
Hari ini Nayya ikut bersama Nadin ke kampus. Nadin meminta ijin kepada Aldo untuk membawa Nayya ke kelas. Aldo pun mengijinkan. Karena Nayya tidak mau dibawa Aldo ke kantor. Kebetulan Santi ada tinjau lapangan pagi ini.
Nayya duduk dengan tenang layaknya mahasiswi yang tengah memperhatikan Nadin mengajar di kelas. Nayya memperhatikan setiap Mahasiswa Mahasiswi yang tengah belajar.
"Oke. Sampai disini materi saya. Ada yang belum faham?"
Satu persatu Mahasiswa Mahasiswi bertanya. Nadin menjawabnya dengan sangat jelas.
"Sampai disini kelas kita. Selamat beristirahat dan sampai jumpa dilain waktu ya."
Nadin dan Nayya keluar dari kelas. Satu persatu Mahasiswa Mahasiswi keluar dari kelas. Nadin dan Nayya masuk ke kelas kedua. Seperti di kelas pertama Nayya duduk dengan tenang tanpa kata-kata.
Selesai kelas kedua Nadin membawa Nayya ke kantor. Nadin menuntun tangan Nayya. Nayya berjalan mengikuti langkah Nadin. Sampai di kantor semua menyapa Nadin dan Nayya.
"Duduk disini ya sayang. Minum dulu yah."
Nayya pun langsung meminum minuman yang di berikan Nadin.
"Bu.Nad ada undangan."
"Dari mana?"
"Kurang tau. Sepertinya undangan pernikahan."
"Owh! Memangnya undangan cuma buat saya?"
"Iya Bu."
"Hah! Ko bisa."
Nadin pun membuka undangan yang di maksudkan. Setelah membukanya Nadin tersenyum dan menyimpan undangan di meja kerjanya.
"Haii anak cantiik."
"Hai onti.."
"Dari mana San?"
"RS.G."
"Wuih... Beres?"
"Beres doong. Eh, dapet undangan dari Bd.Erlin?"
"Dapet. Ga nyangka gw. Dapet juga akhirnya."
"Lu harus tau ceritanya dulu Non."
__ADS_1
"Ngga ah biar aja. Lu di undang?"
"Mana ada. Mau dateng ga Lu?"
"Dateng lah siapa takut. Membuktikan kalo gw ama tu dokter emang ga ada apa-apa."
"Baguuus.... Demen gw."
"Lu mau ke rumahnya Kasih kan?"
"Iyalah. Ni mau nyimpen ini dulu terus ke kantor. Mobil Ka.Angga udah ada deh kayanya tadi gw liat."
"Eh, masa sih?"
"Bentar gw telfon yayang dulu nanyain kali aja ada di kantor dia."
Santi pun menelfon Aldo memastikan mobil yang dia liat memang bener mobilnya Angga. Dan ternyata bener Angga sudah ada di kantor. Nadin, Nayya dan Santi pun bersama-sama ke kantor.
"Assalamu'alaikum." Ucap Nadin dan Santi bersamaan.
"Wa'alaikum salam." Jawab Angga dan Aldo.
"Papaa...."
"Hai cantik. Gimana seneng ikut Mama mengajar?" Tanya Angga.
"Seneng Pa. Pa, Mama kalo lagi di depan kelas serem."
"Iya, buktinya semua kakak-kakak ga ada yang ngomong Pah."
Semua pun tertawa mendengar penuturan Nayya. Nayya bingung kenapa semua orang dewasa menertawakannya.
"Sayang, Mama baik ko sama kakak-kakak hanya saja jika Mama sedang menjelaskan di depan semua kakak-kakak memperhatikan Mama jadi semua kakak-kakak diam. Nanti klo ga diperhatiin Mamanya bisa-bisa kakak-kakak nya ga ngerti lagi." Jelas Angga.
"Owh! Begitu ya Pah. Berarti kalo Nayya sekolah harus kaya kakak-kakak ya Pah."
"Maksudnya?"
"Iya diam memperhatikan Mama menjelaskan."
"Pinter anak Papa."
Semua memperhatikan percakapan Angga dan Nayya. Nadin pun hanya tersenyum mendengarkan curahan anaknya kepada Papanya.
"Ka, Nadin di undang tuh sama bd.Erlin."
"Serius Nad?"
__ADS_1
"Iya tuh ada undangannya di meja."
"Siapa bd.Erlin?" Tanya Angga kepo.
"Laki Lu belum tau Nad?"
"Belum."
"Ya ampuuun. Kasih tau lah."
"Dia pernah ngelabrak aku gara-gara calon suaminya sekarang."
"Ko bisa?"
"Bisalah bininya kan cantiknya kelewatan." Ada samber Santi.
"Maksudnya?"
"Jadi dulu Aku sama calon suaminya ini pernah praktek satu ruangan. karena dia dokter dan aku perawat jadi kita sama-sama terus. Naaah dia fikir aku pacaran sama tu dokter jadi dia labrak aku kekantor sini."
"Ko ke sini ngelabraknya?"
"Kan dulu aku praktek juga ngajar juga yang."
"Owh! Iya lupa."
"Terus Lu mau dateng Nad?" Tanya Aldo.
"Datenglah biar dia tau klo aku ga ada apa-apa sama tu dokter. Lagian suami aku jauh lebih dari tu dokter."
"Ahhhh... Siap..." Jawab Aldo.
"Eh, tapi kan tu dokter terpaksa nikahin Erlin." Ujar Santi.
"Maksudnya yang?" Tanya Aldo.
"Tadi pas di RS.G aku denger cerita staf disana. Katanya Erlin hamil terus tu dokter terpaksa nikahin Erlin karena Erlin nolongin Mamanya dokter itu pas Erlin ke rumahnya Mamanya jatuh gitu."
"Ya ampun. Cuma gara-gara gitu aja tu dokter mau nikahin tu perempuan." Jawab Angga.
"Iya karena Erlin ngancem bilang ke Mamanya dokter klo anak yang di kandungannya anaknya tu dokter."
"Astagfirullah... Ko jahat siiih. Tapi biarlah ini mungkin udah jalan Allah buat mereka."
"Ya ampuuun bijak banget sih kesayangan aku ini." Jawab Santi.
"Sayangnya aku ya San."
__ADS_1
"Hmmm... Iya deeeh."
Tbc....