
Haii... Rider ku semua... Ayo pencet likenya ya. Tambah komen-komennya juga boleh ya. Makasih semuanya....
Hari ini Nadin dan Arif pergi ke pabrik tanpa di temani Amel dan Angga. Betapa kagetnya orang pabrik melihat kedatangan Arif dan Nadin termasuk Nando sahabat mereka. Karena Nadin termasuk pemegang saham terbesar di susul Arif dan Ivan.
Nando memeang tak memiliki saham di pabrik. Dia hanya sebagai pegawai namun mereka tempatkan di posisi yang lumayan. Yang sebenarnya menurut Arif tidak sesuai dengan kriteria. Namun Nadin dan Ivan bersikukuh mengingat Nando adalah sahabat mereka.
"Wah, tumben nih Bu.Bos sama Pa
Bos ke pabrik?"
"Diiih,,, emang ga boleh kita ke sini?" Jawab Nadin.
"Wuuuiiisss... Sensi amat Non. Yok Masuk. Ivan belum datang deh kayanya."
"Ko kayanya? Lu ga bareng?" Tanya Arif.
"Ngga. Tadi ada yang harus Gw kontrol jadi Gw pergi duluan."
Mereka bertiga jalan menuju ruangan tempat biasanya mereka berkumpul. Semua terlihat biasa aja tanpa ada kejanggalan. Ivan memang sengaja di set kesiangan oleh Nadin dan Arif.
"Wah, Pa Arif sama Bu Nadin silahkan Pa Bu masuk." Sapa Jamal salah satu staf pabrik.
Nadin dan Arif hanya menganggukan kepala dan tersenyum. Lalu mereka berempat masuk.
"Gimana Nan, Pa.Jamal perkembangan pabrik? Ada kendala?" Tanya Arif tanpa basa-basi. Nadin hanya diam karena kurang begitu menguasai dunia bisnis. Namun dia tau seluk beluk Pabrik.
"Mmm... Alhamdulillah Pa. Semua berjalan sesuai alur. Dan tak ada kendala yang rumit. Paling hanya para pegawai yang sedikit keteteran dengan pesanan."
"Ko bisa keteteran Pa?" Tanya Nadin polos.
"I...Iya Bu.Nadin. Soalnya lagi banyak orderan."
__ADS_1
"Hmmm begitu ya? Bener Nan?"
"Eh,, M... Iya Nad. Emang Lu ngerti masalah pabrik Nad?"
"Awalnya ngga. Tapi masa iya udah bertahun-tahun ga ngerti juga."
"Cie... belajar juga nih akhirnya?" Ledek Nando.
"Harus selalu belajar Nan. Agar supaya kita ngga salah langkah." Jawab Nadin sedikit menyentil Nadin.
"Maksud Lu apaan nih?" Jawab Nando sedikit ngegas.
"Loh ko Lu ngegas Nan?"
"Eh, ngga ah."
"Maksud Gw ya. Gw terus belajar agar Gw ga salah langkah karena pasang surutnya pabrik itu adalah ujian untuk kita. Saat surut kita berusaha bagaimana caranya kita bertahan dengan keadaan pabrik yang nyaris roboh. Dan begitupun saat pasang. Bagaimana kita mampu bertahan dengan segala bentuk godaannya." Nando dan Pa. Jamal hanya diam menunduk sementara Arif dan Nadin memperhatikan keduanya.
"Eh, bo..boleh, sebentar saya ambilkan." Jawab Jamal sedikit gugup.
Nando pun menjadi salah tingkah ketika Nadin meminta laporan keuangan.
"Eh, mau pada minum apa nih?"
"Jiaaah... Kaku banget Lu kaya kanebo kering." Jawab Arif.
"Apa ajalah Nan. Kita masih sama ko. Ga usah gitulah."
"Hahaha... Kali aja minuman kalian udah beda sekarang. Secara kalian menantu sultan."
"Duuuuh... Biasa ajalah Nan. Rif, telfon Ivan deh dimana dia."
__ADS_1
"Elu sih pake kejutan-kejutan segala. Gw bilang apa kan."
"Ya gw fikir ni dua bocah pasti ada di pabrik pagi-pagi begini."
"Biasanya sih gitu Nad. Ada urusan bentar paling."
"Ga di angkat Nad. Lagi di jalan paling dia."
"Bu, Pa. Ini laporannya." Ucap Pa.Jamal saat kembali keruangan pertemuan.
"Owh! Iya. Makasih Pa." Jawab Nadin.
"Ada kendala Pa beberapa bulan terakhir?" Tanya Arif.
"Hmmm... Sepertinya tidak ada Pa."
Nadin dengan teliti memeriksa keuangan pabrik. Nadin mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. "Coba buka disini filenya Pa." Pinta Nadin pasa Pa.Jamal.
"Owh! Sebentar saya ambil flashdisknya Bu."
"Ga usah Pa. Langsung aja bisa ko."
"Tapi Bu!" Jawab Pa.Jamal menggantung.
"Kenapa Pa?"
"Eh, ngga Bu. Mari saya bantu Bu." Pa.Jamal pun membuka berkasnya di laptop Nadin.
"Tunggu." Nadin memeperhatikan layar laptop dan berkas laporan yang di berikan Pa.Jamal.
Tbc...
__ADS_1