Jarak (Dikejar Hot Duda)

Jarak (Dikejar Hot Duda)
207 Terharu


__ADS_3

Arby menatap dengan songit orang-orang yang ada di hadapannya.


"Pergi sana kalian! Aku mau we time dulu sama my bebeb. Mau bikin anak."


"Bikin anak, bikin anak! Yang di dalam aja belum keluar."


"Pokoknya enggak boleh ngisor kami. Anak-anak kamu bilang, kalian lagi terkena virus, makanya kalian mengungsikan mereka ke rumah opa mereka."


"Iya, katanya kami harus menjaga kalian 24 jam."


Ar y melebarkan matanya, dia kan mau berduaan saja sama istrinya, kenapa para perusuh raksasa ini malah datang, setelah dia berhasil mengirim anak-anaknya ke rumah orang tuanya.


Ternyata ada lagi yang lebih curang dari dirinya, yaitu anak-anaknya sendiri.


"Bodo amat, dah. Terserah mau di sini apa di mana juga." Arby langsung memeluk Freya, mengecup pipinya yang chubby.


"Kamu wangi banget, sih, Yang. Pengen melukin kamu terus jadinya."


Yang lain mendengus, dasar gak lihat tempat.

__ADS_1


"Lihat-lihat tempat kalau mau mesra-mesraan."


"Lah, ini kan rumah kami. Sirih siapa kalian datang. Pulang sana!"


"Duh, kantor aku bikin gemes banget, sih." Arby semakin memanasi mereka.


Freya berdecak kesal. Mereka ini, termasuk suaminya sendiri, selalu saja merusuh.


...🌼🌼🌼...


Arby tidak mau pergi ke kantor, dia ingin bersama istrinya saja yang juga ada di rumah. Pria itu mengusap-usap perut Freya yang semakin membesar. Rasanya sudah tidak sabar menunggu kelahiran anak kelima mereka. Arby akhir-akhir cukup baper. Kadang dia suka menangis diam-diam. Dia benar-benar bersyukur dan merasa terharu, bisa mendapat anugerah sebesar ini. Entah apa jadinya dia dan Chiro jika tidak bertemu dengan Freya lagi, pasti akan sangat hampa.


Ditanya seperti itu, bukanya membuat Arby berhenti mengajar, malah membuat tangisannya semakin besar.


"Aku terharu, Yang. Kamu benar-benar anugerah terindah dalam hidupku." Pria itu memeluk Freya dengan erat. Nafasnya sedikit sesak, tapi tetap saja di sesenggukan.


Freya mengusap punggung Arby, di malam yang pencahayaannya remang-remang ini, sepasang suami istri itu berbagi perasaan. Arby masih tidak pernah menceritakan pada Freya kalau dia sudah membaca buku harian itu. Bahkan setiap kali dia tidak bisa tidur, dia akan diam-diam membacanya lagi, dan lagi.


Tidak pernah ada kata bosan. Seolah dengan melakukan itu, dia sedang bernostalgia dengan Freya, mengenang masa lalu yang penuh warna. Hitam, abu-abu, putih, dan semakin lama semakin berwarna.

__ADS_1


Hanya dengan memeluk Freya saja, rasanya tidak puas mengekspresikan semua perasaannya. Mengungkapkan kata cinta setiap hari, dirasa tidak pernah cukup.


Mereka masih berpelukan dalam diam, merasakan getaran di tubuh Arby yang masih menangis. Sidah banyak cobaan yang mereka hadapi untuk sampai ke tahap ini. Bukan hanya untuk Arby saja, tapi juga untuk Freya.


Dunia yang dulu begitu gelap bagi Arby saat ditinggalkan oleh Freya, kini terang benderang.


Wajah Arby sudah sangat sembab. Doa mengelus rambut Freya. Rambut yang dulu pernah tidak ada karena penyakit yang dialami oleh istrinya itu, kini timbul semakin indah di penglihatan Arby.


Semua yang ada pada diri Freya adalah keindahan. Mau perempuan itu sedang senang, tertawa, atau marah karena gemas dengannya atau anak-anak.


Arby terus memandangi wajah cantik yang kini telah tidur itu. Mengecup seluruh area wajah Freya dengan lebih kasih sayang dan cinta.


.


.


.


Selamat menjalankan ibadah puasa untuk yang menjalankan. Semoga ibadahnya lancar, ya.

__ADS_1


__ADS_2