
Pagi hari dokter sudah memberi ijin Nadin untuk pulang. Hasil pemeriksaan tidak ada yang dihawatirkan. Semua yang mengetahui kejadiannya bahkan supir penabrak pun merasa heran melihat keadaan Nadin yang tak mengalami luka serius.
Dirumah Nadin tidak diijinkan keluar rumah kecuali bersama Angga. Aldo pun dengan terpaksa memberikan cuti kepada Nadin. Semua pekerjaan Nadin di limpahkan kepada dosen lain termasuk Santi istrinya sendiri.
"Yaaang,,,"
"Iya. Kenapa sayang?" Jawab Angga sambil menyelesaikan pekerjaannya di kamar.
"Mau peluk..."
Angga pun menghentikan kegiatannya dan langsung mendekati Nadin. Angga pun memeluk Nadin. Angga memang memindahkan pekerjaannya ke rumah demi menemani istri tercinta.
Tok...Tok...
"Masuk."
"Mama, Papa..."
"Sayang,,, sini sama Mama."
Nayya pun naik dan ikut memeluk Nadin. Nadin meneteskan air mata haru.
"Sayang, kenapa? Ko nangis?"
"Aku seneng banget punya kalian."
"Mama jangan nangis dong. Nayya sama Papa kan sayang sama mama."
"Iya sayang. Mama juga sayang kalian."
Angga menengadahkan kepalanya menahan air matanya agar tak terjatuh. Nadin dan Nayya keluar dari kamar dan menemani Nayya bermain di teras belakang. Angga pun keluar dan menyelesaikan pekerjaannya di ruang keluarga agar masih bisa melihat anak dan istrinya bermain di teras belakang.
"Halo Wan. Kenapa?"
"Bos email gw udah di baca?"
"Udah. Gw udah kirim balasannya Wan."
"Oke sip Bos."
"Balik kapan Wan?"
"Mudah-mudahan hari ini beres Bos jadi gw bisa balik besok."
"Siap. Hati-hati di jalan Bro."
"Oke."
Sambungan telfon pun terhenti. Tak berapa lama Kasih datang menemui Nadin.
__ADS_1
"Hai Ka,"
"Hai Kas. Bawa apa?"
"Siomay. permintaan bumil."
"Wah ngerepotin ya Kas."
"Ngga ko Ka. Gw kasih tempat dulu ya Ka."
"Oke.."
Kasih membawa siomaynya ke dapur untuk di sajikan. Kasih membawa nya dalam piring-piring kecil diberikan pada Angga dan Nadin.
"Cantiknya Onti, mau siomay?"
"Ngga Onti Nayya baru makan kue."
"Oke. Kalo mau bilang ya."
"Oke Onti."
"Pada kemana Ibu sama Ayah?"
"Ibu arisan klo Ayah katanya sih mancing."
"Wuih, Ayah suka mancing?"
Nadin menikmati siomay yang diidam-idamkan. Angga memperhatikan Nadin menyantap siomay.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikum salam. Hai Din, Tin. Berdua aja?" Tanya Angga.
"Ngga doong Ka. Bapak-bapak dibelakang." Jawab Dina.
"Mana bumilnya Ka?" Tanya Tina.
"Tuh." Tunjuk Angga kepada Nayya.
"Owh! Eh, Ada Kasih juga. Kita kesana dulu ya Ka."
Angga mengangguk dan mempersilahkan Dina dan Tina.
"Hai,,, bumil." Ujar Dina dan Tina bersamaan.
"Haaaiii... Iiih... Seneng kalian datang juga."
"Nando sama Ivan mana?" Tanya Kasih.
__ADS_1
"Masih di luar."
Tak berselang Ivan dan Nando pun masuk dan duduk bersama dengan Angga. Angga menghentikan pekerjaannya dan menemani Iban dan Nando berbincang. Dan perbincangan ketiganya tak jauh dari bisnis.
"Yaaang,,,"
"Iya sayang." Jawab Angga lembut.
"Mau es boleh."
"Air es aja ya sayang?"
"Pake sirup yang."
"Sedikit aja ya."
"Asiiik..."
"Bi, buatin sirup ibu ya."
"Iya Pa."
Angga pun melanjutkan obrolannya bersama Nando dan Ivan.
"Ga, makasih banget ya mau menerima Nadin dengan segala kekurangannya."
"Ngomong apa sih Van."
"Sumpah deh gw sering bilang sama istri. Nadin beruntung banget dapet Lu."
"Sama beruntungnya gw dapetin dia Van."
"Gw sering nangisin dia Ga. Sumpah. Mungkin karena dia lebih deket sama gw dan Kasih."
"Iya, Gw sama Arif fikir Nadin akan berjodoh dengan Ivam loh Ga."
"Ampe segitunya?"
"Iya. Pas Ivan mau nikah nih. Nadin manjanya luar biasa. Ya kaya sekarang inilah. Tapi yang gw heran ga cuma sama Ivan tapi sama Dina juga gitu."
"Bener Van?"
"Banget. Sampe pernah Dina juga cemburu sama Nadin. Tapi lama-lama Dina ngerti dan malah lebih manjain Nadin ketimbang gw."
"Ge salut banget deh sama persahabatan kalian. Makasih ya kalian udah jagain Nadin buat gw."
Mereka bertiga saling merangkul untuk saling berterima kasih. Nadin melihat adegan yang begitu mengharukan baginya.
"Semoga kalian selalu bahagia ya Ga." Ucap Ivan.
__ADS_1
"Amin."
Tbc....