Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Kebanggaan Ayah


__ADS_3

Semua merasa lega ternyata Nadin tidak marah seperti perkiraan mereka semua. Angga menghampiri keduanya dan memeluk anak dan istrinya.


"Pa, Nayya pecahin hape Mama." Keluh Nayya.


"Ngga apa-apa sayang. Nayya sudah mau mengakuinya kan?" Nayya hanya mengangguk.


Nadin memeluk Nayya erat. Hatinya memang sedih melihat hape dengan sejuta kenangan pecah tapi lebih sedih lagi melihat anaknya. Nadin sangat mencintai Nayya melebihi apapun.


Nayya kembali bermain dengan Mba.Sus. Nadin berkumpul kembali bersama sahabat-sahabatnya.


"Sayang, mau beli hape sekarang?"


"Nanti aja deh Ka. Tolong hubungi Mama aja takut khawatir anaknya ga bisa di hubungi."


"Baiklah." Angga hanya bisa menyetujuinya.


Kebanggaan Ayah pada Nadin semakin bertambah. Ayah sangat menyayangi Nadin menantunya. Nadin tak pernah membedakan siapapun.


"Nad, Ayah belikan saja lagi ponselnya yah?"


"Iiih,, ga usah Yah. Nanti Nadin minta Kaka aja."


"Tumben Nad, Lu minta laki Lu?" Saut Arif yang baru aja datang bersama Amel.

__ADS_1


"Nyambung aja Lu. Teteh. Kebiasaan Lu."


"Yaelah Nad, lupa gw. Kebiasaan dari orok sekarang mesti bilang Teteh kan aneh."


"Serah Lu dah."


"Minta apa Teh?"


"Ponsel Nadin pecah." Jawab Nurul.


"Loh, tumben Lu ga nangis tujuh hari tujuh malem? Lupa ketinggalan aja udah kaya cacing kepanasan Lu." Saut Arif.


"Anak gw yang pecahin. Masa iya gw marahin. Klo Lu yang mecahin baru gw ngamuk."


"Pantes."


"Gw mah tau tempat ngga kaya Nando."


Semua pun tertawa mendengar kata Nando. Karena Nandolah yang paling temperamen diantara Nadin, Arif, Ivan dan Kasih.


"Bu, sepertinya Baby Nathan kehausan." Ujar Mba.Sus. Nadin pun langsung mengambil alih Baby Nathan dan segera membawanya kekamar untuk di su**i.


Kasih, Amel, Nurul dan Santi mengekor di belakang Nadin. Para suami hanya menggelengkan kepala melihat istri-istrinya.

__ADS_1


"Gw salut banget ama bini Lu Ga. Bisa banget ngontrol emosinya." Ujar Iwan.


"Kalo gw sering banget pergi ketemu klien yang komplen atau ada masalah lapangan. Dia paling bisa di andelin." Saut Aldo.


"Kenapa dia ga milih praktek di Rumah sakit?" Tanya Rian.


"Karena dia mau cari Nayya. Dan menurut dia kalo kerja di rumah sakit waktu untuk Nayya akan sedikit. Kalo ngajar waktunya bisa di sesuaikan." Jawab Angga.


"Nadin memang penuh perencanaan sejak dulu." Tambah Arif.


"Selama Lu kenal dia berapa kali dia marah?" Tanya Iwan pada Arif.


"Kalo marah gede sih paling dua atau tiga kali kayanya itu pun faktor dari luar bukan intern dari kita. Paling sering sih kalo diantara kita ada yang ga on time atau ada sesuatu yang tertinggal pas kita pergi. Semacam uring-uringan sih bukan marah." Jelas Arif.


"Gil* beruntung banget sih Lu Ga." Ucap Iwan.


"Gw yakin banget pas ketemu pertama kali sama dia. Yang gw ga yakin ya dia bisa nerima gw dengan status gw."


"Dan ternyata dia pilihan masa lalu Lu?" Potong Aldo. Angga hanya mengangguk.


"Gw tau Ka. Lu sebenernya sedikit kecawa ya. Lu kaya dibohongi banget."


"Iya. Tapi pas denger cerita penuhnya. Gw makin yakin dia orang yang gw cari. Apalagi dia sayang banget sama anak gw."

__ADS_1


Mereka pun terus berbincang hingga waktu makan malam tiba. Maid sudah memberitaukannya. Ibu dan Ayah sudah di posisinya. Semua anak-anaknya satu persatu berkumpul di meja makan. Ibu dan Ayah sangat senang semua bisa berkumpul bersama. Itulah salah satu alasan Angga dan Amel tidak boleh pindah rumah.


Tbc..


__ADS_2