Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
198 Terharu?


__ADS_3

"Ini sudah pagi, kenapa belum ketemu juga? Mereka sudah makan belum? Tidur di mana? Kalau bangun tengah malam enggak ada kita, gimana? Kalau buang air, gimana?"


Arby memejamkan matanya mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari Freya. Wajah Freya sudah pucat, tidak mau tidur semalaman.


Polisi sudah mencari ke seluruh area, tapi belum ketemu juga.


"Mereka enggak mungkin tenggelam, kan? Coba minta tim SAR cari. Enggak, enggak mau, pokoknya mereka enggak boleh tenggelam." Freya menjerit ketakutan. Mereka berusaha menenangkan Freya, tapi tentu saja itu sangat susah.


Area pantai terlihat menegangkan. Para pengunjung pantai hanya mendengar desas-desus kalau ada anak kembar yang hilang, tapi anak siapa?


"Jangan-jangan anak kecil yang waktu itu kita lihat."


"Yang lucu-lucu itu?"


"Iya, mereka kembar, kan?"


"Oh iya, kayanya kemaren aku sempat melihat sekilas, kalau mereka jalan ke arah sana."


"Serius? Ayo lapor sana, kasihan kedua orang tuanya, pasti sangat khawatir."


Mereka akhirnya melaporkan apa yang salah satu teman mereka itu lihat. Polisi segera menuju arah yang ditunjuk. Itu adalah pemukiman yang cukup sepi dan terlihat kumuh.


Arby mengikuti polisi, berharap kalau anak-anaknya ada dalam keadaan baik tanpa kekurangan suatu apa pun.


Di tempat si kembar


"Om, nyali ubul-ubul, yuk."


"Ubul-ubul, ubul-ubul, jangan makan mulu, nanti gembul."


"Dalipada malah-malah mulu."


"Makan pangkal ...."


"Gemuk."


"Malah pangkal ...."


"Tua."

__ADS_1


"Kalau tua ...."


"Giginya tinggal dua."


"Lekdung ... lekdung ...."


"Aaa ... balikin aja nih para kurcaci ke habitatnya!"


Brak


Orang-orang yang ada di dalam rumah itu langsung kaget.


"Daddy ... Daddy!"


Arby langsung memeluk si kembar, mencium kedua pipi mereka.


"Kalian membuat kami cemas. Mommy sampai nangis mikirin kalian."


"Kami kan diajak om-om nyali ubul-ubul. Ketemunya kepiting."


"Belalti kalau nyali kepiting, ketemunya ubul-ubul, ya?"


"Om, Om, ayo nyali kepiting."


"Daddy, Om Jan, Jon, Jun, tapi enggak ada Jin, macakin kami makanan. Enak, Dad."


Arby lalu melihat meja kayu yang sudah isang iri penuh dengan makanan.


Bukan makanan asal-asalan, tapi ada ayam, ikan dan jenis seafood lainnya. Juga ada buah-buahan dan sayur.


"Kalian sindikat penculikan anak?"


"Bukan!"


"Baru kali ini kami nyoba nyulik anak."


"Tapi malah apes."


"Bawa pulang aja, Pak. Kami nyerah."

__ADS_1


Mereka mengeryitkan keningnya.


Menyerah?


Polisi lalu menggeledah rumah itu, tidak ada anak lain di dalamnya.


"Aap kalian mendapatkan uang untuk membeli makanan ini dari hasil menculik anak?" tanya Arby penasaran.


"Jangan sembarang Pak, kalau ngomong. Nanti kami tuntut."


"Itu dari hasil malak pedagang di pasar."


Arby langsung melebarkan matanya.


"Kalian memberi makan anak-anak saya dari hasil malak? Nanti kalau perut anak saya buncit, gimana? Hah?"


"Kan emang udah buncit."


"Cembalangan, kami enggak buncit ...."


"Tapi gemoy Om, gemoy."


"Mereka ini preman pasar, yang biasa malak dan nyopet," ucap pengurus dusun di sana.


"Om-om ini baik, Daddy. Kacih kita makan."


"Kacih baju balu juga."


Jan, Jon dan Jun yang mendengar langsung terharu, baru kali ini ada yang mengatakan mereka baik. Biasanya orang-orang selalu takut dan menghindar dari mereka.


"Ayo Dad, kita ajak ke mall."


"Telus kita jual, uangnya buat beli pelmen."


ENGGAK, ENGGAK JADI TERHARU!


.


.

__ADS_1


.


Mau aku biarin mereka diculik sebulan, bisa pingsan tiap hari tuh, si 3 J 🤣


__ADS_2