
Bel apartemen Monic berbunyi. Sekarang adalah jadwal mereka tidur di apartemen monic. Kirei membuka lintu, dan nampaklah enam sosok pria dewasa dan tiga anak kecil.
"Yang kain ada, kan?" tanya Ikmal.
Gadis pendiam itu mengangguk dan mempersilahkan mereka masuk.
"Mau ngapain, sih, pada ke sini?" tanya Monic pada Arby dan Ikmal.
Pada dasarnya dia dengan Arby dan Ikmal tidak bermusuha, tapi jika harus memilih berada di lihak mana, tentu saja dia akan selalu berdiri di sisi Freya.
Sedangkan hubungan dia Monic (Nuna) dengan Marcell dan Vian memang tak akur sejak SMP dulu.
"Jangan galak-galak, kami baru datang dari Jakarta," ucap Marcell.
"Nih, kami bawakan oleh-oleh dari Jakarta," sambung Vian.
Para pria itu kini memperuatikan bahwa kelima dokter tersebut menggunakan daster. Daster yang mereka beli saat seminar di Jakarta.
Letta dengan semangat membuka barang-barang tersebut.
Cumi asin, ikan asin, jengkol, pete, terasi, emping.
"Serius, cuma ini yang kalian bawa?"
"Kami juga bawa cabe, bawang merah, bawang putih, hmmm, apa lagi ya?" kata Ikmal.
"Kenapa kita kaya anak kos yang dibawakan hasil panen dari kampung sama enak bapaknya, ya?" tanya Zilda.
Para pria itu terkekeh.
"Mommy, Mommy sakit?" tanya Chiro, mengalihkan perhatian semua pada Naya, yang berwajah pucat.
"Enggak, Mommy hanya kelelahan dan masuk angin saja."
"Kamu masuk angin, Frey? Sini aku kerok, keroknya pake bibir, ya. Terus aku pijit, pijit plus-plus."
Erlang langsung melotot pada orang-orang yang ingin menoyornya.
Naya diam saja, tidak ingin meladeni kemesuman sang duda.
Para wanita, kecuali Naya, memasak apa yang dibawa dari Jakarta.
Chiro sebagai anak yang cerdas, tahu bukan saatnya dia bersikap manja pada mommynya. Dielusnya kening Naya saat perempuan itu tidur di kamar.
Chiro mengecup pipi dan kening Naya lalu ke luar.
"Kasihan mommy, Daddy."
"Chiro jangan sedih, ya. Nanti mommy ikutan sedih. Doakan mommy cepat sembuh."
Setengah jam kemudian masakan jadi. Monic langsung membangunkan Naya untuk makan.
.
.
.
Huek ... huek
Naya langsung muntah saat selesai makan.
"Frey, aku belum investasi kecebong di rahim kamu, kenapa sudah berkembang biak?" tanya Erlang, membuat Naya lebih memilih pingsan saja dari pada terus mendengar ucapan mesum Erlang.
Entahlah, kalau tidak membuat Naya kesal rasanya ada yang kurang, namun bukan berarti pria itu senang melihat Naya sakit.
__ADS_1
Saat Naya sudah kembali tidur, Erlang mengompres kening Naya.
"Eh, bukannya kalau skin to skin bisa cepat sembuh, ya?"
"Ck, cowok mesum kaya kamu mendingan ke luar sana!"
Monic langsung menarik tangan Erlang agar ke luar dari kamar yang ditempati Naya, membuat lria itu mendengkus.
.
.
.
Hari ini Naya izin, karena masih belum sembuh. Jadi dokter bukan berarti tidak bisa sakit, karena dokter juga manusia. Apalagi hampir setiap dihadapkan dengan orang-orang sakit yang busa saja menularkan penyakit ringan.
Bukan berarti Naya kuga tidak pernah menjaga kesehatannya, hanya saja akhir-akhir ini pasiennya memang banyak dan cuaca sedang tidak bagus.
Pagi-pagi sekali Erlang dan Chiro datang ke apartemen Monic, mengganggu para penghuninya yang masih terlelap dengan mimpi indah mereka masing-masing.
"Ada apa, sih, Ar? Masih pagi begini juga, sudah bikin rusuh!"
"Minggir, aku mau bikin sarapan untuk my wife."
"My wife, my wife. Mantan yor wife, mending dia mau balikan lagi sama kamu," ucap Monic cuek.
Erlang langsung menoyor Monic.
