
Hari ini wisuda Nadin. Semua keluarga datang dari kota J. Nadin merasa senang Mama dan Bapak datang. Tak ayal seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan. Nadin terus menggelayut di lengan Mama.
"Teh, teteh ngga sakit kan?"
"Ngga dong Mah. Teteh seneng mah. Mamah datang nemenin Teteh."
"Emang wisuda teteh yang mana yang ga Mama temenin. Tapi ko sekarang Teteh kaliatan pucet sih?"
"Iih, ngga ah. Ini udah make up loh Ma." Nadin pun tampak murung setelah Mama bilang klo dirinya tampak pucat.
Angga melihat perubahan dari Nadin. Langsung saja Angga memberi kode Mama untuk membujuk Nadin. Saat Nadin lepas dari Mama Angga langsung mendekati Mama.
"Mah, maaf ya. Nad akhir-akhir ini lagi sensitif mah. Angga tinggal sebentar dia langsung nangis."
"Ko bisa gitu A?"
"Angga juga ga tau Mah. Udah hampir sebulanan Nadin Aneh."
Dan obrolan pun segera dialihkan karena Nadin mendekat.
"Hai kesayangannya Aku." Sanjung Angga.
Nadin langsung memeluk Angga dan menci** pipi Angga. Mama mengusap punggung Nadin. Nadin menoleh dan beralih memeluk Mama.
Acara wisuda berlangsung khidmat. Nadin tampak semakin pucat. Namun jika ada yang mengatakan dirinya pucat Nadin akan marah. Semua yang akan mengatakan Nadin pucat diberi kode oleh siapapun yang tengah dekat dengan Nadin dan akan berganti dengan kalimat cantik sekali.
Malam hari setelah acara wisuda keluarga Nadin bermalam di kediaman Bagaskara. Ayah merasa senang karena ada Bapak untuk dijadikan teman ngobrol. Begitupun Ibu ada Mama.
"Teh, maaf ya. Tapi, beneran teteh ga sakit?" Tanya Indah perlahan agar tak menyinggung Nadin.
"Ngga tau Dek. Semua yang ketemu Teteh pasti bilang teteh pucet lah teteh gendutan lah. Sebel banget."
"Ya kalo gendutan mah alhamdulillah berarti Teteh seneng nikah sama Aa."
"Iya sih. Tapi kenapa sih pada bilang pucet segala."
__ADS_1
"Iya. itu kan tanda perhatian semua orang sama Teteh. Semua ga mau liat Teteh sakit. Semua orang kan sayang sama Teteh."
"Teteh juga ga tau nih Dek akhir-akhir ini emosi Teteh naik turun."
"Teteh udah periksa?"
"Iiih, kan Teteh ga sakit Dek." Nadin pun marah dan masuk ke kamar. Manangislah Nadin dikamar.
Indah segera menceritakannya pada Angga. Dan meminta maaf kepada Angga. Angga pun memakluminya dan langsung menuju ke atas.
"Maaf ya Mama. Nadin memang udah hampir sebulan ini sedikit sensitif. Kita hampir kewalahan menghadapinya. Hanya saja kita memakluminya karena mungkin berat buat dia kuliah, kerja dan mengurus keluarga kecilnya. Berbeda saat dia belum menikah."
"Iya Bu. Kita juga heran karena Teteh tipe orang yang tak pernah mengeluh."
"Iya Bu. Teteh ga pernah marah loh. Eh, bentar Bu Mah."
"Kenapa?" Jawab Ibu dan Mama bersamaan.
"Indah boleh naik ke kamar mereka?"
"Ngga apa-apa Bu. Sebentar Adek coba."
Sementara dikamar Angga berusaha membujuk Nadin. Memeluk dan menci** seperti yang dimau Nadin. Angga terus menghibur Nadin. Sampai suara ketukan pintu membuat Nadin sedikit terusik lagi.
"Sebentara aja ya Kaka buka pintu." Nadin menganggukan kepalanya lalu memasukan seluruh badannya kedalam selimut.
Angga melihat siapa yang datang.
"Kenapa Dek?"
"Boleh masuk?"
Angga sebenarnya ragu tapi apa salahnya dicoba. Angga pun mengijinkan Indah masuk. Ibu dan Mamah begitu was-was memperhatikan dari kejauhan.
"Bu, Mah?"
__ADS_1
"Astaga." Jawab Mama dan Ibu bersamaan.
"Kamu ngagetin aja deh." Jawab Ibu.
"Kalian lagi ngapain sih?"
"Sssttt... Nad ngambek lagi. Indah ga sengaja menyinggung Nadin. Sekarang Indah ke kamar kaka kamu. Kita ga tau dia mau ngapaun."
"Owh! Terus ngapain ngintipin disini?"
"Kita takut Teteh Marahnya semakin hebat Nak."
"Eh,,," Dan Amel pun ikut mengintip kamar Kakanya.
"Teh, masih marah ya sama Adek? Maaf doong."
"Sayang,"
Nadin masih tetep bersarang di selimutnya.
"Teh, boleh ya Adek nanya sesuatu?"
"Tanya apa? Kamu masih mau nanya kenapa Teteh ga periksa. Teteh ga sakit Dek. Ngga Sakit!!"
"Hei,, sayang." Angga meneluk Nadin. Indah pun mendekati Nadin dan Angga.
"Emosi naik turun. Teteh udah datang bulan?"
Seketika Nadin terdiam dalam tangisnya. Nadin menatap Angga lekat-lekat. Kemudian Nadin menoleh kearah sang adik. Nadin pun membaringkan dirinya pasrah diperiksa Indah. Angga mendampinginya.
"Maaf ya. Adek periksa ya?"
Nadin hanya menganggukan kepalanya. Angga pun harap-harap cemas.
Tbc....
__ADS_1