
Angga datang bersamaan dengan Neta dan Nathan. Ketiganya memasuki rumah utama dan ketiganya menghentikan langkahnya begitu melihat Nadin tengah menggendong seorang anak kecil. Ketiganya pun saling tatap. Dan tatapan mereka seolah mengandung tanya anak siapa.
"Assalamu'alaikum." Ucap Angga.
"Wa'alaikum salam." Jawab Nadin.
"Nah, tuh Opa datang. Hai Opa." Ucap Nadin menirukan suara anak kecil. Karena anak kecil nan cantik itu belum mau mengeluarkan suaranya.
"Anak siapa Mah?" Tanya Neta dan Nathan bersamaan.
Dan bersamaan dengan datangnya Nayya dari kamarnya.
"Momi.." Panggil anak kecil tersebut seraya merentangkan tangannya ke arah Nayya.
Dan semua pun menoleh kearah tangan anak kecil itu mengulurkan tangannya.
"Kakak." Ucap Neta dan Nathan.
"Eh, jangan salah sangka dulu." Jawab Nayya santai sambil berjalan ke arah Mamanya dan Anak kecil itu.
"Hai sayang. Wah, sudah wangi nih. Mandi sama Oma ya?" Tanya Nayya lembut. Kemudian mengambil alih anak kecil itu.
"Kakak." Panggil Angga tegas.
"Pah, nanti Mamah aja deh yang jelasin. Sekarang kalian mandi gih. Kasihan nih anak kecil kebauan kalian." Usir Nayya kepada Papa dan dua adiknya.
"Mamah." Ucap ketiganya bersamaan.
"Iya... Iya... Sana kalian mandi dulu nanti mamah jelaskan semuanya. Sekalian Oma dan Opa biar semua mendengarnya." Ucap Nadin sambil berlalu ke kamarnya di susul Angga mengekor di belakangnya.
__ADS_1
Sampai di kamar Angga masih saja mendesak Nadin agar bercerita padanya. Namun, Nadin masih tetap pada pendiriannya meminta Angga untuk membersihkan badannya terlebih dulu.
"Mau mandi sekarang atau ga dapet jatah nanti malam." Ancam Nadin. Karena walaupun usia mereka tak muda lagi tapi urusan ranjang mereka selalu tak mau kalah dari yang muda.
"Astaga Yang. Baiklah demi jatah Papah yang tak berkurang." Ucap Angga langsung masuk ke kamar mandi.
"Dasar suami mesum." Ucap Nadin kemudian keluar dari kamar menuju dapur untuk menyiapkan makan malam mereka dan tak lupa Nadin membuatkan bubur untuk cucu yang baru Nayya bawa.
"Nay, anak siapa?" Tanya Opa yang baru saja keluar dari kamar bersama Oma.
"Anak Nayya Opa." Jawab Nayya asal.
"Hus! Jangan sembarangan kamu." Ucap Oma.
Nayya pun hanya menampilkan barisan gigi putihnya.
"Sudah nanti Mama cerita sama semuanya. Sini Opa buyut sama Oma buyut main bersama." Ajak Nayya.
"Astaga ibu macam apa kamu tak tau nama anaknya sendiri." Ucap Opa.
"Iih, Opa. Mana Nayya tau. Yang dia ucapin hanya kata Momi." Ucap Nayya pura-pura merajuk.
"Namanya Kanaya Yah." Jawab Nadin.
"Ko, Mama tau?" Tanya Nayya.
"Dia oake kalung Ka. Tadi pas Mama mandiin dia Mama liat." Jawab Nadin santai.
"Sudah kasih sama Oma Cucu Mama terus kamu bantu Mama siapkan makan malam." Titah Nadin.
__ADS_1
"Mah, kok nama Kakak sama dia sama ya?" Ucap Nayya bingung.
"Jodoh Ka." Jawab Nadin santai.
"Iih, Mama,," Ucap Nayya.
Namun, percakapan antara ibu dan anak itu terputus kala ponsel milik Nayya berbunyi. Nadin dan Nayya saling pandang karena tak terdapat identitas si penelfon.
"Angkat cepet. Siapa tau dari orang tua Kanaya." Titah Nadin dan Nayya pun langsung tersentak dan segera mengangkat telfonnya.
📱Halo..
📱Maaf, apa benar anda yang membawa Naya? ( Tanya orang di sebrang telfon)
📱Nayya? Iya saya Nayya.
📱Maaf, maksud saya apa anda yang membawa anak kecil sekitar usia satu tahun setengah bernama kanaya.
📱Hm... Anda siapa?
📱Saya Papi nya. Dan saya tau nomer anda dari keamanan rumah sakit A.
📱Owh! Jika anda memang Papinya apa bukti yang bisa saya percayai?
📱Anak saya mengenakan kalung bernamakan Kanaya dan terdapat tanda lahir di bahu kanannya.
Saat orang tersebut menyebutkan ciri-ciri tersebut Nayya pun menoleh kearah Nadin dan Nadin pun mengangguk.
📱Baiklah. Saya akan kirimkan alamat saya pada Anda. Dan anda harus bisa meyakinkan saya jika memang ini anak Anda.
__ADS_1
Dan panggilan telfon pun terputus. Nayya kemudian mengirimkan alamat rumahnya kepada si penelfon tadi yang mengaku Ayah dari anak yang dia bawa.
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏🙏🙏