Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Bidadari


__ADS_3

Acara pengajian pun berjalan dengan lancar. Tinggal persiapan akad pernikahan dua hari kedepan yang akan di gelar di rumah Kasih dan acara resepsi yang akan di adakan di hotel milik Rian.


Yoga yang sudah kembali pun membuat Netanya lebih berseri-seri. Yoga terus memberikan perhatian yang lebih untuk kekasih kecilnya itu.


"Dek, besok pulang sekolah tolong jemput Kanaya di rumah Kakak ya. Onty mau bawa Kana jalan-jalan." Pesan Nayya pada Netanya.


"Iya Kak. Kenapa ga tidur di sini aja Kak Kanaya?" Tanya Netanya.


"Kana ikutan menyu** pada Kakak jadi Kakak khawatir dia rewel." Ucap Nayya santai.


"Hah! Kakak serius?" Tanya Netanya kaget.


"Iya. Kakak ga tega liatnya." Jawab Nayya lagi.


"Apa tidak apa-apa Kak." Tanya Netanya.


"Tidak. Nanti Kakak akan memberitahukannya pelan-pelan." Jawab Nayya.


"Kakak emang Ibu hebat seperti Mama." Ucap Netanya.


"Kamu pun sama perempuan hebat pasti akan menjadi ibu hebat juga." Ucap Nayya memeluk adik bungsunya.


Bel pulang sekolah pun berbunyi namun, Yoga memberi kabar bahwa dirinya tidak bisa menjemput Netanya di karenakan ada meeting. Netanya pun hanya bisa pasrah jika kekasihnya berkilah tentang pekerjaannya.


"Kenapa Lu? Muka di tekuk gitu." Ledek Mega.


"taksi cinta gw ga bisa jemput." Keluh Netanya.


"Astaga! Udah ayok pulang bareng gw." Ajak Mega.


"Tapi, gw mesti ke rumah Kakak gw dulu jemput Kanaya." Ucap Netanya.


"Gampang. Ayok udah keburu gw berubah fikiran." Ajak Mega.


"Aaa.... Mega. Makasih." Teriak Netanya berlari mengejar Mega dan merangkul bahu sahabatnya itu.


Sampai di rumah Nayya ternyata Kanaya sudah siap dan akan di antarkan oleh Gaga yang kebetulan datang mengantarkan Ibu Laras.


"Kak Gaga mau kemana?" Tanya Netanya yang turun dari mobil Mega.


"Eh, kamu udah dateng. Onty sudah menelfon menanyakan Kana jadi Kakak mau mengantarkannya." Jawab Gaga.


"Hai princess.." Sapa Netanya pada Kanaya yang berada di samping Gaga.

__ADS_1


"Hai Onty. Ayo. Onty nanti Oma Mel malah cama Ka." Ucap Kanaya gemas.


"Ya sudah ayok ikut sama Onty." Ajak Netanya.


"Eh, Yoga ganti mobil?" Tanya Gaga.


"Eh, bukan Kak. Itu mobil temen Netanya." Jelas Neta.


"Cowok?" Ucap Gaga.


Plak..


Pukulan Netanya pun mendarat di lengan Gaga yang tak menyaring perkataannya.


"Aduh,, kok kamu mukul sih Dek." Ucap Gaga


"Abisnya Kakak sembarangan. Temen Neta Cewek ya." Jawab Netanya kesal.


Gaga mengusap lengannya yang kena pukul oleh tas Netanya. Netanya mengajak Kanaya.


"Woi,,, jadi balik ngga nih?" Tanya Mega dari dalam mobil.


"Jadi, bentar. Ayo sayang." Ajak Netanya pada Kanaya.


Namun, Mega tampaj acuh tak memperhatikannya. Bahkan setelah Netanya dan Kanaya naik pun Mega langsung aja memarkir mobilnya keluar dari halaman rumah Nayya tanpa pamit pada Gaga.


Sampai dirumah Netanya dan Kanaya segera keluar dari mobil Mega karena Onty Mel sudah menunggu. Sementara Mega langsung lamit pulang karena ada janji dengan Mamanya.


Saat perjalanan pulangnya mobil Mega berhenti di lampu merah tepat di samping mobil Gaga. Gaga membuka kaca jendelanya memastikan bahwa itu perempuan yang tadi dia temui. Namun, sayangnya jalan yang dia tuju berbeda arah dengan Mega.


"Sial! Kenapa dia belok. Ah,," Umpat Gaga kesal.