"Sahabat apaan nih, bukannya mendukung."
"Ish, apaan sih. Aku nih dokter, jangan main noyor aja."
"Ada apaan sih, ribut-ribut?"
Satu persatu para gadis ke luar dari kamar, kecuali Naya yang masih tidur.
Erlang mendelik tajam pada Monic, yang mengatainya duda gagal move on. Padahal kan, memang benar.
Mereka melihat keadaan dapur yang sudah banyak bahan-bahan masakan.
Tidak lama kemudian para pria lain datang, apa lagi kalau bukan untuk meminta sarapan.
"Aku bangunin Naya, dulu."
"Jangan, biar aku saja yang membangunkan Freya."
Para wanita menatap curiga pada Erlang.
"Jangan macam-macam, Ar."
"Enggak lah, mana mungkin aku macam-macam pada mommy Chiro. Ya kan, Chiro?"
"Iya aunty, kalau daddy nakal pada mommy, biar Chiro suruh mommy nikah sama uncle Coco atau uncle Ikmal saja."
Erlang langsung bersungut-sungut, sedangkan Monic tertawa nyaring.
Erlang langsung masuk ke dalam kamar Naya.
"Frey, bangun!"
Erlang menepuk pelan pipi Naya, yang lama-lama menjadi elusan. Karena susah dibangunkan, akhirnya Erlang mengambil inisiatif lain.
Cup
Erlang mengecup bibir Naya dan sedikit menggigitnya. Saat Naya menggerakan matanya, Erlang langsung pasang ekspresi polos tak berdosa.
__ADS_1
"Ayo bangun, sarapan dulu. Chiro sudah nungguin dari tadi."
"Ya."
Erlang langsung ke luar dengan gaya cool.
Yes, lumayan dapat vitamin pagi-pagi, walau bibirnya anget-anget gimana, gitu.
Saat yang lain mau makan, langsung di cegah oleh Erlang.
"Eh, jangan dimakan. Ini aku buat khusus untuk Freya."
"Dih, pelit banget."
"Bodo amat, mau buat Freya kek, kingkong kek, aku sudah lapar."
"Dibilangin jangan! Frey, ini aku buat khusus untuk kamu, yang lain enggak boleh makan. Kamu baca doa dulu ya, soalnya sudah aku kasih pelet."
Yang lain melengos, ada gitu sudah ngasih pelet tapi malah nyuruh baca doa dan bilang-bilang?
Kelamaan ngeduda dan enggak di servis, gini, nih.
Namun yang lain enggak peduli, mereka tetap makan masakan Erlang yang ternyata memang enak.
Gimana enggak enak, coba. Sejak Freya pergi dan Chiro sudah mulai makan MP ASI, Arby selalu memasak untuk Chiro, dan terus berlanjut hingga saat ini.
Makanan untuk Chiro selalu dia buat dengan tangannya sendiri, kecuali saat makan di luar atau di rumah orang. Dia selalu memperhatikan semua kebutuhan Chiro.
"Enak, kan, Mommy, masakan daddy? Daddy selalu memasak sendiri makanan untuk Ecan."
Naya mengangguk pelan, merasa tidak nyaman. Orang sakit kadang jadi sensitif.
Saat Naya berdiri ingin ke kamarnya, Eroang mengikuti.
"Mau ngapain?"
"Mau mandiin kamu lah. Tenang saja, walaupun aku bukan dokter, tapi aku masih bisa ko' merawat kamu. Apalagi hanya memandikan dan memakaikan baju, mudah banget."
Kalau lagi enggak lemas, pasti Naya sudah mencekik Erlang.
"Ya ampun, Chiro, kenapa daddymu jadi begini, sih?" tanya Ikmal.
Chiro diam saja sambil terus menikmati susu yang dibuat daddynya.
.
.
.
Yang lain akan pergi bekerja, kecuali Naya. Chiro juga dibawa okeh Erlang karena tidak ingin membuat Naya kurang istirahat jika meninggalkan Chiro bersamanya, meskipun tadi Naya meminta Chiro bersamanya.
"Ecan pergi kerja dulu ya, Mommy."
Yang lain terkekeh geli mendengar ucapan Chiro.
Cup
Sebuah kecupan Chiro berikan untuk Naya.
Cup
"Daddy kerja juga ya, Mommy."
Kecupan di bibir diberikan Erlang untuk Naya.
__ADS_1
Sepertinya Naya harus memakai masker jika berdekatan dengan Erlang.