
Saat makan malam Nayya dengan telaten menyuapi anak tersebut bubur. Kanaya terlihat sangat lahap memakan bubur buatan Nadin. Semua pun tampak senang dengan kehadiran Kanaya di tengah-tengah keluarga mereka.
"Tampaknya kita memang sudah harus punya cucu ya Mah." Ucap Angga seraya melirik ke arah Nadin.
"Menantunya dulu Pah baru cucu." Jawab Nadin.
"Kalo sekaligus keduanya kan lebih bagus Nad." Ucap Ayah.
"Kalian mgomongin apa sih. Sekolah aja kita belum selesai." Ucap Nayya yang mengerti kearah mana oranv tuanya berbicara.
Sementara Neta dan Nathan masih belum mengerti kenapa bisa ada anak kecil itu di rumah mereka. Walaupun tak di pungkiri mereka pun senang dengan kehadiran Kanaya di tengah-tengah mereka.
Setelah selesai makan malam. Semua pun berkumpul di ruang keluarga dan Nadin mulai menceritakan asal muasal dari mana Kanaya bisa hadir sesuai dari cerita Nayya tanpa ada yang di lebihkan dan di kurangkan.
"Yah, kalo begitu dia akan segera di ambil oleh Ayah nya dong Mah." Ucap Neta.
"Iya sayang. Dia punya keluarga dan dia harus kembali kepada keluarganya." Ucap Nadin. Walaupun ada sedikit ketidakrelaan dari Nadin jika Kanaya harus kembali kepada Oeang tuanya. Namun, Nadin tak bisa egois. Kanaya bukan barang yang bisa di perebutkan.
Saat semua tengah asik bermain bersama Kanaya. Tiba-tiba Bibik menghampiri mereka.
"Maaf semuanya. Diluar ada yang menanyakan non Nayya." Ucap Bibik.
"Siapa Bik?" Tanya Angga.
"Tidak tau tuan." Jawab Bibik lagi.
"Laki-laki atau perempuan Bik?" Tanya Nadin.
"Laki-laki Nyonya. Ganteng lagi. Eh." Ucap Bibik kemudian menutup mulutnya.
Nayya pun segera menemui orang tersebut. Sementara Kanaya bermain bersama dengan Neta dan Nathan.
"Maaf, anda mencari saya?" Tanya Nayya pada orang tersebut yang membelakanginya.
Dan orang tersebut pun membalikan badannya.
"Owh! Astaga Mama... Tolong Nayya. Kenapa ada bidadara disini. Aduh Mah, tolong ini kenapa dada Nayya berdegup kenceng banget." Batin Nayya bengong melihat pria dihadapannya
"Hai,," Sapa orang tersebut dan melambaikan tangannya di hadapan muka Nayya.
"Owh! Eh, hai. Siapa ya?" Tanya Nayya berusaha menetralkan kembali sikapnya.
"Saya Rama. Saya yang menelfon anda tadi." Jelas orang tersebut yang bernama Rama.
"Rama? Telfon?" Ucap Nayya bingung.
__ADS_1
"Owh! Maaf saya Papi nya Kanaya." Ucapnya lagi.
Deg
"Astaga sudah sold out rupanya." Batin Nayya.
"Owh! Silahkan masuk."
"Duduklah." Titah Nayya.
"Terima kasih." Jawabnya kemudian masuk dan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.
"Sebelumnya saya mau ucapin terima kasih karena anda sudi membawa anak saya dan merawatnya beberapa jam tadi." Ucapnya to the poin.
"Hmm... Apa bukti yang bisa meyakinkan saya jika memang anda Ayahnya?" Tanya Nayya tegas.
"Ini Kartu keluarga saya dan ini foto-foto saya bersama dengan Kanaya." Ucap Rama seraya memberikan map kepada Nayya.
Nayya membukanya dan keningnya berkerut karena di dalam kartu keluarga hanya terdapat nama Rama dan Kanaya. Serta foto-foto yang Rama bawa pun hanya Foto dirinya dan Kanaya.
"Saya tau anda pasti heran karena hanya ada nama saya dan Kanaya yang tercantum di situ begitu oun dengan Foto. Hanya ada kami berdua di dalamnya. Itu di karenakan Momi Naya sudah meninggalkan kami saat Naya lahir." Jelas Rama dan membuat Nayya tidak enak.
"Maaf." Ucapnya.
"Tidak apa-apa. Itu sudah biasa bagi saya." Jawab Rama sopan.
