
Dalam keputus asaannya Amel berfikir pasti ini semua ulah Nadin yang menghamburkan Uang. Bahkan Nadin tak mau membantu kesulitan orang tuanya. Pasalnya Nadin pun memiliki warisan yang melimpah dari almarhum istri pertama Angga.
Amel semakin memupuk kebencian terhadap Nadin. Sebuah fikiran yang salah. Amel terus saja mengumpat tentang Nadin. Membuat para maid menggelengkan kepala mereka ketika mereka mendengar segala umpatan Amel untuk Nadin.
"Nyonya bukannya sadar malah semakin kacau." Ucap salah satu maid dan di sertai anggukan dari yang lain.
Saat Amel mengacaukan kamarnya Arif datang. Arif mendengar suara benda terjatuh dan pecah. Mungkin itu Vas bunga atau guci yang ada di dalam. Namun siapa pelakunya Arif tak tau.
"Ada apa?" Tanya Arif pada salah satu maid.
"Nyonya mengamuk Tuan." Jawab Maid tersebut.
"Sejak kapan?" Tanya Arif santai.
"Sejak kepulangannya tadi siang Tuan. Bahkan Nyonya terus mengumpat Nyonya Nadin Tuan. Adu Maid tersebut.
__ADS_1
"Astaga Istriku." Ucap Arif mengusap wajahnya kasar.
Arif berjalan menuju kamarnya. Untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh istrinya. Arif tak menunjukan rasa paniknya. Arif terus berjalan dengan santainya. Di lihatnya istrinya tengah menangis terduduk di lantai.
Arif menghampirinya. Mantapnya dengan tajam. Amel tak dapat mengartikan tatapan suaminya. Bahkan Arif tak memeluknya seperti biasa saat dirinya menangis. Amel menatap Arif penuh harap.
"Apa dengan kamu menghancurkan semua barang di rumah ini. Hutang keluarga kita akan terbayar?" Tanya Arif datar.
"Semua karena Nadin si alan. Dia tak dapat mengelola keuangan keluarga kita." Umpat Amel kesal.
Amel manatap Arif penuh amarah.
"Ya. Sangat Yakin. Dulu sebelum kami bertemu dengan Nadin kami tak pernah terjatuh seperti ini. Tapi Lihat. Setelah kedatangannya. Kakak ku yang menyayangi aku berpaling padanya. Bahkan kedua otang tua ku memihak padanya. Dan kini perusahaan bangkrut karena dia." umpat Amel panjang kali lebar.
"Kamu yakin Kakak mu tak menyayangi mu lagi? Kamu yakin Orang tua mu lebih berpihak pada Nadin? Kamu yakin kebangkrutan ini disebabkan oleh Nadin?" Cecar Arif pada istrinya. Walaupun dirinya telah iba oada istrinya sejak tadi.
__ADS_1
"Ya. Saya Yakin." Teriak Amel. Arif tersenyum tipis mendengar jawaban istrinya.
"Kamu lupa jika Nadin memiliki pekerjaan yang gajinya melebihi gaji mu di butik. Kamu lupa Nadin memiliki saham di pabrik milik Ivan. Dan kamu lupa jika Mantan Kaka Ipar mu memberikan limpahan harta warisan yang semua atas nama Nadin." Jelas Arif panjang kali lebar luas keliling.
Amel hanya diam mengembuskam nafasnya. Memikirkan apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Saya tidak habis fikir. Kenapa kamu memiliki fikiran bahwa Nadin lah yang salah dalam hal ini. Dimana fikiran mu. Bahkan Nadin telah menolong Mu ketika perjuangan kamu melahirkan anak kita. Bahkan Nadin tengah mengandung Neta saat itu." Jelas Arif kembali panjang kali lebar.
Arif bangkit dari duduknya dan masuk kedalam kamar mandi. Dia mengguyur kepalanya yang terasa panas menghadapi istrinya yang konyol. Sementara Amel masih terdiam duduk di lantai dengan segala fikiran yang melayang entah kemana. Dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Tak berapa lama Arif keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya menampilkan perut roti sobeknya. Arif berlalu menuju walkin closet nya tanpa menghiraukan Amel yang tengah menangis.
"Apa yang membuat Mu berfikir sekejam itu terhadap Nadin? Bukankah dulu kau sangat menyayanginya?" Tanya Arif membuyarkan lamunannya.
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏🙏🙏
__ADS_1