
Monic membangunkan Letta, Zilda dan Kirei. Rasa cemasnya membuatnya tak bisa tidur.
"Naya ke mana, ya?"
"Teman-teman kita yang lain juga gak ada yang tahu. Seharusnya, kalau bukan pulang ke apartemen ini, ya dia ke tempat Chiro."
"Apa dia pulang ke rumah orang tuanya?"
"Itu ada di daftar terakhir kemungkinan yang Naya lakukan. Dia masih terlihat kaku dengan keluarganya."
Monic dan Erlang masih menunggu di tempat masing-masing.
Jam lima tiga puluh pagi
Ponsel Erlang berbunyi.
My Wife Calling
"Mommy telp, Daddy. Speaker! Cepat Daddy, cepat!"
Erlang langsung menspeaker ponsel tersebut.
"Halo?"
Terdengar suara laki-laki.
Erlang, Chiro, Ikmal, Vian, Marcell, Marva dan Evan saling menatap.
"Halo?" balas Erlang.
"Apa benar ini pasien gadungan?"
Hah?
"Apa?"
"Eh, maaf, Pak. Pemilik ponsel ini menamai kontak ini dengan nama Pasien Gadungan."
Ikmal, Marcell, Vian, Marva dan Evan tertawa tanpa sadar.
Erlang ingin tertawa, juga merasa kesal dan gregetan, tapi rasa khawatir dan bingungnya lebih dominan.
"Pak?"
"Ya, saya Arby Erlangga. Ini siapa ya? Kenapa ponsel istri saya ada sama Anda?"
"Saya ingin memberitahukan, bahwa istri Bapak mengalami kecelakaan, mobilnya terjun ke sungai."
Deg
Erlang seperti mati berdiri.
Tidak ada tawa lagi di wajah Ikmal dan yang lain, yang tadinya ingin meledek Erlang yang mengaku-ngaku sebagai suami Freya.
"Halo? Halo, Pak?"
"Bagaimana keadaanya sekarang?" tanya Ikmal mengambil alih.
"Korban dibawa ke rumah sakit terdekat."
"Terima kasih atas informasinya, kami akan segera ke sana."
"Cell, kamu di sini saja menjaga Chiro," ucap Erlang dengan suara bergetar.
"Enggak mau, Daddy. Chiro mau ikut ke tempat mommy."
"Tapi Chiro lagi sakit, Chiro juga belum tidur dari kemarin pagi."
"Pokoknya Chiro mau ikut!"
"Ajak saja, Lang. Lagi pula di sini nanti dia nangis terus, malah bikin dia tambah sakit."
"Ya udah, ayo."
__ADS_1
Mereka menggunakan dua mobil. Ikmal langsung menghubungi Nuna.
"Halo, Nun. Kamu sudah tahu belum?"
"Tahu apa?"
"Freya kecelakaan, mobilnya terjun ke sungai."
"A ... apa? Terus bagaimana keadaannya?" Monic menangis, membuat sahabat-sahabatnya langsung khawatir.
"Untuk pastinya kami belum tahu, ini lagi dalam perjalanan menuju rumah sakit."
Sementara Ikmal menghubungi Nuna, Marva juga menghubungi orang tua Erlang yang selanjutnya menghubungi keluarga Naya.
"Ada apa, Mon?" tanya Zilda.
"Naya kecelakaan, mobilnya terjun ke sungai."
"Apa? Terus bagaimana keadaan Naya?"
"Dia dibawa ke rumah sakit terdekat. Belum tahu kondisi pastinya bagaimana."
"Ayo kita ke sana sekarang."
Tanpa mandi, dan hanya berganti dari baju tidur saja, mereka langsung pergi ke rumah sakit.
Kelompok Erlang tiba lebih dulu, dan tidak lama kemudian kelompok orang tua Erlang dan Monic.
Cukup lama dokter berada di ruangan UGD, membuat mereka semakin gelisah. Tidak lama kemudian dokter ke luar.
"Bagaimana, Dok?"
"Pasien mengalami patah tulang dan kehilangan banyak darah. Harus segera dilakukan operasi dan pemeriksaan lebih lanjut."
"Kami ingin memindahkannya ke rumah sakit ZA Hospital."
Rumah sakit itu merupakan rumah sakit internasional milik oma Naya yang dulunya juga seorang dokter.
Tiga puluh menit kemudian Naya dipindahkan dengan ambulans.
Berita kecelakaan dokter Naya langsung tersebar di kalangan para dokter, baik yang ada di Jakarta maupun di Inggris, termasuk para profesornya.
Para profesor itu langsung terbang ke Jakarta saat itu juga.
.
.
.
Entah sudah berapa lama mereka menunggu di ruang operasi. Keluarga Naya sudah mendonorkan darah mereka untuk berjaga-jaga jika nanti dibutuhkan transfusi darah lebih banyak.
