
Malam ini sesuai janji Nayya tidur bersama Nadin. Nadin bercerita sebelum Nayya tertidur. Setelah Nayya tertidur Nadin keluar untuk membawa minum seperti biasa. Di dapur Nadin bertemu maid yang sedang menyiapkan makan.
"Malam-malam begini siapa mau makan bi?"
"Eh, neng Nadin. Bikin kaget aja. Itu neng ada temannya den.Angga datang."
"Siapa?"
"Den.Rian, den.Aldo sama den.Iwan."
"Owh! Biar saya yang bawa bi. Bibi istirahat aja."
"Ngga apa-apa neng. Saya ngga enak sama neng.Nadin."
"Udah ngga apa-apa bi. Sana bibi pasti capek. Bibi istirahat aja ya."
Nadin pun membawakan makanan yang sudah disiapkan bibi ke halaman belakang tempat Angga dan kawan-kawan berkumpul.
"Waw... Pelayannya baru nih." Canda Rian.
"Loh, ko kamu sayang."
"Wuiiiih... Udah sayang aja." Canda Aldo.
"Kayanya gw deh yang ketinggalan info."
"Kasian bibi aku suruh istirahat."
"Nayya udah bobo?"
"Udah. Ka.Rian gw fikir nganterin Kasih."
"Ngga Kasih pulang bawa mobil sendiri. Tad gw ada rapat jadi ga bisa nganter."
"Owh! Gitu. Udah ada kabar dari Kasih?"
"Udah. Cek hape deh Nad kebiasaan Lu."
"Eh, iya ya. Maaf ga sempet."
__ADS_1
"Pacaran mulu sih Lu." Canda Aldo.
"Diiih,,, bilang Ka.Santi ya."
"Aduuuuh... Kasian banget sih gw ga tau apa-apa. Kalian udah akrab banget kayanya."
"Makanya Ga. Jangan kasih dia kerjaan terus kasian. Ampe ga tau CEOnya punya gebetan."
Semua pun tertawa melihat Iwan yang nampak kebingungan melihat keakraban sahabatnya bersama Nadin. Nadin pun pamit kembali masuk setelah memberikan makanan dan minuman.
Iwan pun tampak masih penasaran. Setelah Nadin masuk Iwan terus bertanya perihal Nadin kepada tiga sahabatnya. Setelah mendapatkan jawaban dari ketiga sahabatnya Iwan masih merasa tak percaya dengan cerita ketiga sahabatnya itu.
Angga pun memanggil Nadin lewat pesan singkat. Tak lama Nadin keluar.
"Kenapa ka?"
"Ini Iwan tanya tentang pertemuan kita. Dan kenapa kamu kaya yang cuek gitu sama dia."
"Owh! Gitu. Klo masalah cerita tentang pertemuan antara gw sama Ka.Angga gw yakin semua udah dijelasin sama mereka ya. Terus apa yang masih jadi pertanyaan?"
"Kenapa Lu tadi kaya jutek gitu sama gw sementara lu ketemu mereka berdua asik aja tuh."
"Ko pada ketawa sih?"
"Jadi itu yang masih ngeganjel Wan?" Tanya Rian.
"Iya."
"Klo itu mah bukan cuma je Lu doang dia kaya gitu. Selama dia ga ada perlu dan lu juga ga ada perlu sama dia. Lu bakalan ga di anggep sama dia." Jelas Rian.
"Loh, emang kenapa?"
"Gw kaya gini bukan cuma sama lu aja kali ka. Mau lu cewek juga gw bakal ngelakuin hal yang sama."
"Ko bisa gitu?"
"Itu yang buat dia istimewa buat gw."
"Istimewa apaan. Aneh itu mah."
__ADS_1
"Semua udah pernah ngerasain di jutekin Nadin." Jawab Aldo.
"Sampe segitunya lu?"
"Karena menurut gw selama hidup gw ga nyusahin orang atau ganggu orang ya udah gw mah lempeng aja."
"Lebih ke gi** ya Nad."
Setelah obrolan mereka semakin jauh suasana pun mulai mencair. Iwan mulai mengerti alur Nadin. Nadin mulai menunjukan keterbukaannya dan penerimaannya terhadap kehadiran Iwan.
Obrolan mereka pun berlanjut hingga larut. Karena Nadin meninggalkan Nayya, Nadin pun berpamitan lebih dulu. Tak lama berselang ketiga sahabat Angga pun berpamitan pulang. Sebelum Angga naik ke kamar Angga menyempatkan kekamar Nadin terlebih dahulu.
"Belum tidur yang?"
"Baru mau. Kenapa?"
"Ga apa-apa. Cuma ngecek aja."
"Iiih, sebel deh. Yang lain udah pulang?"
"Udah."
"Ya udah Nad beresin bekas makan sama minumnya dulu ya."
"Udah biar aja besok aja sama bibi."
"Ngga enak."
"Ngga apa-apa sayang. Udah bobo sana. Met bobo ya." Angga membelai rambut Nadin.
Nadin mengangguk dan sedikit meremang karena belaian Angga. Karena tak pernah sebelumnya Nadin merasakan hal seperti itu.
Angga pun naik ke kamarnya. Membersihkan diri terlebih dahulu lalu naik ke tempat tidurnya. Sementara Nadin di kamarnya tengah tidur memeluk Nayya. Begitu nyaman Nayya berada di pelukan Nadin. Begitu juga dengan Nadin.
Angga mencoba memejamkan matanya membayangkan sosok Nadin yang tak lepas sari ingatannya. Sosok Anya yang selalu membayanginya kini benar-benar digantikan oleh Nadin. Angga merasa heran tak sedikitpun Angga membandingkan sosok Anya dan Nadin. Berbeda dengan sosok perempuan yang mencoba mendekatinya. Angga selalu membandingkannya dengan sosok Anya.
Kehadiran Nadin bagi hidup Angga mampu mengalihkan segalanya. Membuat Angga terlena dengan kenyamanan yang diberikan oleh Nadin. Nadin membuat Angga bucin. Tak pernah Angga seperti ini setelah kehilangan Anya.
Sampai disini dulu ya. Jangan lupa like dan komentnya ya. Yang punya koin boleh dong bagi tip'snya. Terima kasih... 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1