
Pengisi acara meminta para wanita dari sahabat Nadin dan Angga untuk naik ke pelaminan untuk berfoto bersama. Dan kehebohan pun terjadi kala para bidadari naik ke atas pelaminan.
Nadin, Kasih, Santi, Dina, Tina, Amel dan Para anak perempuan mereka naik ke atas pelaminan. Setelah selesai pengisi acara pun meminta para pria untuk naik ke atas. Dan dengan gagahnya mereka naik ke atas pelaminan. Walaupun sudah tampak tak muda lagi namun aura pria masih mampu menghipnotis para wanita.
Karena Jas Rian basah akhirnya mereka semua membuka jas mereka dan berfose bebas masing-masing dengan jas mereka. Dan foto formal tanpa jas. Saat mereka semua membuka jas mereka teriakan histeris para wanita pun mengudara. Namun, para Pria di atas pelaminan hanya acuh tak acuh menanggapinya.
Setelah sesi foto para pria para wanitanya pun di minta untuk naik kembali dan berfoto bersama para lelakinya. Dan adegan saling pamer mesra pun terjadi. Dan di saat itulah ada sepasang mata yang tak terima.
Rahanganya mengeras dan tangannya mengepal. Ibu dari wanita tersebut menyadari perubahan dari putrinya dan segera mengingatkan untuk tidak berbuat macam-macam di pesta pernikahan saudara sepupunya.
Namun seolah tak mengindahkan peringatan sang Ibu. Wanita itu pun terus memandangi targetnya. Saat semua turun dari pelaminan rencananya pun segera di laksanakan. Wanita tersebut berpura-pura menjatuhkan tubuhnya ke arah Rian.
Reflek Kasih menarik tangan suaminya sehingga wanita tersebut jatuh tersungkur di atas lantai.
Bug...
Suara tubuhnya yang terhempas di atas lantai.
"Astaga! Anda tidak apa-apa dokter?" Sapa salah satu undangan yang kebetulan mengenal dirinya.
"Ah, tidak terima kasih." Ucap wanita tersebut yang tak lain adalah Dama.
"Hati-hati dok." Ucap orang tersebut lagi.
"Iya." Jawab Dama singkat.
Dama melihat Rian berjalan sendiri ke luar arena acara untuk mengangkat telfon dan kesempatan itu pun tak di sia-siakan oleh Dama. Dama segera ke luar menghampiri Rian.
"Dek, ikut Mas sebentar yuk. Ada yang mau Mas omongin." Ajak Yoga pada Netanya.
"Hm.. Ga bisa di sini aja?" Tanya Neta.
"Disini terlalu ramai. Nanti kamu dengernya ga semuanya." Jelas Yoga.
"Ya udah ayo." Ajak Netanya kemudian beranjak dari duduknya.
Keduanya pun berjalan beriringan keluar dari tempat acara. Saat keduanya keluar dari tempat acara. Keduanya melihat aksi Dama yang berusaha merayu Rian.
"Ayah." Panggil Netanya.
"Neta, ini ga seperti yang kamu lihat Nak." Ucap Rian gugup.
Senyum kelicikan pun di tunjukan oleh Dama. Dama merasa yakin dirinya menang. Yoga memandang cemas ke arah Neta. Yoga takut Neta mempercayai kejadian yang baru saja di lihatnya.
__ADS_1
"Ayah masuklah. Neta percaya kepada Ayah." Ucapnya.
Rian pun segera berlalu masuk. Sebelumnya dirinya ingin menjelaskan terlebih dahulu kepada Netanya untuk menghindari kesalahpahaman diantara mereka. Namun Netanya tersenyum kepada Rian yang mengisyaratkan kepadanya untuk masuk saja tak perlu risau.
"Hai, Ga apa kabar mu?" Goda Dama pada Yoga setelah Rian tak terlihat lagi.
Pandangan Netanya tak beralih sama sekali. Yoga menatap Netanya. Dan senyuman manis pun Netanya tunjukan pada Yoga.
"Baik.Dan jauh lebih baik saat kamu tinggalkan." Ucap Yoga.
"Saya tidak yakin itu Ga. Saya yakin perasaan itu masih ada." Ucap Dama percaya diri.
Yoga pun mengulas senyumnya. Dan mengalihkan pandangannya pada Netanya. Sementara Netanya masih diam memperhatikan apa yang ingin dilakukan perempuan itu.
"Hahahaaa...." Tawa Yoga pun menggelegar.
