Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Berpelukan


__ADS_3

Refa dan Rafa terus bercerita kepada Ayah dan Bundanya. Mereka bercerita bagai tak ada lelah.


"Sayang, cucu-cucu Enin. Sudah dulu ya ceritanya. Kasian Ayah sama Bundanya baru aja datang. Suruh istirahat dulu." Ucap Mamah Arif.


"Maaf Ayah, Bunda. Kita lupa kalau Ayah sama Bunda baru saja sampai. Sekarang Ayah sama Bunda istirahat saja dulu. Kakak sama Adik main dulu sama Engki." Ucap Refa bijak.


Amel yang mendengar penuturan anaknya merasa terharu. Refa saja yang masih sekecil itu sangat dewasa dan berani meminta maaf. Kenapa dirinya yang sudah tua bersikap kekanak-kanakan. Tak terasa bulir bening mengalir di pipinya.


"Bunda, Bunda capek ya? Maafin Kakak sama Adik ya." Ucap Refa kembali sambil mengusap air mata Amel.


"Ngga sayang. Bunda seneng ko bisa denger cerita Kakak sama Adik." Jawab Amel.


"Tapi, kenapa Bunda menangis?" Tanya Rafa polos.


"Karena Bunda sangat merindukan kalian Nak." Jawab Amel dan merentangkan tangannya agar kedua anaknya bisa masuk ke dalam pelukkannya.


"Kakak sayang Bunda." Ucap Refa seraya menghambur kedalam pelukan Amel.


"Adik juga sayang Bunda." Ucap Rafa dan juga menghambur kedalam pelukan Amel.


Ketiganya saling berpelukan. Arif begitu terharu melihat inreraksi Kedua anaknya dan Istrinya. Pasalnya, beberapa waktu lalu Amel sangat bahkan tak pernah berlaku hangat seperti itu kepada kedua anaknya.


"Ga ada yang sayang sama Ayah nih?" Goda Arif dengan ekspresi di buat seolah cemburu.

__ADS_1


Ketiganya langsung menoleh ke arah Arif. Tak lama saling tatap ketiganya menghambur memeluk Arif. Cukup lama mereka berempat saling berpelukan. Kemudian Arif melonggarkan pelukannya dari tiga orang kesayangannya.


"Kenapa Yah? Ayah sudah tidak sayang Kita?" Tanya Refa.


"Justru karena Ayah sangat merindukan kalian makanya Ayah lepas pelukannya." Arif.


"Ayah aneh ya Bun. Kangen kok pelukkannya di lepas." Dumel Amel.


"Ngga. Karena Ayah sayang kalian makanya Ayah lepas pelukkannya." Ucap Arif.


"Kenapa?" Tanya ketiganya.


"Kita makan yuk. Karena Enin sudah menyiapkan makan dan Ayah sangat lapar." Ucap Arif beranjak dari duduknya.


Sekarang semua sudah berkumpul di meja makan. Mereka makan tanpa suara hanya ada dentingan sendok dan garpu yang mengenai piring. Selesai makan Amel membereskan piring bekas mereka makan. Arif tertegun melihatnya karena suatu hal yang tifak pernah Amel lakukan sebelumnya.


Selesai Amel membereskan dan mencuci piring kotor bekas mereka makan. Amel mendekati Arif yang tengah duduk di sofa depan televisi. Arif menarik pinggang Amel dan mendaratkan kecupan di kening Amel.


"Makasih sayang." Bisik Arif di telinga Amel.


"Untuk Apa?" Tanya Amel.


"Semuanya sayang." Bisik Arif kemudian membawa Amel dalam pelukannya.

__ADS_1


"Hm.. Anak-anak mana Yang?" Tanya Amel karena merasa ada yang kurang.


"Mereka ikut Mama ke restoran." Jawab Arif.


"Loh, kok kita di tinggal sih?" Rajuk Amel.


"Ga apa-apa sayang. Jadi kita bisa berduaan kan." Goda Arif.


"Ih, kamu mah Mas. Aku kan kangen mereka." Ucap Amel sambil mengerucutkan bibirnya.


"Jangan cemberut gitu. Mau goda suami kamu ini ya." Ucap Arif sambil menangkup kedua pipi Amel.


"Mas, ih. Masih siang udah mesum." Jawab Amel.


"Loh, apa salahnya? Kan mesum juga sama istri sendiri bukan istri tetangga." Jawab Arif.


"Awas aja macem-macem." Amel.


"Ga akan sayang. Cukup kamu aja yang bisa bikin aku bermacam-macam." Gida Arif.


"Mas,,, ah."


Keduanya pun menikmati siang bersama tanpa gangguan kedua anaknya. Kemudian Amel terkapar di bawah selimut di siang hari di akibatkan ulah suaminya.

__ADS_1


Sampai disini dulu ya semuanya. Yang kangen partnya Nadin sama Angga sabar dulu ya. Jangan lupa like dan komennya. Terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2