
Sepulang dari rumah sakit keadaan Nadin cukup membaik namun manjanya kepada Agga semakin bertambah. Angga menikmati masa manja istrinya. Karena Nadin adalah wanita mandiri yang tak pernah manja kepada suami sebelumnya. Sekarang semua berbalik Nadin sangat tergantung kepada Angga.
Aktifitasnya di kampuspun dijalaninya kembali tanpa mengeluh walaupun kadang rasa mualnya mengganggu konsentrasinya. Namun Nadin tetap mengajar apapun yang terjadi. Dengan begitu Nadin berharap konsentrasinya teralihkan kepada kegiatannya jadi rasa mualnya tidak begitu hebat.
Seperti hari ini semua berkumpul di depan laboratorium untuk melakukan praktek. Mahasiswa Mahasiswi nya Nadin sudah bersiap di depan laboratorium menunggu giliran.
"Bu, istirahat makan dulu." Ucap salah satu mahasiswi dengan membawa kotak makan.
"Loh, dari mana ini?"
"Dari Bu.Kasih Bu di depan tadi."
"Owh! Iya. Makasih ya."
"Sama-sama Bu."
Nadin pun melanjutkan mengajarnya sambil makan makanan yang diberikan Kasih. Sebelumnya Nadin memohon ijin kepada Mahasiswa Mahasiswi nya. Semua sudah mengetahui Nadin tengah hamil.
Hari ini berjalan sangat aman proses belajar mengajarnya. Nadin dapat menyelesaikannya dengan baik tidak seperti beberapa hari kebelakang.
Angga sudah menunggu di parkiran. Angga berdiri menyender pada mobilnya. Mahasiswi yang melihatnya merasa tersihir melihat ketampanan Angga. Badan tegap sangat menunjang ketampanan wajahnya ditambah kacamata hitam yang bertengger di matanya. Angga tersenyum menyambut kedatangan Nadin yang sudah terlihat oleh Angga dari kejauhan.
Para Mahasiswi meleleh melihat senyuman Angga. Walaupun bukan tertuju pada mereka. Banyak Mahasiswi yang nerasa iri kepada Nadin karena mendapatkan suami yang sempurna. Namun tak banyak juga yang memuji karena pasangan Nadin dan Angga sangat serasi.
Nadin mencium punggung tangan Angga begitu berdekatan dengan Angga. Angga mengusap puncak kepala Nadin. Angga membuka pintu penumpang dan Nadin masuk kedalamnya. Setelah itu Angga memutar dan masuk kedalam pintu kemudi.
Aldo melihat Angga menjemput Nadin dari kejauhan. Aldo tersenyum bangga.
"Yang, ko senyum sendiri sih?"
"Itu Aku liat Nadin sama Angga."
__ADS_1
"Iiih, ngintip.."
"Seneng ya liat mereka. Angga sayang banget sama Nadin."
"Alhamdulillah ya yang. Beda sama Anya dulu."
"Iya. Entah kenapa dulu Angga mau menikah sama Anya."
"Hanya mereka yang tau yang. Udah yuk pulang."
Aldo pun menggandeng Santi menuju parkiran. Semua mahasiswa mahasiswi ataupun pegawai yang berpapasan dengan mereka pasti menganggukan kepalanya. Karena Aldo kepala Yayasan sekolah tersebut.
Sementara di mobil Angga. Nadin memeluk lengan Angga seolah tak mau lepas.
"Mau beli sesuatu sayang?" Tanya Angga lembut.
"Mmmm... Mau kue ape yang."
"Yang di deket pasar kayanya masih ada deh."
Angga pun langsung memutar mobilnya kearah pasar dan berdo'a semoga oenjual kue Ape masih ada. Karena kalo sampe ga ada Angga harus mencari memutari kota C sampai dapat.
Sampai di dekat pasar Angga sudah melihat penjual Kue Ape dari kejauhan lega rasanya semoga saja Kuenya masih ada.
"Pak, mau kue nya masih ada?"
"Ada dua lagi Den. Adonannya habis."
"Alhamdulillah ngga apa-apa Pak. Buat istri saya lagi ngidam."
"Alhamdulillah. Semoga sehat sampai hari H ya Den."
__ADS_1
"Iya Pak Terima Kasih. Ini Pak uangnya."
"Ngga usah Den. Ambil aja Bapak ikut seneng."
"Masya Allah. Sekali lagi Terima Kasih ya Pak. Semoga kebaikan Bapak di balas yang lebih sama Allah."
"Amin."
"Mari Pak."
"Mari.."
Angga membawa kuenya pada Nadin. Nadin berbinar melihat Angga menenteng kuenya.
"Ada yang?"
"Alhamdulillah tinggal dua yang."
"Asiiik."
Nadin pun langsung melahap kuenya sampai habis. Saat suapan terakhir Nadin baru ingat belum menawari Angga.
"Up's! Ayang mau?"
"Ngga. Semuanya buat istriku tersayang."
"Aaaa.... Makin sayang deh."
Nadin menyuapkan suapan terakhirnya dan memeluk lengan Angga. Angga mengusap puncak kepala Nadin dan mengecupnya. Setelah Nadin minum Angga kembali menjalankan mobilnya perlahan menuju rumah.
Tbc.....
__ADS_1