"Jika kita berjodoh Tuhan akan mempertemukan kita." Ucap Gaga lagi.


Pagi hari yang heboh di rumah Nadin. Semua bersiap untuk pergi ke rumah Kasih. Sahabat dan keluarga sudah datang sejak sore kemarin. Nini pun datang bersama Camelia.


Camelia berharap bisa bertemu dengan Gaga dan meminta maaf karena sikap Papanya. Namun, ternyata Gaga tak menampakkan batang hidungnya ketika rombongan keluarga kecil Nayya datang bersama dengan kedua orang tuanya.


Kecewa pastinya. Tak bisa di pungkiri Camelia pun sedikit menaruh hati pada Gaga hanya saja dia tak ingin menjadi anak durhaka dengan terus berhubungan dengan Gaga.


"Masya Allah ini Cicit Uyut." Tanya Nini saat Nayya menghampirinya dan menyalami Nini serta mencium punggung tangan Nini.


"Iya Uyut." Jawab Nayya dengan suara khas anak kecil.

__ADS_1


"Cantiknya. Loh, Kakaknya mana?" Tanya Nini.


"Itu Ni sama Papa." Tunjuk Nayya pada Kanaya dan Papa.Angga.


"Masya Allah. Kakek dan Cucu itu lengket banget ya." Ucap Nini.


"Iya Ni. Kalau ketemu langsung nempel susah di pisahnya." Ucap Nayya.


"Teteh,, ih lucu banget." Ucap Camelia mendekati Nayya dan Nini dengan hati yang tak menentu takut Saudara sepupunya itu bersikap acuh padanya.


"Halo Onty Camelia." Sapa Nayya dengan suara khas anak kecil.


"Halo cantik." Jawab Camelia.


"Mama sama Papa ga kesini Ca?" Tanya Nayya.


"Nanti nyusul pas resepsi Teh." Jawab Camelia.


"Masih di rumah sakit?" Tanya Nayya.


"Dinas malam. Baru pagi ini pulang jadi katanya mau istriahat dulu." Jawab Camelia.


"Owh! Begitu. Ya sudah ga apa-apa yang lenting Onty sama Uncle bisa datang." Ucap Nayya.


Semua persiapan pun sudah siap. Keluarga besar Nayya dan Angga pun segera menuju kediaman Rian dan Kasih. Nathan, Nadin dan Angga berada pada satu mobil yang sama.


Netanya berada di mobil Yoga bersama kedua orang tua Yoga juga. Sementara Nini dan Camelia bersama dengan Bude dan Pakde. Nayya bersama keluarga kecilnya dan juga kedua orang tua Rama.


Ayah dan Onty Amel bersama dengan Agiel dan Refa. Papih Ivan, Mamih Dina, Mama Tina dan Papa Nando berada dalam satu mobil yang sama. Ayah Aldo dan Ibu Santi dalam satu mobil yang sama dengan Om Iwan dan Istri.


Tiba di kediaman Rian dan Kasih yang sudah di sulap dengan megahnya. Keluarga besar Rian dan Kasih menyambut kedatangan keluarga besar Nadin dan Angga. Kemudian Nathan di bawa ke tempat acara akad oleh Rian dan Kasih.


Smeua keluarga menempati tempatnya masing-masing yang sudah di siapkan oleh Kasih dan Rian. Karena acara akad nikah hanya di hadiri oleh keluarga besar saja serta beberapa perwakilan dari masyarakat setempat.


Kasih dan Rian menyebarkan undangan hanya untuk acara resepsi saja. Dan itu pun diadakan di hotel miliknya.


Nathan tampak tegang berhadapan dengan Rian meskipun dirinya sudah sangat sering bertemu namun kali ini di momen yang berbeda. Sambutan demi sambutan pun di mulai untuk memulai acara yang sangat sakral.


Rian mengulurkan tangannya untuk memulai acara. Nathan pun menerima uluran tangan Rian. Nathan mengatur nafasnya setenang mungkin walaupun tak bisa di pungkiri kegugupannya sangat-sangat terlihat.


Angga mengusap punggung Nathan lembut dan berbisik. "Tenanglah, semua akan berjalan seperti yang Mas mau."


Nathan pun sedikit tenang walaupun dadanya masih bergemuruh. Dan memulai acaranya.

__ADS_1


Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya, vote juga boleh kok 😊. Kasih hadiah juga boleh kok 😊. Terima Kasih 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2