"Maaf. Saya tengah mengurus Neneknya Naya yang sakit dan saya kurang memperhatikan Naya yang tengah belajar berjalan. Saat saya sadar bahwa saya datang bersama Naya saya panik mencarinya. Dan saya mendapat informasi dari pihak keamanan bahwa Naya di bawa oleh anda." Jelasnya.
"Hm.." Jawab Nayya singkat.
"Sebentar." Nayya pun masuk membawa Kanaya keluar.
"Siapa Ka?" Tanya Nadin.
"Papinya Kanaya Mah." Jawab Nayya lemas.
"Kenapa? Harusnya seneng dong Kanaya ketemu orang tuanya." Ucap Nadin mengusap lembut kepala anaknya.
"Kakal ga tau kapan lagi bisa ketemu Kanaya Mah." Ucap Nayya lemas.
"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan Ka. Ikhlaskan jika berjodoh pasti bertemu lagi." Ucap Nadin menenangkan anak sulungnya.
Nayya menggendong Kanaya untuk di bawa menemui Papinya. Semua mata memandang kearah Nayya dan Kanaya. Ada tatapan tak rela melihat Kanaya di bawa. Tapi, itu harus mereka relakan. Saat Kanaya melihat Rama Kanaya langsung mengenalinya.
"Papi." Ucapnya seraya merentangkan tangannya.
__ADS_1
"Sayang. Maafkan Papi Nak." Ucap Rama seraya membawa Kanaya dalam gendongannya.
Nayya pun tak kuasa meneteskan air matany. Dan itu tak luput dari pandangan Kanaya.
"Momi." Ucap Kanaya.
Rama pun menoleh kearah Nayya dan terheran melihat Nayya meneteskan air matanya.
"Maaf." Ucap Kanaya sambil mengusap air matanya.
Kanaya pun merentangkan tangannya kearah Nayya. Dan Nayya pun mengambil alih Kanaya kembali kedalam gendongannya. Nayya memeluk erat Kanaya dan air matanya terus menetes.
"Baik-baik sama Papi ya. Jangan nakal. Jangan kabur-kaburan lagi. Kanaya harus bilang sama Papi kalo Kanaya mau jalan-jalan." Ucap Nayya seolah akan berpisah dengan anaknya sendiri.
Rasa haru pun menjalar di hati Rama. Karena baru kali ini Rama melihat ketulusan seorang wanita kepada anaknya. Bahkan Rama seolah akan memisahkan anak dengan ibunya.
Nayya menciumi seluruh bagian wajah Kanaya kemudian memeluknya erat.
"Angan angis Mom." Ucap Kanaya seraya mengusap pipi Nayya.
"Iya sayang. Momi janji Momi ga akan nangis lagi." Ucap Nayya.
"Sayang. Ayo kita pulang." Ajak Rama.
"Momi itut." Ucap polos Kanaya.
"Momi disini saja ya sayang. Nanti kalau Kana mau ketemu Momi Kana bisa datang ke sini." Ucap Nayya.
"Kenapa kamu terus memanggil nama anak saya dengan sebutan Kanaya dan sekarang Kana. Panggil saja Naya itu nama panggilannya." Jelas Rama.
"Karena nama kita sama. Nayya." Ucap Nayya.
"Astaga. Kenapa saya baru menyadarinya. Maaf." Ucap Rama.
"Tidak apa-apa." Ucap Nayya.
Dan drama pun terjadi diantara perpisahan Nayya dan Kanaya. Kanaya yang menginginkan Nayya ikut bersamanya dan Nayya yang tak tega berpisah dengan Kanaya walaupun baru beberapa jam saja dirinya bersama dengan Kanaya.
Nadin pun berhasil menenangkan Kanaya dan berjanji jika Papinya akan mengantarkannya kembali besok pagi. Dan Kanaya pun berhasil di bujuk hingga akhirnya mau ikut bersama dengan Papinya. Namun,. sepeninggalan Kanaya tangis Nayya pun pecah membuat seisi rumah panik di buatnya.
"Kenapa sesakit ini ya Mah." Ucap Nayya di sela tangisnya.
"Ikatan batin itu tidak hanya dari anak kandung saja Ka." Ucap Nadin.
Angga pun mengusap lembut kepala Nadin. Karena apa yang Nadin ucapkan sudah sangat terbukti dengan ikatan batin antara Nadin dan Nayya. Nayya yang hanya mengetahui dirinya adalah anak kandung Nadin. Karena sejak kecil Foto Nadin lah yang di perkenalkan Mba.Sus padanya sesuai permintaan Ibu kandungnya Nayya.
__ADS_1
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima Kasih 🙏🙏🙏