Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Kabar baik Kasih


__ADS_3

Karena kelelahan Nayya pun tertidur sepanjang perjanan pulang. Nadin menggendong dan membawa Nayya kekamarnya.


Setelah Nayya di tidurkan Nadin berpamitan pulang karena sudah ada janji dengan anak didiknya untuk bimbingan. Angga menyayangkan sekali karena belum sempat melepas rindunya kepada Nadin.


"Jaga kesehatan Nad jangan terlalu lelah."


"Iya Yah. Nad pamit Yah, Bu, Ka."


"Hati-hati menyetirnya." Pesan Ibu.


Nadin melajukan mobilnya perlahan dan melambaikan tangannya.


Nadin memasuki gerbang kosannya. Dilihatnya mobil Kasih sudah terparkir ditempatnya. Nadin memasuki rumah dengan membawa koper.


"Nadiiiiiin....." Kasih berhambur memeluk Nadin.


"Kasiiih... Gi** lu mati dong gw."


"Lu kemana dulu sih kata Santi lu dah balik dari tadi siang."


"Iya gw ngajakin Nayya main dulu."


"Pantesan gw buru-buru balik tapi mobil lu ga ada."


"Cie... kangen lu ya ama gw."


"Nad minggu ini balik kampung yu."


"Yaaah lu mah. Emak bapak gw kaga ada minggu ini. Lagi ketempat adek gw."


"Yaah... Gw balik gpp yah."


"Kenapa lu mau dilamar ya?"


Kasih tersenyum menjawab pertanyaan Nadin.


"Serius lu?"


Kasih hanya menganggukan kepala menjawabnya.


"Aaaa.... Selamat sayang. Anak-anak dah pada tau?"


"Belum nanti pas gw balik gw kabarin."

__ADS_1


"Klo gitu ntar gw nyusul deh PP aja dari sini tapi ya klo cape gw tidur di rumah."


Keduanya masuk kedalam. Melepas rindu dengan bersantai di dalam kamar Nadin. Keduanya saling bertukar cerita satu sama lain. Sampai keduanya terpisahkan karena Nadin harus membimbing anak didiknya.


Keesokan harinya tak seperti biasa Nadin dan Kasih pergi dengan menggunakan mobil masing-masing dikarenakan ada tugas lapangan yang berbeda.


Sampai di yayasan Nadin membawa pesanan Santi ke ruang kepala. Sementara untuk tim pengajar di letakkan di meja besar seperti biasa "Siapa mau boleh ambil".


"Bu Nad,,, alhamdulillah makasih ya. Seneng deh."


"Sama-sama bu."


"Eh, tunggu bu."


"Kenapa?"


"Cerita..."


"Masya Allah... Gw ngajar dulu seminggu anak-anak gw tinggal. Bye..."


"Nadiiiin.."


Nadin tertawa sambil berlalu pergi. Santi pun masuk keruangan membuka pesanan yang dibelikan Nadin.


Seperti biasa Nadin mematikan nada ponselnya jika berurusan pekerjaannya. Seperti seharian ini dia mengajar tak menghiraukan panggilan maupun pesan singkat di ponselnya.


Saat tiba di ruang kepala yayasan Nadin mengetuk pintu perlahan.


"Masuk."


"Permisi pak, Anda memanggil saya?"


"Duduk Nad."


Nadin pun duduk di kursi depan meja Aldo. Aldo menatap lekat Nadin. Nadin merasa ada yang aneh dengan atasannya. Nadin pun berusaha membuyarkan suasana menjadi senyaman mungkin.


"Liat ponsel kamu"


"Astagfirullah."


"Ini kali kedua Angga marah-marah sama gw. Gw ga mau tau lagi pokonya lu jelasin sama gw"


"Sebentar."

__ADS_1


Lalu Nadin pun melakukan panggilan vidio kepada Angga. Angga langsung mengangkat panggilannya dengan wajah kusut putus asa. Nadin memasang senyuman manisnya.


"Kemana aja sih?"


Nadin memberi kode telunjuk di bibirnya lalu mengarahkan kamera ke arah Aldo.


"Dia marah sama aku." Nadin memasang ekspresi cemberut.


"Eh, beg* gimana gw ga marah. Lu udah bikin gw dimarah-marahin ga jelas ama ni orang satu."


Angga dan Nadin tersenyum-senyum membuat Aldo semakin kesal.


"Gw ga mau tau lu pada mesti jelasin ke gw ada apa antara kalian."


"Yaelah Do,,, sori deh. Gw panik klo Nad ga bisa gw hubungi masalahnya ada yang lebih galak lagi nanyain Nad."


"Maksud lu?"


"Sebentar. Jelasinnya nanti aja ya. Aku masih ada jadwal ngajar. Maafin ya. Hape off terus. Nanti aku jelasin yah." Dengan tampang merayu Nadin membujuk Angga.


"Ya sudah kapan?"


"Nanti sore aja yah di rumah aku."


"Kamu udah jadi beli rumah?"


"Maksudku kontrakan aku." Nadin tepok jidat.


"Ya sudah. Nay?"


"Terserah Kaka aja gimana enaknya."


Aldo semakin penasaran ada apa antara mereka berdua. Aldo menatap tajam Nadin.


"Maaf ya bapak Aldo yang terhormat. Kita lanjutin nanti sore yah di rumah saya. Nanti bapak akan mendapatkan penjelasannya dari Bapak.Angga." Jelas Nadin sambil memasang ekspresi memohon.


"Baiklah. Silahkan kembali mengajar."


"Terima kasih. Selamat siang Pa."


Aldo geleng-geleng melihat kelakuan Nadin. Dan setelah itu memang benar-benar Nadin tak bisa di hubungi.


Sampai disini dulu...

__ADS_1


Author up ngebut. Jangan lupa like sama koment ya. Klik favorit biar ga ketinggalan ceritanya ya.


Terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2