Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Saya hanya Perawat


__ADS_3

Hari ini Nathan sudah di perbolehkan pulang. Keadaannya sudah berangsur-angsur pulih. Dokter merasa sudah cukup Nathan di rawat. Perawatan sang ibu akan sangat lebih baik lagi di rumah. Apalagi Dokter Heru yang mengetahui jika Nadin seorang perawat.


"Saya yakin kamu bisa merawat anak kamu tanpa di bawa ke rumah sakit." Ucap Dokter Heru.


"Dokter berlebihan. Saya hanya perawat Dok. Masih menunggu perintah dokter." Jawab Nadin sopan.


"Beginilah istriMu Pak. Selalu merendahkan dirinya sendiri. Padahal ilmunya jauh diatas saya yang seorang Dokter." Sambung Dokter Heru pada Angga dan hanya di jawab dengan senyuman oleh Angga.


Karena Angga tau bagaimana sifat sang istri. Dia tak pernah membuatnya berbeda dihadapan siapapun.


"Jangan begitu Dok. Nanti hidung saya terbang nih di puji Dokter." Canda Nadin.


"Sering-seringlah mampir Nad. Pasti istri saya senang bertemu kamu."


"Iya Dok. Kapan-kapan." Jawab Nadin.


"Nah, begitu ini Pak.Angga. Dia selalu seperti ini. Kapan-kapan yang tak tau kapan."


Tawa pun pecah di ruang perawatan Nathan. Suster yang ikut serta bersama Dokter Heru pun merasa heran dengan kedekatan antara Dokter Heru dan orang tua pasien. Karena itu tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


"Baiklah Dok terima kasih sudah mengobati anak kami. Mampirlah jika berkunjung ke kota C." Ucap Angga sopan.

__ADS_1


"Sama-sama. Baiklah siapkan jamuan dan oleh-oleh untuk saya san keluarga ketika berkunjung ya." Canda Dokter Heru di sertai dengan tawanya.


"Dengan senang hati Dok." Jawab Nadin yakin.


Angga sekeluarga pun pamit pulang. Indah dan Doni datang menghampiri keluarga Kakanya menyempatkan dalam kesibukannya.


"Sehat terus ya jagoan onti." Ucap Indah sambil mengusap puncak kepala Nathan. Dan Nathan hanya tersenyum.


"Jangan merindukan bobok disini ya jagoan." Tambah Doni sambil tersenyum lebar pada ponakannya.


"Iya Onti, Ongkel." Jawab Nathan.


"Iya Onti." Jawab Nayya.


"Jadi anak solehah ya sayang." Ucap Dino singkat kemudian mengecup puncak kepala Nayya.


"Baiklah Dek. Terima kasih sudah di repotkanan.


"Ngga Teh. Kita ngga merasa kerepotan sedikit pun. Teteh sama Aa pulang ke rumah Mama kan?"


"Iya Dek. Kita kerumah Mama dulu kasian Nathan kalo langsung ke kota C. Biar dia istirahat dulu di rumah Mama." Jawab Angga panjang kali lebar luas keliling.

__ADS_1


"Ya sudah nanti sore kita ketemu lagi di rumah."


"Kita pamit dulu ya Dek."


"Bye Onti.. Bye ongkel." Pamit Nayya dan Nathan bersamaan.


Angga pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Nadin duduk di samping kemudi sementara Nayya dan Nathan duduk di bangku belakang berdua.


"Masing sakit kepalanya Dek?" Tanya Nayya lembut.


"Ngga Ka. Nath mau bobok."


"Sini Dek Bobok di pangku Kaka."


Nathan pun merebahkan kepalanya di pangkuan Nayya. Nayya mengusap kepala Nathan lembut sampai adiknya tertidur. Angga yang melihatnya melalui kaca spion melengkungkan bibirnya ke atas.


Nadin melirik kearah Angga lalu melirik kebelakang. Sungguh pemandangan yang sangat indah membuat hatinya menghangat. Nadin pun mengusap perutnya yang membuncit.


Angga menggenggam tangan Nadin dan mendaratkan ciuman di punggung tangan Nadin. Nadin tersenyum membalas perlakuan Angga.


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2