"Kamu terlalu percaya diri Dokter DAMA." Ucap Yoga penuh penekanan.
"Mas," Panggil Netanya.
"Ayo sayang." Ajak Yoga pada Netanya.
Blush... Pipi Netanya memerah kala Yoga memanggilnya sayang. Untunglah hal itu tertutup oleh make up yang digunakan Netanya. Netanya pun menghampiri Yoga yang memanggilnya. Begitu Netanya dekat dengan Yoga dan Dama tiba-tiba.
Plak... Plak sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Dama. Yoga terkejut kemudian senyumnya tersungging di bibirnya.
"Itu ga seberapa Kak. Hanya sebuah peringatan." Jawab Neta santai.
"Maksud kamu?" Tanya Dama.
"Tanya pada hati Kakak sendiri." Jawab Neta sambil bergelayut manja di lengan Yoga.
"Netanya!" Teriak Dama.
"Cukup! Jangan berteriak kepada kekasihku." Peringat Yoga.
Deg
"Maksud mu Ga?" Tanya Dama.
"Untuk apa saya hadir disini jika tidak ada yang spesial untuk saya. Dia alasan saya hadir disini. Dia yang sudah menenuhi isi hati saya." Ucap Yoga tegas.
Deg.. Dada Netanya berdetak tak menentu mendengar penuturan Yoga.
__ADS_1
"Yoga." Ucap Dama lirih.
"Ayo sayang." Ajak Yoga pada Netanya.
Netanya pun mengikuti langkah Yoga begitu saja dengan perasaan tak menentu. Keduanya kini duduk di bangku taman dengan Netanya yang masih terdiam.
"Pak." Panggil Netanya memecah keheningan diantara keduanya.
"Apa yang kamu dengar tadi benar adanya." Ucap Yoga seolah mengerti arti panggilan Netanya.
Netanya menengok kearah Yoga.
"Tapi," Ucap Neta terputus.
"Kamu masih sekolah. Dan kamu muridku?" Tanya Yoga menatap Netanya dan Netanya pun mengangguk.
"Pertama saya tidak pernah tau kenapa hati saya berlabuh pada murid saya sendiri. Kedua Saya akan menunggu kamu tak perduli sampai kapan. Hanya saja saya tak pernah tau. Apakah kamu mau menerima saya yang sudah tua ini." Jelas Yoga berterus terang.
"Pak." Ucap Netanya lirih.
"Saya tau kamu malu kan. Saya terlalu tua. Bahkan dengan kakak tertuamu saja umurku lebih tua." Ucap Yoga menunduk.
"Mas." Panggil Netanya.
Deg, Yoga terhenyak kala Netanya merubah panggilannya. Yoga pun menatap Netanya dalam dengan sorot mata penuh damba. Dan Grep. Netanya pun menghambur kedalam pelukan Yoga. Yoga termenung sesaat kemudian membalas pelukan Netanya.
"Jangan pernah lelah untuk menunggu Neta Mas." Ucap Netanya dalam pelukan Yoga.
"Sampai lulus SMA aja ya." Goda Yoga
"Mas,," Rengek Netanya. Dan Yoga pun mengeratkan pelukannya.
"Kita masuk lagi yuk. Papa sama Mama nanti nyariin kita." Ajak Yoga.
"Atau masih mau di peluk." Goda Yoga.
"Iih,, Ayok." Ucap Netanya manja sambil melepaskan pelukannya.
Keduanya pun masuk kembali ke dalam aula tempat resepsi. Yoga menangkap mata Dama tengah mencari perhatian Ivan Papih dari Agiel sahabat Mama Nadin. Dama memang tampak kalap melihat satu persatu pria di sekeliling Nayya. Dama memang dekat dengan Nayya hanya ingin melihat deretan pria-pria tampan di sekitar Nayya termasuk Papa Nayya yang masih tampil menpesona meskipun usianya sudah tak muda lagi.
Yoga menoleh kearah Netanya. Netanya pun menoleh ke arah Yoga.
"Biarkan saja Mas. Yang terpenting jaga hati kalian itu sidah cukup bagi kami para wanita." Ucap Netanya.
__ADS_1
Dengan bangga Yoga pun merangkul bahu Netanya dan berjalan beriringan. Gerak-gerik keduanya tertangkap mata oleh kedua orang tua Yoga. Mereka pun tersenyum bangga kepada putra bungsunya. Karena mereka tau siapa anak gadis yang tengah bersama dengan nya.
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya, vote juga boleh kok 😊. Terima Kasih 🙏🙏🙏