
Mobil Angga memasuki pekarangan rumah orang tua Nadin. Mereka berencana untuk tinggal dua hari disana sampai Nathan benar-benar pulih.
Mama dan Bapak sudah menunggu kedatangan mereka. Nadin keluar terlebih dahulu dari mobil dan menghampiri kedua orang tuanya. Menyalami punggung tangan Mama dan Bapak.
"Anak-anak tidur Ma, Pak." Ujar Nadin seolah mengerti dengan tatapan Kedua orang tuanya.
"Wealah... Biar Bapak bantu Aa gendong anak-anak." Tawar Bapak.
"Ngga usah Pak. Biar Mas.Angga saja. Mereka terlalu berat." Tolak Nadin halus.
"Ngga apa-apa Teh. Bapak bisa gendong Nathan sementara Aa gendong Nayya." Jawab Ibu.
"Ayo kita masuk." Ajak Ibu.
Nadin pun masuk kedalam rumah sambil menggandeng lengan Ibu. Sementara Angga dan Bapak menggendong anak-anak yang tertidur pulas.
Setelah dipastikan anak-anak nyaman dengan tidurnya Angga dan Bapak kembali bergabung bersama Nadin dan Ibu.
"Bagaimana Kandunganmu Teh?" Tanya Bapak sambil berjalan menuju ruang keluarga.
"Alhamdulillah ngga rewel Pak. Bahkan sangat mengerti sekali. Tak ada tanda-tanda kalo si jabang udah ada di perut Teteh." Jelas Nadin pada Bapak.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Bagaimana kerja Teteh? Apa Teteh masih tetap mau kerja?"
"Teteh belum bicarakan lagi dengan Mas Pak."
"Kalo Angga maunya Nadin berhenti Pak. Apalagi Nathan sebentar lagi sekolah. Dan ditambah lagi akan ada adiknya Nathan."
"Iya Teh. Kasihan Nayya, Nathan dan si jabang kalo Mamanya masih sibuk kerja. Kalo Papanya sudah pasti sibuk kerja." Usul Ibu.
"Iya Bu. Nanti Teteh fikirkan lagi. Sekarang Teteh masih sedikit terkejut dengan berita kehamilan Teteh yang ternyata udah gede di tambah lagi Nathan sakit sementara kita pergi berlibur." jawab Nadin panjang kali lebar luar keliling.
"Silahkan diminum Teh nya Bu, Pak, A, Teh."
"Makasih Bik." Jawab semuanya bersamaan.
"Owh! Iya ga apa-apa neng. Sebentar saya ganti dulu ya Tehnya."
"Makasih Bik."
"Sudahlah. Sekarang dinikmati saja dulu prosesnya Teh." Ucap Bapak.
"Iya Pak."
__ADS_1
"Bapak sama Mama istirahat dulu ya. Kalian juga istirahat ya. Jangan terlalu capek." Pamit Mama.
"Iya Ma. Sebentar nanti kita nyusul anak-anak keatas."
Sepeninggalan Mama dan Bapak. Nadin menyandarkan kepalanya di bahu Angga dan memeluk lengan Angga. Angga mengusap tangan Nadin yang melingkar di lengannya.
"Kenapa Hmm?" Nadin hanya menggeleng menjawab pertanyaan Angga.
"Ya sudah kita istirahat dulu yuk susul anak-anak." Lagi-lagi Nadin hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Dua hari berlalu keadaan Nathan semakin membaik. Keceriaan kembali padanya. Angga pun memutuskan untuk kembali ke kota C. Mengingat dirinya dan Nadin belum beristirahat semenjak kepulangannya dari pulau beberapa hari yang lalu.
Menjelang makan siang mobil Angga memasuki halaman rumah orang tuanya. Nadin turun dengan membawa tas kecilnya saja karena Angga melarang Nadin membawa barang berat.
Sementara Angga menurunkan barang-barangnya Nadin membangunkan kedua anak-anaknya dengan lembut.
"Sayangnya Mama, Ayo bangun sayang kita sudah sampai." Ucap Nadin sambil mengusap kedua pipi anak-anaknya.
Nayya dan Nathan mengerjapkan matanya melihat sekitar.
"Ayo. Kita turun." ajak Nadin.
__ADS_1
Nayya pun turun dan menuntun Nathan untuk turun bersama. Nayya begitu menjaga Nathan karena Nayya tidak mau Nathan sakit lagi.
Tbc...