Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
77 Latihan


__ADS_3

"Ahhh ...."


"Ihhh ...."


"Uhhh ...."


"Ehhh ...."


"Ohhh ...."


"Errrgghh ...."


"Awww ...."


"Pelan-pelan."


"Hosh hosh hosh."


"Kencangan dikit."


"Lebih cepat lagi."


"Huft huft ...."


Suara helaan nafas dan ******* yang naik turun teratur lalu berantakan itu terdengar di salah satu ruangan yang cukup besar.


Peluh telah membasahi tubuh, namun tetap saja belum terasa puas.


Ikmal, Vian, Marcell, Marva, Mico dan Evan menggaruk tengkuk mereka saat mendengar suara itu.


"Chiro, tutup telingamu, jangan dengarkan suara mistis itu!" Ikmal menutup kedua telinga Chiro, tidak ingin keponakan lucunya itu ternoda.


Freya menatap tajam bangku Jasmine yang kosong.


Brak


Freya mendobrak pintu itu dengan kencang, padahal pintu tersebut tidak dikunci.


Bruk


Jika tadi adalah suara pintu yang didobrak, makan yang ini adalah suara Arby yang terjatuh karena kaget mendengar pintu ruang kerjanya didobrak.


"Arby, apa yang kamu lakukan!"


Dilihatnya pria itu yang tengkurap di lantai dengan keringat yang bercucuran. Freya langsung melihat ke kolong meja Arby, kamar mandi, kamar pribadi.


"Kamu belum nyari ke dalam kulkas, Ya," ucap Mico menyarankan, dan dengan polosnya Freya mengikuti perkataan Mico, mungkin juga karena sedang kesal maka pikirannya sedikit kacau.


"Emang nyari apaan, sih?" tanya Arby yang masih tetap tengkurap, mengumpulkan tenaga dulu.

__ADS_1


"Perempuan," jawab mereka serempak, kecuali Chiro tentunya.


"Kamu selingkuh ya? Main perempuan?"


"Dih, ngigo kamu, Beb. Orang aku sendirian di sini."


"Terus Jasmine ke mana?"


"Mana aku tahu, memangnya aku baby sitternya. Yang aku tahu hanya ada kamu di hati aku?" ucap Arby sambil mengedip-ngedipkan matanya.


Freya mengerucutkan bibirnya lucu, mau ketawa tapi gengsi, kan baru saja dia curiga sama suaminya. Tidak lama kemudian Jasmine datang membawa berkas yang tadi dia ambil dari mobil Arby.


Arby bangkit dari rebahannya.


"Yang, ponsel kamu mana?"


Tanpa banyak bertanya, Freya memberikan ponselnya.


Cekrek


Arby mengambil gambar dirinya dengan keadaan wajah yang bekeringat, rambut berantakan dan dasi yang longgar.


"Cowok kelihatan seksi nih, Yang, kalau begini. Buat wallpaper ponsel kamu."


"Terus kamu ngapain tadi berisik banget?"


"Masa?"


"Pasti kalian mikir mesum, kan? Nih ya, aku kasih lihat."


Arby langsung mengambil ancang-ancang untuk kembali push up.


"Ahh ... ihhh ... uhh ... ehh ... ohhh ... arrghh ... ehmm ... awww ... ishhh ...."


Ikmal langsung menutup kembali telinga Chiro dan menyuruhnya ke kamar pribadi Arby.


"Woy, Ar, kenapa kamu mendesah mendesuh begitu?" tanya Marva tak habis pikir dengan kelakuan sepupunya itu.


"Kan latihan pernafasan. Ya masa nanti saat malam pertama nafasku engap-engapan, bisa-bisa my bebeb jadi ilfil. Lagi sekalian mengetes, suaraku merdu, kan?"


Wajah Freya sudah merah padam, antara kesal, malu, lucu, tapi ikut membayangkan juga, sih.


Brugh


"Aw, sakit anjir!"


Arby langsung nyusruk ke lantai karena punggungnya didukuki oleh Marcell tak berakhlak itu secara tiba-tiba.


"Hehehe, kan sekalian latihan kekuatan," ucapnya dengan wajah tanpa dosa.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, kalian mau ngapain ke sini?" tanyanya pada Ikmal, Marcell, Vian, Marva dan Mico, setelah dia mendorong badan Marcell.


"Ck, gimana sih, kan kita mau meeting."


"Masa?"


"Kamu lupa, Ar?"


"Iya, karena yang ada dalam ingatanku hanya Freya," kembali dia menggombal, ingin menunjukkan bakat lain yang dia miliki.


"Dih, geli," ucap Mico.


"Terus kamu ngapain, Mic?"


"Aku ke sini sama Freya, tadi kami habis dari pabrik."


Arby mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa enggak ngajak-ngajak?"


"Kamu kira kami jalan-jalan!"


Arby, Ikmal, Marcell, Vian dan Marva meeting di ruangan kerjanya Arby, sedangkan Freya dan Mico juga ada di ruangan itu namun membahas pekerjaan mereka berdua.


💕💕💕


Arby melihat mansion mewah di hadapannya. Mansion yang dulu pernah dia rencanakan untuk ditempati bersama Freya sebelum mereka berpisah dulu.


Mansion yang tidak pernah dikunjungi apalagi ditempati. Namun sekarang, setelah kedatangan Freya kembali, dia sudah mulai menyiapkan kembali mansion ini.


Ini akan menjadi istana untuk keluarga kecilnya. Tempat dia menua bersama istrinya, bermain dengan anak-anaknya dan semua rancangan masa depan yang selalu dia pikirkan, akan dia lakukan bersama Freyanya terkasih.


"Selamat datang, Tuan."


Sapaan dari pelayan, pengurus kebun, satpam diberikan kepada Arby. Meski dia tidak pernah menempati mansion ini, bukan berarti tidak ada orang yang mengurusnya. Bahkan bunga-bunga di sini tumbuh dengan subur.


Semua yang bekerja di sini sudah berumur di atas tiga puluh lima tahun. Itu Arby lakukan agar tidak ada perempuan muda yang menggodanya, bukan karena dia mudah tergoda, tentu saja tidak. Dia melakukan itu untuk menjaga perasaan istrinya, menjaga keharmonisan rumah tangganya dan menghindari konflik.


Jika sudah ada bisikan setan, bisa saja Freya curigaan dengan pelayan perempuan yang masih muda. Dia saja yang laki-laki sering cemburu jika ada pria lain yang berbicara dengan Freya, mau itu sesama dokter, pasien, maupun rekan bisnis.


Arby masuk ke dalam, melihat foto akad pernikahan dia dan Freya. Gaya mansion ini minimalis modern yang juga tidak terlalu banyak perabot yang tidak terlalu penting, sesuai dengan gaya Freya yang simple.


Arby memasuki kamarnya dan Freya, dan begitu membuka pintu, foto berpigura besar langsung menyambut kedatangannya.


Bukan foto pernikahan mereka, baik dulu maupun sekarang, melainkan foto saat mereka masih kecil. Kira-kira Freya berusia tiga tahun dan Arby empat tahun. Foto yang diambil saat perayaan ulang tahun kakeknya Arby.


Arby menatap lekat foto itu sambil tersenyum. Di foto itu Freya menggunakan hiasan kepala berbentuk mahkota kecil, dengan baju ala putri bangsawan berwarna putih, sedangkan dirinya memakai jas berwarna putih dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam.


Mereka terlihat seperti pengantin kecil.

__ADS_1


__ADS_2