
Sementara di sekolahan Yoga tak menemukan Netanya. Yoga pun bertanya pada Mega sahabatnya. Dan membuat Mega bingung kenapa Yoga menanyakan padanya karena Mega sudah tau jika Netanya dan Yoga pacaran.
"Kok, Bapak tanya saya?" Tanya Mega.
"Loh, bukannha kamu teman satu kelasnya ya?" Tanya Yoga.
"Tapi, bukankah seharusnya Bapak lebih tau tentangnya dibandingkan saya." Ucap Mega.
"Hmm.... Ponselnya ga bisa di hubungi." Jawab Yoga.
"Berantem ya?" Ledek Mega.
"Ayolah Ga." Bujuk Yoga.
"Hmm... Tadi katanya Neta sakit Pak." Jawab Mega kasihan.
"Sakit!" Ucap Yoga lagi.
Mega pun hanya menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan Yoga yang masih bengong. Setelah kepergian Mega barulah Yoga sadar dan langsung menuju parkiran dimana mobilnya berada.
Sampai di rumah Netanya penjaga pun langsung membukakan pintu gerbang karena sudah mengenal mobil Yoga.
"Terima Kasih Pak." Ucap Yoga pada penjaga.
"Sama-sama Den."
Setelah memarkirkan mobilnya Yoga pun segera masuk kedalam dan di sambut oleh Maid.
"Siang Bi. Neta sakit?" Tanya Yoga to the poin.
"Hm... Sepertinya kurang enak badan Den. Sekarang ada di kamar bersama Nyonya dan Non.Nayya." Jawab Bibik.
"Nayya ada di sini?" Tanya Yoga.
"Ada. Datang pagi tadi di antar oleh Den Rama." Jelas Bibik.
"Ya udah makasih ya Bik." Ucap Yoga yang langsung menuju kamar Netanya.
Saat di depan kamar langkah Yoga terhenti ketika mendengar Netanya berbicara dengan Nayya dan Mamanya.
"Apa alasan Adek sedih cuma karena Yoga pergi ke LN?" Tanya Nayya.
"Kakak, cewek-cewek disana cantik-cantik dan juga seksi. Nah, adek masih anak sekolah." Ucap Netanya di sela isak tangisnya.
"Tapi kan Yoga kerja dek kesana bukan mau jalan-jalan." Tegas Nayya lagi.
"Tapi, kalau rekan kerjanya perempuan cantik dan seksi gimana? Nanti Mas.Yoga di goda terus di jebak. Aaaa.... Ga tau ah." Ucap Netanya menelungkupkan wajahnya di antara dua kakinya dan terisak.
__ADS_1
"Astaga Adek. Kamu tuh ya kebanyakan baca novel jadi hayalan kamu kemana-mana. Kalau cuma rekan kerja perempuan cantik dan menggoda sih ga perlu ke LN kali dek. Di sini juga banyak yang berpotensi seperti itu tapi inget. Kita harus percaya kepada pasangan kita dek. Masa iya dia mau merusak reputasinya sendiri." Jawab Nayya panjang kali lebar luas keliling.
"Kakak.." Ucap Netanya manja.
"Lagian adek. Kalau adek kaya gini artinya adek ga dukung kerjaannya dia dong. Klo dia bangkrut kita juga yang repot." Ucap Nayya.
Netanya pun diam menunduk.
"Maksud adek bukan gitu Kak. Adek sedih aja mau pisah sama Mas.Yoga. Meskipun hanya untuk beberapa hari kedepan. Tapi, adek ga tau hiks hiks.." Ucap Neta menggantung dan kembali menangis.
Yoga pun tak tahan dirinya langsung masuk karena pintu terbuka. Nadin yang melihatnya langsung berdiri menghampiri. Yoga pun mencium punggung tangan Nadin.
Nadin menepuk bahu Yoga seperti memberi kode untuk segera di selesaikan urusannya dengan Netanya. Kemudian Nadin keluar. Yoga menepuk bahu Nayya lembut memberitahukan padanya biar dia yang atasi masalahnya bersama dengan Netanya.
Nayya menoleh dan bangkitndari duduknya kemudian keluar. Yoga duduk di kursi yang tadi di duduki Nayya. Di pandanginyabgadis kecil yang telah meporak porandakan hatinya.
"Sayang," Panggil Yoga memegang bahu Netanya.
Netanya mengangkat kepalanya dan menatap Yoga kemudian menghambur kedalam pelukannya.
