Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
To the poin


__ADS_3

Nadin dan Angga keluar dari kamar menemui sahabat-sahabat Nadin. Nando sudah malas melihat Nadin, karena kesal harus menunggu lama. Nadin dan Angga duduk berdampingan. Ibu dan Ayah kekamar lebih dulu membiarkan anak-anak memyelesaikan masalahnya sendiri.


Nadin memberikan dua lembar foto kepada Nando.


"Apa maksudnya ini?"


"Lu liat aja ada yang aneh ngga?"


"Tapi ini dua foto berbeda?"


"Iya."


"Lu nyuruh kita kesini cuma mau liatin foto ini aja Nad?"


"Iya. Gw mau Lu liat dua foto itu. Apa ada yang aneh?"


"Ini foto lama Nad. Kalau pun ada yang aneh pastinya udah kita bahas dari dulu."


Kasih keluar dari kamar meninggalkan Tina sendiri. Kasih duduk di samping Rian suaminya.


"Lu ga bisa liat aja dulu gitu Nan?"


"Lu apaan sih Kas datang-datang nyamber lagi."


Semua kembali diam. Nadin menatap dalam suaminya. Angga menggenggam erat tangan Nadin dan menganggukan kepalanya. Seolah memberi kekuatan penuh pada Nadin.


"Nan, Gw mau to the poin kalo emang Lu ga liat keanehan di foto itu."


"Apaan sih Nad. Gw ga ngerti."


"Nan, Kita ini bersahabat bukan baru kemarin bahkan kita sudah seperti saudara sendiri. Kita saling bahu membahu saling tolong menolong. Tanpa ada pamrih si A lebih sering menolong, si B lebih sering di tolong."


"Sekarang mau Lu apa?"

__ADS_1


"Lu bisa diem ga. Jangan motong dulu." Saut Arif.


"Oke. Gw lupa Lu sekarang adik beradik sama Nadin."


"Bukan gitu Nan. Lu jangan sensi gitu kenapa?" Ucap Ivan.


"Bisa gw lanjut lagi?" Tanya Nadin. Semua hanya mengangguk.


"Masalah keuangan pabrik. Kenapa Lu ga bisa jujur ke kita kalo Lu butuh uang. Kita semua merasa Lu udah ga percaya lagi sama kita. Daaan, yang bikin kita semua bener-bener kecewa berat sama Lu bukan hanya karena masalah uang. Tapi, kita kecewa karena Lu pake duitnya bukan untuk keluarga Lu."


"Maksud Lu apa?"


"Lu, boleh mengelak tentang masalah keuangan sama kita semua. Lu juga boleh mengelak masalah perselingkuhan Lu sama kita. Tapi gimana kalo Keluarga Lu tau tentang semua ini?"


"Omong kosong apa sih ini."


"Kita ga akan ikut campur masalah rumah tangga Lu Nan. Tapi kita harap Lu bisa berfikir positif tantang masalah ini Nan." Sambung Kasih.


"Lu juga harus sadar Nan. Pas Lu sama keluarga Lu pernah ga Lu sampe pake duit pabrik. Jadi, apa manfaatnya Lu selingkuh?" Cecar Ivan.


Nando mulai diam tak berkutik. Saat semua hening. Tiba-tiba ponsel Nando berbunyi. Tertera nama "Beb" dan terbaca oleh Kasih yang berada di kursi samping Nando.


Kasih menahan amarahnya karena dia tau ponsel Tina berada di tangan Nadin.


"Siapa?" Tanya Ivan seolah tau tatapan Kasih.


"Tina." Jawab Nando bohong.


"Angkat saja siapa tau penting Nan." Sindir kasih. Sambil menahan amarahnya.


Nando mematikan ponselnya. Dan ponselnya terus berdering. "Angkat aja dulu Nan. Barangkali ada apa-apa sama anak bini Lu." Sambung Rian.


"Halo?"

__ADS_1


"..."


"Di kota C."


Begitu Nando mengatakan "Dikota C." Semua mata saling berpandangan kecuali Nando. Karena Nando tak pernah mengatakan itu pada Tina tapi langsung to the poin jika dirinya tengah berada di kediaman Bagaskara.


Nando mengakhiri panggilannya. Dengan nada yang begitu janggal terdengar oleh semuanya.


"Tadi Tina Nan?" Tanya Nadin.


"Iya. Dia nanya kenapa Gw belum pulang."


"Lu yakin? Emang Lu belum bilang kalo Lu mau kesini?"


"Yakinlah. Udah sih tadi di WA. Mungkin belum kebaca."


"Lu yakin itu Tina?" Tanya Nadin kembali.


"Lu kenapa sih Nad?"


"Gw cuma nanya itu Tina?"


"Iya Nad. Harus gw liatin buktinya?"


"Ngga. Tina punya berapa ponsel?"


"Satu lah. Kenapa sih Lu?"


"Ini bukan?" Tanya Nadin sambil memperlihatkan ponsel Tina yang berada di tangannya.


Seketika raut wajah Nando berubah pucat melihat ponsel istrinya berada di tangan Nadin.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2