Akhirnya, setelah sekian lama menunggu, pintu ruang operasi terbuka.
"Bagaimana, Dok?"
"Sebenarnya, operasi berjalan dengan lancar. Tulang-tulang yang patah masih bisa diselamatkan hingga tidak perlu dilakukan amputasi, namun pasien koma."
Mereka menarik nafas antara lega dan sedih. Apa jadinya jika Naya cacat? Semangat hidupnya pasti akan hilang jika tahu bahwa dirinya harus berada di atas kursi roda seumur hidup.
"Nanti pasien akan dipindahkan ke ruang ICU. Kami juga tetap akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut."
.
.
.
.
Erlang menatap Naya dari jendela ICU. Rasanya dia tidak sanggup untuk berada di ruangan itu. Chiro tak henti-hentinya menangis.
Ruangan ICU Naya memang ruangan VVIP. Di mana di bagian luar ruangan itu adalah ruang tempat keluarga pasien menginap dengan fasilitas lengkap layaknya apartemen mewah. Setelahnya baru pintu menuju luar, jadi yang ingin masuk ke ruang ICU Naya, pasti akan melewati ruangan besar itu.
__ADS_1
Mereka berkumpul di ruangan itu, tidak ada yang mau pulang, terutama Chiro. Pintu ruangan terbuka, seorang dokter senior masuk.
"Ada yang harus saya bicarakan dengan tuan Wildan."
"Ada apa, Dok?"
"Ini menganai kesehatan nona Freya."
Terlihat raut wajah dokter yang sangat serius, bahkan cenderung cemas.
"Sebaiknya kita bicarakan di ruangan saya."
"Tidak, bicara saja di sini. Aku ingin mendengarnya," ucap Erlang.
"Kami juga ingin mendengarnya," ucap Monic yang diangguki oleh Zilda, Letta dan Kirei.
Dokter melihat Wildan yang menganggukkan kepalanya, tanda setuju.
"Baiklah, begini ... setelah melakukan CT-Scan, kami menemukan ada masalah di bagian otak dokter Freya."
"A ... apa? masalah? masalah yang seperti apa?"
"Begini ...."
Namun sebelum dokter menjelaskan, pintu ruangan kembali terbuka.
"Bagaimana keadaannya?"
"Profesor?" ucap Monic, Letta, Zilda dan Kirei.
Di hadapan mereka kini berdiri tiga orang profesor mereka.
"Kenapa profesor tiba-tiba ada di sini?"
"Kami ingin melihat kondisi Naya."
Mereka cukup bingung melihat ketiga profesor itu yang terlihat sangat peduli dengan Naya. Namun ada yang lebih penting, yaitu mendengar penjelasan dokter Handi.
"Begini, dari hasil permeriksaan, terdapat masalah di bagian kepala nona Freya."
"Masalah apa, Dok?"
"Nona Freya mengalami edema serebral."
Deg
Monic, Letta, Zilda, Kirei dan Marcell saling pandang. Tentu saja mereka mengerti apa dan bagaimana itu edema serebral, meskipun bukan spesialis di bidang tersebut.
"Apa itu edema serebral, Dok?"
"Apa berbahaya?"
"Tentu saja berbahaya, bila tidak segera ditangani. Hal ini bisa menyebabkan kematian. Edema serebral adalah pembengkakan otak."
"Ta ... tapi bagaimana bisa, Dok?"
"Begini ... pembengkakan otak bisa terjadi karena beberapa faktor. Pembengkakan otak ini terjadi karena adanya timbunan cairan yang berlebihan di dalam jaringan otak, sehingga bisa menyebabkan kematian. Pembengkakan ini dapat mencegah darah yang mengalir ke otak, yang menyebabkan otak tidak bisa mendapat pasokan oksigen yang cukup. Pembengkakakn ini juga bisa menghalangi cairan lainnya ke luar dari otak, hingga membuat edema serebral ini menjadi semakin parah. Masalah yang lainnya, edema serebral ini bisa terjadi di bagian otak tertentu, juga di seluruh bagian otak, tergantung penyebabnya."
Dokter menghembuskan nafas perlahan setelah menjelaskan pada orang-orang yang berwajah tegang di hadapanny itu.
.
.
.
.
Seharusnya aku up dari dua hari yang lalu. Tapi menulis bab ini, dan bab-bab selanjutnya butuh mood yang bagus, juga konsentrasi yang tinggi. Digangguin dikit aja aku langsung sewot😂
Kalian bacanya cepat, enggak nyampe lima menit dah kelar. Tapi aku butuh berhari-hari. Nulis hapus nulis hapus, jadi maaf ya klo lama.
Yang mau ninggalin jejak, tengqyuuu banget.
__ADS_1