
"Asal kalian tahu, ya. Mereka itu pergi ya karena kemauan mereka sendiri. Bukan aku yang mengajak mereka. Makanya jadi cowok tuh jangan egois, licik lagi!"
Freya melengos melewati mereka dan masuk ke kamar Chiro.
"Chiro, di mana aunty kamu?"
"Chiro bukan pengkhianat, uncle. Cari tahu saja sendiri."
Chiro ikut-ikutan melengos dan melewati mereka, masuk ke kamarnya juga.
"Dasar, emak dan anak sama saja!"
💦💦💦
Arby terus saja mengintili Freya ke mana saja istrinya itu pergi, termasuk ke kamar mandi. Dia juga mengutus pengawal berjaga di rumahnya, agar anak dan istrinya itu tidak pergi lagi.
Saat ini Freya sedang duduk selonjoran di depan kolam renang. Dan para pria itu tiap hari selalu mendatangi dia, bahkan menginap di rumahnya, hanya untuk bertanya di mana Nuna dan yang lain.
"Sayang, kamu lagi baca apa?"
"Novel."
Sejak kembali dari kepergiannya, Arby sering melihat Freya membaca buku. Perempuan itu terlihat serius membaca buku itu. Kadang tersenyum, tertawa, bahkan kelihatan sedih dan menangis.
Arby melihat perut Freya yang sedikit membuncit, dan merasa hangat di dadanya. Dia ingin membicarakan masalah kejadian di kamar itu dengan Freya, tapi takut mood ibu hamil itu menjadi rusak, tapi diam saja juga tidak akan baik untuk kedepannya.
"Sayang, soal di kamar hotel itu ...."
Belum sempat Arby selesai bicara, Freya sudah cemberut.
__ADS_1
"Aku tahu! Tapi enak saja kamu lihat perempuan lain pakai lingerie, kamu juga cuma pakai handuk."
Mata Freya langsung berkaca-kaca.
"Enggak, Sayang. Aku enggak tahu kalau itu salah kamar. Bukan salah aku. Sumpah, aku enggak mungkin mengkhianati kamu."
"Jangan lagi lihat perempuan lain berpakaian seksi."
"Iya."
Freya malah melengos. Tidak mungkin juga tidak akan melihat perempuan lain berpakaian seksi. Kalau mereka jalan-jalan ke pantai, sudah pasti banyak yang berpakaian minim, apalagi kalau di luar negeri, banyak yang hanya menggunakan bikini saja. Entahlah, akhir-akhir ini dia sangat sensitif dengan yang namanya perselingkuhan.
💦💦💦
"Kenapa kamu masih di sini?" Tanya Freya dengan ketus kepada Jasmine.
"Sayang, kamu tenang dulu ya, aku sudah mengurus semuanya."
CEO dari perusahaan lain itu melirik Freya yang terlihat cantik, dengan perut yang sedikit membuncit dan menggunakan dress tanpa lengan berwarna merah, yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Tentu saja CEO itu tahu tentang berita mengenai Arby.
Mereka cerai pun, banyak yang mau dengan jandanya. Gila, memang cantik banget. Bego lah si Arby kalau benar-benar selingkuh.
Setelah rapat selesai, Arby lalu menjelaskan semuanya pada Freya, agar istrinya itu tidak salah paham lagi.
Flashback On
"Kamu keluar dari perusahaan saya!"
"Tolong, Pak. Jangan pecat saya!"
__ADS_1
"Tuan, Jasmine ...."
"Evan, kamu mau membela dia dan melawan atasan kamu?"
Arby tidak peduli. Dia biasanya tidak menganggap Evan itu bawahannya, karena dulu mereka satu kampus di Jepang. Tapi kali ini, Arby memberikan batasan, agar Evan tidak ikut campur, apalagi ini menyangkut rumah tangganya yang dalam keadaan genting.
Evan menunduk, dia tidak ingin membantah Arby, tapi juga tidak tega dengan Jasmine.
"Kalau kamu tidak mau saya pecat, ada syaratnya. Mau atau tidak?"
"Baiklah, asal saya jangan dipecat."
"Benar?"
"Iya, Tuan, karena saya sangat membutuhkan pekerjaan ini."
Arby lalu mengatakan apa yang harus Jasmine lakukan.
"Apa? Tapi ...."
Jasmine dan Evan saling lirik, kenapa pilihannya begitu sulit.
"Saya beri waktu satu hari memikirkannya."
"Tapi ...."
"Keluar kalian berdua."
Flashback Off
__ADS_1