
Sore hari semua sudah siap untuk pergi berjalan-jalan di sekitaran pantai. Para wanita sangat antusias berjalan-jalan. Mereka saling bergandeng tangan meninggalkan pasangan mereka.
"Begini nih kalo perempuan udah ketemu. Lupa sama Kita." Keluh Rian.
"Santai aja Bro... Kita juga bisa jalan bergandengan seperti mereka. Iya kan." Ucap Aldo sambil menggandeng Ivan dan Rian di kiri dan kanan nya.
"Diiiih.... Amit-amit deh." Jawab Rian bergidig ngeri. Sementara Ivan hanya tertawa ngakak dibuatnya.
"Gw aminin ya Ka." Ujar Nando.
"Sialan Lu."
Mereka pun tertawa bersama menikmati suasana pantai dengan hembusan angin sejuk.
"Yang,, ayo kita foto sama-sama." Ajak Dina pada Ivan.
"Mas... Mas... Bisa minta tolong fotoin kita." Pinta Arif pada salah satu pasukan orange. Dan di jawab anggukan olehnya.
Mereka pun berfoto bersama mengabadikan kenangan berlibur mereka. Setelah puas berfoto bersama semua kembali dengan aktivitas masing-masing.
Karena kehamilannya Amel pun tak bisa ikut melanjutkan jalan-jalan dengan yang lain. Amel dan Arif hanya duduk-duduk di bibir pantai beralaskan pasir putih yang indah.
"Yang, ko perut aku kenceng terus ya?"
"Sakit atau mules ngga Yang?" Tanya Arif sedikit panik.
__ADS_1
"Ngga ada tapi kencengnya ga hilang-hilang. Berhenti sebentar terus kenceng lagi lama."
"Kita kembali ke Villa aja ya."
"Sebentar Yang ini kenceng banget."
Arif pun dengan lembut memapah Amel menuju villa. Sampai di villa perut Amel semakin kencang tapi tak ada rasa mules atau kencang sedikit pun hanya kencang saja.
"Aku telfon Nadin dulu ya Yang." Arif pun segera menelfon Nadin.
"Haloo,,, Nad,, cepetan ke Villa Nad."
"Kenapa Rif?"
"Ya udah tunggu Gw balik sekarang."
Setelah sambungan telfon di akhiri Nadin dan yang lainnya pun segera menuju villa. Semua panik mendengarnya. Pasalnya mereka baru saja sampai di pulau sudah di kejutkan dengan keadaan Amel.
"Mel, gimana keadaan Lu sekarang?"
"Perut Amel kenceng terus Teh. Tapi ga mules juga sakit."
"Ada keluar cairan?"
"Ga ada Teh hanya kenceng begini. Hilang sebentar terus asa lagi." Jawab Amel.
__ADS_1
Keringat Amel bercucuran karena menahan perutnya yang terus kencang. Nadin pun segera membawa peralatan untuk memeriksa Amel. Dibantu oleh Santi dan Kasih. Sementara Dina dan Tina menunggu komando dari Nadin.
Para lelaki menunggu di luar kamar. Saaf Nadin keluar untuk mengambil peralatan yang di simpan di kamarnya Arif langsung mengejar Nadin.
"Gimana Nad? Mau lahiran?"
"Belum Gw periksa Rif. Tenang ya. Kita lagi siapin dulu semuanya. Takut emang mau keluar bayinya." Jelas Nadin.
"Sabar Rif. Kita do'akan saja ya." Ucap Nando menenangkan.
"Ini anak kedua tapi tegangnya masih sama kaya anak pertama." Racau Arif.
"Tenang Bro. Nadin, Kasih sama bini Gw profesional Ko. Tenang Ya."
Sementara di dalam Nadin mulai memeriksa pembukaan Amel. Dan ternyata sudah bukaan tujuh. Amel akan segera melahirkan.
"Mih, Tin siapin baju sama kain-kain nya." Pinta Nadin pada Dina dan Tina.
"San, Kas siap ya." Dan di jawab anggukan oleh keduanya.
Nadin menyiapkan air hangat dan air desinfektan. Semuanya siap hanya tinggal menunggu prosesnya. Karena tidak memungkinkan diatas kasur Amel pun di pindahkan di bawah dengan beralaskan karpet yang sudah dilapisi perlak.
Nadin meminta maid membuatkan teh manis untuk Amel.
Tbc...
__ADS_1