Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
127 Tinggal Bersama


__ADS_3

Sambil makan rujak, Freya melihat dan bahagia Ikmal dan yang lain panjat pohon kelapa, kecuali Arby, karena Freya berkata, "Bagaimana mungkin aku membiarkan daddy dari anakku menderita?"


"Kalau begitu, biar aku saja yang menjadi daddy dari bayi kamu," jawab Marcell, yang langsung mendapat toyoran dari Arby, dan wajah cemberut dari Chiro.


Perempuan hamil itu sepertinya selalu tahu bagaimana membuat hati orang kesal. Apalagi suaminya! Lihat saja, si Arby malah mengundang para perempuan untuk melihat para pria itu melakukan ngidam Freya.


"Biar mereka tahu, kalian lemah atau tidak."


Enteng sekali bicaranya, coba saja kalau istri pria lain yang memintanya seperti itu. Pasti doa akan langsung berkata, "Bukan aku yang menghamili kamu! Kenapa aku yang kamu bikin susah?"


Ini, sudah yang kedua kalinya Freya merepotkan mereka pada masa kehamilan. Dulu hamil Chiro, sekarang adiknya.


Mereka belum balas dendam, karena belum punya istri, kecuali Marva, yang pastinya juga enggak berani macam-macam pada Arby dan Freya.


Chiro beberapa kali tertawa, melihat para uncle mereka yang terus menerus merosot.


Tadinya Freya mau merekam semua itu, tapi langsung diprotes.


"Enggak apa Yang, kan di sini banyak CCTV. Mereka juga enggak tahu saja, kalau di pohon kelapa itu aku pasang CCTV."

__ADS_1


"Kamu ngapain pasang CCTV di pohon kelapa?"


"Ya kali saja, nanti Asisten rumah tangga kita ada yang pacaran sama pengawal di kebun. Diam-diam tahu-tahu hamil."


Freya manggut-manggut saja. Nuna dan yang lain tertawa geli, saat akhirnya para pria itu merosot dari pohon kelapa, setelah sebelumnya menjatuhkan buah kelapa untuk diminum. Bukan diminum oleh Freya, tapi mereka sendiri.


Marcell berjalan dengan kaki gemetaran. Sedangkan Vian, tangannya terasa kaku. Yang lain ada yang lehernya keram.


Mereka mendengus melihat Freya yang makan kripik singkong buatan sendiri dengan bunyi kriuk-kriuk, seolah kripik singkong itu juga ikut meledek mereka.


Mereka melihat ke sekeliling. Memang banyak pohon buah dan sayur.


"Mereka mau ngapain?" tanya Aruna.


"Membersihkan kebun. Biar tidak ada ular," jawab Arby.


Mendengar kata ular, para perempuan itu pada merepet.


Arby mengelus perut Freya.

__ADS_1


"Dedek mau apa lagi? Mumpung para uncle ada di sini. Apa mereka daddy suruh tinggal di sini saja sampai kamu lahir, ya? Habis itu kita usir?"


"Iya, Daddy," sahut Chiro.


"Chiro mau uncle-uncle menginap di sini?"


"Iya. Biar mereka bisa antar jemput Chiro. Jadi Daddy enggak kelelahan dan bisa menjaga mommy dan adik bayi."


"Kami sibuk!" jawab mereka serempak.


"Sibuk apaan, anak istri saja enggak punya."


Radhi dan Raine tentu saja langsung mau tinggal bersama Chiro. Jadi mereka bisa pulang pergi ke sekolah bersama, juga mengerjakan PR bersama. Kedua anak itu langsung melompat senang.


"Kakek juga mau tinggal di sini saja," ucap Frans.


"Tapi jangan bikin rusuh, ya!" ucap Arby. Dia masih kesal sama kakeknya dulu, karena pernah memarahi Freya. Rei menjadi tidak enak hati, karena dia juga menjadi penyebab masalah itu datang.


Rumah Arby akhirnya tinggali banyak orang. Tugas koki menjadi lebih berat, karena harus memasak banyak setiap hari, karena Arby hanya mau memasak untuk Freya dan Chiro saja. Bukannya dia tidak mau memasak untuk kedua orang tuanya, tapi nanti waktunya menjadi berkurang untuk memeluk Freya.

__ADS_1


Yeee, sama saja!


__ADS_2