar, dan duduk. Chiro juga sudah tidur di pangkuan Ikmal. Tidak ada wajah mulus di dalam ruangan itu.
Malam harinya Freya terbangun. Dia lalu berbisik-bisik pada Nania, Aruna Rei, Anya dan Vanya, takut Nuna bangun dan mendengarnya. Para pria juga ada di luar.
Yang lain hanya mengangguk-angguk saja saat Freya bicara.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Arby tiba-tiba, membuat Freya mengelus dadanya.
"Sayang, aku mau makan mie ayam bakso sama nasi goreng seafood dan karedok."
"Kamu mau makan sebanyak itu?" tanya Arby, tapi juga wajahnya tersenyum karena dipanggil sayang oleh bebeb Freya.
__ADS_1
"Lapar banget aku. Tenaga aku sudah terkuras karena perkelahian tadi."
Tanpa banyak tanya, Arby lalu menelepon pelayan di rumahnya untuk membuat makanan yang diinginkan Freya.
"Ingat ya, kalian tidak boleh lagi berkelahi seperti itu, apalagi sampai membahayakan Freya dan calon anak kami!" ucap Arby dengan sangat ketus.
"Halah, sok menasehati kami. Kalian sendiri para pria ikut ribut juga," jawab Nania.
Arby kembali ingin menyahuti, tapi pintu ruangan Freya terbuka.
Para pria yang wajahnya sudah diobati itu masuk. Mereka terhenyak di kursi.
"Jangan lagi ada yang ceramah. Kuping kami sudah sakit karena dari tadi terus saja dimarahi."
Nuna terbangun dari tidurnya, mengusap matanya yang bengkak dan masih sembab.
Mereka melirik Nuna. Gadis itu diam saja, merasa bersalah karena kejadian ini.
"Bukan salah kamu," ucap Ikmal menenangkan.
Tidak lama kemudian pelayan dari mansion Arby datang membawakan banyak makanan. Mereka makan dengan lahap, meski bibir terasa perih.
Tidak ada yang berani membahas perkelahian tadi. Tapi bukan berarti mereka tidak memikirkannya. Mico terus saja menghubungi orang-orang untuk menutup mulut mereka, sebelum berita itu tersebar luas.
Rei yang kalem saja sampai ikut berkelahi, membuktikan kalau yang terjadi ini benar-benar serius, bukan hanya perkelahian biasa saja.
__ADS_1
Anya dan Hanya juga takut pulang ke rumah, jadi mereka memutuskan untuk menginap juga di rumah sakit.