
Pagi-pagi sekali Ibu dan Ayah datang ke rumah sakit untuk berpamitan kepada anak dan cucunya. Nayya yang di ajak pulang pun menolak karena ingin bersama mama dan papanya.
"Ya sudah kalo begitu Oma sama Opa pulang dulu ya sayang."
"Iya Oma."
Ibu dan Ayah pun pulang diantar oleh supir yang membawa Angga dan Nadin kemarin. Dokter yang memeriksa Nathan pun datang bersama dengan suster.
"Selamat pagi anak ganteng." Sapa Dokter anak yang biasa menangani Nathan.
"Pagi Doktel." Jawab Nathan.
"Pagi Dok. Silahkan." Sapa Nadin.
"Loh, Nadin Kan?"
"Dokter Heru? Dokter praktek disini?"
"Iya sudah dua tahun. Jadi Nathan anak kamu?"
"Iya Dok. Perkenalkan ini Suami saya. Pas Nathan sakit kebetulan sedang berlibur di rumah Mama."
"Angga."
"Heru."
"Berarti Kamu dan Indah?"
"Kakak beradik Dok."
"Owh! Begitu rupanya."
"Iya Dok."
Dokter Heru pun memeriksa keadaan Nathan. Ternyata sudah tak ada masalah. Nathan sudah menunjukan keadaan yang semakin membaik.
"Wah, hebat anak hebat. Kalo Nathan mau makan banyak besok sudah bisa pulang sayang."
"Telima kasih doktel." Jawab Nathan.
__ADS_1
"Terima kasih Dok." Ucap Angga.
"Sama-sama. Tidak perlu sungkan." Jawab Dokter Heru.
Sementara Nadin tengah mengurus Nayya.
"Mari saya permisi dulu." Pamit Dokter Heru.
Sepeninggalannya Dokter Heru Nadin menyuapi Nathan makan sementara Angga dan Nayya makan di kantin sekalian membeli sarapan untuk Nadin.
"Anak pinter. Habisin ya makannya."
Nathan hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan. Saat suapan terakhir Angga dan Nayya datang.
"Waah,, adek hebat. Makannya sudah habis." Puji Angga pada Nathan.
"Iya dong Pah. Kan Nath mau jadi Kaka."
Dengan gemas Nadin nencium pipi Nathan.
"Mama,,, jangan tium-tium kaka dong."
"Hmm... Kenapa? Kaka kan anaknya Mama juga sama seperti Kaka Nay dan dedek bayi dalam perut Mama."
Nayya yang mendengarnya langsung menghambur kepada Nathan dan memeluknya. Angga dan Nadin tersenyum bahagia melihat keakraban kedua anaknya.
Angga pun merangkul pundak Nadin dan menyandarkan kepala Nadin di dadanya. Mengecup puncak kepala Nadin.
"Terima kasih sayang. Kasih mu sungguh luar biasa."
Nadin hanya tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Mereka berempat pun berpelukan penuh kasih.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikum salam." Jawab Nadin dan mengarahkan pandangannya ke sumber suara.
"Ndah,,," Ucap Nadin dan menghampiri Adiknya.
"Teteh apa kabar?"
__ADS_1
"Baik Dek."
Indah pun beralih pada Angga dan mencium punggung tangan Angga sebagai tanda hormatnya. Dan Angga mengusap puncak kepala Indah.
"Ndah dengar dari Mama teteh sedang hamil?"
"Alhamdulillah Dek. Teteh di percaya lagi."
"Berapa bulan Teh?"
"Tiga jalan empat Dek."
"Hah! Sudah sebesar itu Teteh ga ngerasa?"
"Ngga Dek. Teteh fikir ya ini lagi gemuk aja." Jawab Nadin sambil tersenyum.
"Tapi kan berasa di perut Teh."
"Mungkin saking repotnya persiapan ke pulau kemarin jadi Teteh kurang merhatiin."
"Sehat-sehat ya teh. Sehat Ibu sehat Bayinya."
"Terima kasih Bu Bidan." Jawab Nadin sambil memeluk Indah.
Mereka pun bercengkrama bersama. Hari ini Indah lepas piket malam. Jadi, Indah punya waktu untuk bercengkrama bersama Nadin.
Tak terasa waktu pun cepat berlalu. Karena sudah siang akhirnya Indah pamit pulang karena belum sempat pulang selepas piket malam.
"Hati-hati dijalan ya Dek."
"Iya Teh. Besok jangan langsung ke kota C ya. Kumpul dulu di rumah."
"Iya."
"A, Indah pamit ya."
"Iya dek hati-hati ya."
"Salam untuk Nayya dan Nathan. Kasian mereka tidur."
__ADS_1
Nadin pun mengantarkan Indah sampai depan kamar perawatan Nathan. Senyumnya terus mengembang bersama adik kesayangannya.
Tbc...