"Maafin Neta Mas." Ucapnya dalam isak tangisnya.
"Untuk apa?" Tanya Yoga mengusap lembut rambut Netanya.
"Neta egois tidak mengijinkan Mas pergi. Padahal ini untuk pekerjaan Mas." Keluh Neta.
"Andai Mas bisa bawa kamu pasti Mas bawa sayang." Ucap Yoga.
Netanya semakin erat memeluk Yoga begitupun dengan Yoga yang membalas pelukan Netanya dengan erat.
Setelah drama yang cukup menguras emosi bagi Nayya dan penuh tangisan bagi Netanya akhirnya mau tak mau Yoga pun pergi setelah mendapatkan seulas senyuman dari Netanya.
Bagaimana pun Yoga harus datang untuk mnegurus perusahaannya yang di pimpin oleh Kakaknya dikarenakan Kakak Yoga tengah sakit dan hanya Yoga yang bisa mewakilkannya.
Kepergian Yoga tanpa di antar oleh Netanya. Karena Netanya tak sanggup melihat Yoga pergi. Yoga pun memahaminya.
"Ga nyangka banget Kak.Yoga begitu bucin sama anak kecil kaya kamu Dek." Ucap Nayya.
"Kakak..." Teriak Netanya.
"Kakak, udah ih jangan ganggu adek kamu ucap Amel.
"Nayya kenal Kak.Yoga sejak kuliah. Orangnya dingin dan tegas Onty. Ga nyangka banget kalo dia bakalan lumer sama bocil ini." Jelas Nayya lagi.
"Cinta kan ga mandang usia Kak." Jawab Amel.
"Iya juga sih Nty." Jawab Nayya lagi.
__ADS_1
"Adek suruh Kak.Rama tugas ke LN biar Kakak tau rasanya gimana." Umpat Netanya.
"Dih, kok do'anya gitu." Kesal Nayya.
"Adek, Kakak. Ayo sini bakar ikan kalian malah ribut sendiri aja." Ajak Nadin.
"Iya Mah. Adek nih nyebelin." Ucap Nayya mengadu.
"Kakak yang mulai ya." Ucap Netanya.
Saat mereka semua membakar ikan. Nathan dan Rama datang bersamaan.
"Wah, lagi pada bakar ikan nih kayanya. Baunya enak." Ucap Nathan.
"Let's go kita sikat Dek." Ajak Rama.
"Siapa takut." Ucap Nathan.
Keduanya memang sudah sangat akrab seperti seorang teman walau usia mereka terpaut jauh. Keduanya tak seperti adik ipar dan kakak ipar. Keduanya bak saudara sekandung yang sangat akrab.
Tak jarang banyak orang menyangka justru Nathan dan Rama lah yang kakak beradik bukan Nathan dan Nayya.
"Assalamu'alaikum.." Ucap Nathan dan Rama bersamaan.
"Wa'alaikum salam.." Jawab semuanya yang tengah asik membakar ikan.
"Papi.." Teriak Kanaya.
"Hai princess. Wa, Kakak punya apa?" Goda Rama.
"Itan Papi. Ka tankap tadi." Ucap Kanaya.
"Owh! Kakak tangkap sendiri ikannya." Tanya Rama. Dan Kanaya pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya mantap.
Rama pun gemas dan mencium pipi gembul Kanaya.
"Mas, mau mandi dan ganti baju dulu atau mau langsung makan?" Tanya Nayya menghampiri keduanya.
"Makan aja dulu lah Yang." Jawab Rama kemudian menggulung lengan kemejanya sampai ke siku.
Nathan pun melakukan hal yang sama dengan Rama. Keduanya memilih langsung makan dari pada mandi terlebih dahulu. Karena ikan bakarnya begitu menggoda lambung mereka.
Netanya pun sedikit melupakan kepergian Yoga dengan suasana yang begitu hangat dan menyenangkan. Opa dan Papa memang sangat tepat memilih acara bakar ikan untuk menghibur Netanya. Walaupun mereka tau pastilah Neta akan bersedih kembali ketika dirinya berada di kamar sendiri.
Setelah acara bakar-bakaran ikan Rama, Nayya dan Kanaya pun berpamitan untuk pulang.
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya, vote juga boleh kok 😊. Kasih hadiah juga boleh kok 😊. Terima Kasih 🙏🙏🙏
__ADS_1