Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
35 Daddy Soleh


__ADS_3

"Tapi dia ...."


"Aku bilang cukup! Evan!"


"Ya, Tuan?"


"Pecat perempuan ini tanpa hormat, dan jangan beri dia pesangon."


"Baik."


"Tidak! Arby, jangan pecat aku. Aku minta maaf padamu."


"Ayo, Freya," ajak Erlang, tanpa peduli dengan permohonan Angel.


Nama doang bagus, tapi kelakuan minus.


Erlang menggenggam tangan Naya, namun wanita itu berusaha melepaskan genggaman tangan itu.


"Ayo, Chiro tahu kamu akan ke sini. Jangan bikin dia khawatir."


Naya menghembuskan nafas pelan, lalu ikut bersama Erlang ke ruangannya. Sedangkan Angel menatap kepergian mantan suami istri itu dengan perasaan yang sangat benci.


"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Erlang sambil memeluk tubuh Naya.


Entah mau menenangkan, atau modus, mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Bgaimana aku bisa baik-baik saja? Secara tidak langsung dia sudah menghina Chiroku, Ecanku."


Erlangga kembali mengingat perkataan menyakitkan nyonya Kunti. Dia juga sangat marah, apalagi dia yang sudah membesarkan Chiro sejak bayi, tentu saja tidak akan menerima ada orang lain yang menghina penyemangat hidupnya itu.


Erlang dapat merasakan tubuh Naya yang bergetar.


"Dah, kamu tenang, ya. Nanti Chiro khawatir melihat kamu yang seperti ini."


Seketika tubuh Naya menjadi rileks.


Sepertinya hanya Chiro saat ini yang mampu menahan emosinya.


Erlang dan Naya ke luar dari lift dan melihat Chiro yang duduk di samping Jasmine.


"Mommy, mommy."


"Ecan."

__ADS_1


Cup cup cup


Naya langsung mencium wajah Chiro.


"Mommy, kenapa lama sekali?"


"Maaf ya, Sayang."


"Jasmine, buatkan teh madu hangat."


"Baik, Tuan."


Mereka bertiga masuk ke ruangan Erlang, dan tidak lama kemudian Jasmine membawakan minuman untuk Naya dan Chiro, juga berbagai cemilan.


"Ecan ngantuk?" tanya Naya saat melihat Chiro yang menguap berkali-kali.


"Iya, Mommy."


"Kenapa tadi Ecan enggak tidur?"


"Ecan mau nunggu Mommy datang. Nanti kalau Ecan tidur, kasihan Mommy tidak ada yang menemani. Daddy kan sibuk kerja."


Naya tertawa, anaknya itu memang selalu pintar menjawab pertanyaan orang dan selalu menggemaskan.


"Ya sudah, ayo mommy temani Ecan bobo."


Mereka langsung masuk ke ruang pribadi Erlang, membuat duda ngenes itu iri setengah mati. Dia kan juga pengen diempok-empok kaya Chiro.


Anjir kuadrat, sabar napa Jun, jangan protes mulu.


Selama satu jam ini Erlang tidak dapat konsentrasi bekerja, selain karena sangat marah pada perbuatan nyonya Kunti yang menghina Freya dan Chiro, juga karena pengen bobo bareng dengan kedua manusia yang sangat dicintainya itu.


Si nyonya Kunti itu belum tahu saja kalau Freya itu cucu kesayangan tuan besar Zanuar yang sudah dididik sejak bayi untuk menjadi pewaris keluarga Zanuar. Sampah itu tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan Freyaku tercinta.


Erlang mengacak-ngacak rambutnya, matanya sesekali melirik pintu ruang pribadinya. Entah mengapa pintu itu sangat menggoda iman. Bukan pintunya, tapi lebih tepatnya siapa yang ada di dalamnya.


Erlang akhirnya menyerah, dia membuka pintu itu dan melihat Chiro dan Naya tidur berpelukan, yang lagi-lagi jiwa dudanya meronta-ronta.


Erlang kembali menutup pintu dengan hati-hati dan ke luar dari ruangannya.


"Evan!" panggil Erlang.


"Ayo pulang."

__ADS_1


"Kita enggak jadi lembur, Tuan?"


"Enggak, ada yang lebih penting dari lembur. Ayo ke ruanganku."


Evan mengikuti Erlang ke ruangannya, dalam hati merasa bingung, kenapa Erlang tidak menggunakan telepon saja untuk memanggilnya.


"Kamu tunggu di sini."


Evan mengangguk, sambil mengira-ngira apa yang harus dia lakukan nanti. Erlang membuka pintu ruangan pribadinya dan menggendong Chiro dengan hati-hati.


"Kamu gendong Chiro. Hati-hati, jangan sampai dia bangun."


"Ya, Tuan."


Erlang kembali masuk, lalu menggendong Naya.


"Kamu antar aku pulang."


Mereka menggunakan lift khusus Chiro, agar tidak ada yang melihat. Sesampainya di basedmant, Evan membuka pintu mobil Erlang. Erlang memasukan Naya lebih dulu, baru dia, setelah itu Chiro diketakkan oleh Evan dengan posisi Erlang yang ada di tengah.


Erlang menyandarkan kepala Naya di pundaknya, sedangkan kepala Chiro di atas pahanya.


"Pelan-pelan bawa mobilnya, nanti mereka bangun."


Evan hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Sesampainya di apartemen Erlang, Evan membuka pintu dan menggendong Chiro, sedangkan Erlang menggendong Naya.


"Kamu tunggu di sini."


Erlang lebih dulu meletakkan Naya di atas kasur, lalu mengambik Chiro dari gendongan Evan yang menunggu di depan pintu kamar, setelah itu Evan pamit pulang.


Erlang menatap wajah Naya yang terlihat sangat lelah. Erlang segera mandi, dan setelah itu kembali menyelip di antara ibu dan anak itu.


Enggak ada kapoknya dia, padahal waktu itu sudah dicemberutin oleh Chiro gara-gara dia di tengah.


Tanpa sengaja Naya memeluk Erlang, membuat pria itu senangnya bukan main.


Alhamdulillah, rezeki daddy soleh.


Chiro juga ternyata tak mau kalah, bocah menggemaskan itu ikut memeluk Erlang.


Tiap hari saja begini, aamiin.


Seketika tubuh Erlang menegang, tangan Naya menyentuh Arjun, begitu juga kaki Naya yang mengait di paha Erlang.

__ADS_1


Huft, sabar-sabar. Alamat mimpi basah nih semalaman. Ujian daddy soleh ya begini, nih.


__ADS_2