Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Es Krim


__ADS_3

Iwan dan Nurul datang membawa es krim berbagai rasa. Santi dan Dina melihatnya.


"Waaah,,, sayang banget deh sama kalian. Makasih."


"Sssttt.... buat bumil." Jawab Nurul.


"Kenapa lagi?"


"Kata Mas.Iwan ngambek gara-gara Ka.Angga ke kantor lupa ngabarin."


"Hmmm... Ka.Angga cari masalah."


"Gw anterin dulu ya."


Nurul pun kebelakang membawa wadah untuk es krim dan membawanya ke atas ke kamar Angga dan Nadin. Nurul mengetuk pintu kamar dengan perlahan. Angga membukakan pintu kamar.


"Eh, Rul. Banyak banget."


"Iya Ka. Tadi lupa nanya mau rasa apa jadi kita beli satu-satu semua deh." Jawab Nurul cengengesan.


"Makasih ya Rul. Nanti kita gabung kebawah yah. Tapi jangan singgung ini yah."


"Siap Bos." Jawab Nurul sambil mengangkat tangan hormat.


Angga pun membawa es krimnya masuk dan memperlihatkannya kepada Nadin. Dan Nadin pun melahapnya perlahan sampai habis semua. Angga sedikit heran namun senang akhirnya Nadin bisa mencair kembali. Herannya Nadin tak pernah makan es krim sebegitu banyak namun kali ini Nadin habiskan semuanya.


"Alhamdulillah... Sehat terus ya sayang."


Nadin tersenyum kepada Angga dan menyerahkan mangkok bekas es krimnya. Angga menerimanya dan menyimpannya di atas nakas.


"Kita keluar yah. Kayanya anak-anak udah pada kumpul." Nadin menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


Nadin menggelayut manja pada Angga. Mereka berdua keluar dari kamar dan Nadin tak lepas dari Angga. Nadin yang biasanya begitu hangat menyambut para sahabatnya kini hanya diam bermanja pada Angga.


"Baby,,, sini doooong peluk sama aku." Pinta Kasih pada Nadin.


Nadin pun memeluk Kasih sebentar dan selepas itu Nadin kembali mencari Angga dan nempel kembali pada Angga. Nadin lepas dari Angga hanya untuk di ukur oleh pegawai butik.


"Mba, nanti di tambah 2 atau 4 senti yah. Barangkali sesek bagian perutnya."


"Iya Mba. Tapi kayanya bagian perut aja yah."


"Iya Mba. Katanya perut aku aja yang maju." Keduanya tertawa bersama.


Angga melihatnya dan merasa senang. Aldo melihatnya dan mendekati Angga.


"Salut gw sama Lu Bro. Pertahankan ya."


"Amin Bro."


"Semoga gw bisa kaya Lu ya Bro." Saut Rian.


"Belum dong Bro. Masa baru seminggu udah isi aja. Sabar dong Bro."


"Iya dasar Lu Do. Emang Elu. Bini ga dikasih nafas. Diisi terus." Ledek Angga.


"Eh, ngga ya. Buktinya sekarang bini gw ga hamil."


"Serius. Kita tanya Santi Coba." Ledek Rian.


"Ah, gil* ya lu pada."


"Wan, Nurul udah berapa bulan?"

__ADS_1


"Apaan?"


"Hamil."


"Eh, gil* Lu. Ntaran dulu kali. Bini gw sesar ya."


"Kirain Lu kaya si Aldo." Ledek Rian.


"Manusiawi gw."


"Sial*n Lu. Lu fikir gw ga manusiawi. Itu mah keceplosan."


Mereka berempat pun tertawa bersama. Kemudian datang Ivan dan Nando. Percakapan mereka pun semakin heboh. Ditambah Arif calon pengantin yang menjadi bahan ledekan mereka. Pandangan Angga tak pernah lepas dari Nadin. Begitu Nadin selesai di ukur Angga langsung menghampirunya kembali.


Nadin duduk diantara Amel dan Kasih Angga duduk di hadapan mereka. Karena walaupun Nadin bersama dengan yang lain Angga ngga boleh lepas dari pandangannya.


"Nad, Ibu sama Ayah beli es krim nih mau?" Saut Ibu yang baru saja datang dari luar bersama Ayah.


"Waaah,,, mau dong teh bagi." Saut Amel.


"Makasih ya Bu, Yah."


"Sama-sama sayang."


"Arif ga di beliin Bu?"


"Ah, kamu mah beli sendiri udah gede."


Semua pun tertawa. Ibu dan Ayah memang selalu memanjakan anak-anaknya. Arif tak sakit hati dengan ucapan Ibu. Karena mengerti keadaan Nadin.


Amel pun membawa wadah untuk es krim yang ibu bawa. Amel dan Nadin memakan es krimnya. Yang lain pun kebagian es krimnya karena es krim yang ibu bawa cukup banyak.

__ADS_1


Angga tersenyum pada Nadin. Nadin pun membalas senyuman Angga.


Tbc.....


__ADS_2