
Tiga hari berlalu hari ini Pakde sudah di ijinkan pulang. Angga pun pulang bersama dengan Pakde. Pakde meminta Bude untuk menunggunya saja di rumah karena sudah ada Angga.
Pakde dan Bude pun dengan berbagai ancaman dari Nadin akhirnya mau untuk tinggal sementara waktu di rumah Nadin dan Angga. Karena Nadin tak ingin Bude kelelahan menjaga Pakde. Pasalnya di rumah mereka tak ada maid.
Sedangkan dirumah mereka begitu banyak maid. Nadin pun selalu memerintahkan salah satu maidnya untuk membantu Bude di rumahnya setiap satu minggu sekali dan Bide pun tak bisa menolaknya.
Sampai di rumah Pakde di sambut oleh istri tercintanya. Ya Pakde memang tidak memiliki anak dari pernikahan sebelumnya dan Bude pun harus kehilangan anaknya dari pernikahan sebelumnya.
Dipernikahannya yang sekarang mereka tak di karuniai anak karena Bude harus merelakan rahimnya diangkat ketika mengalami keguguran yang kedua kalinya di pernikahannya yang sekarang.
Dan mereka pun menerima dengan ikhlas keputusan Tuhannya untuk menyatukan keduanya tanpa buah hati. Namun, bagi mereka ketiga anak Nadin dan Angga adalah anak-anak bahi mereka. Bahkan ketiga anak Nadin dan Angga pun menyayangi keduanya seperti menyayangi Angga dan Nadin.
"Pakde, bagaimana sudah mendingan?" Tanya Netanya yang sudah pulang dari sekolahnya.
"Alhamdulillah Dek. Nih, sekarang Pakde sudah bisa pulang." Jawab Pakde.
"Pakde jangan capek-capek ya." Pesan Netanya.
"Iya Dek. Pakde kapok. Sakit ga enak." Ucap Pakde.
"Lah, ya iya dong Pakde. Makanya Pakde jangan sakit yah." Ucap Netanya.
"Adek, sudah biarkan Pakde istirahat dulu." Titah Nadin.
"Siap Ma." Jawab Netanya.
"Pakde Adek siap-siap belajar dulu ya." Pamit Netanya pada Pakde.
"Belajar yang rajin ya sayang." Pesan Pakde.
"Siap Pakde." Jawab Netanya kemudian pergi meninggalkan Pakde dan Bude ke kamar.
Tak lama Nadin pun datang mengahampiri dan membantunya dalam belajar. Netanya sangat semangat jika belajar di temani Nadin. Rasanya segala macam pelajaran pun sangat mudah di lewati jika Nadin yang mengajarkannya.
"Istirahat dulu ya. Mama siapkan makan malam dulu." Ucap Nadin.
"Iya Mah. Adek mau mandi dulu." Jawab Netanya.
Satu minggu di kewati Netanya dalam menghadapi ujiannya. Hari ini hari terakhir dirinya ujian. Selesai ujian Netanya di kejutkan dengan kedatangan Yoga bahkan Yoga sudah menunggunya di depan ruang ujiannya.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Netanya hanya menyunggingkan senyumannya dan langsung menggandeng Yoga dan berjalan menuju parkiran tanpa memperdulikan omongan orang-orang.
"Astaga! Gitu deh kalo udah ketemu lupa sama Gw." Ucap Mega sahabat karibnya.
Kemudian ponselnya berbunyi. Mega melihat kelayar ponselnya dan matanya memutar jengah. Kemudian di simpannya lagi ponsel miliknya kedalam tas. Dan Mega pun segera pulang.
__ADS_1
Mega memang satu minggu yang lalu mendapatkan pesan singkat dari seseorang yang tak Mega ketahui. Namun, isi pesannya hanya memberikan semangat kepada Mega untuk ujiannya. Sekarang pesan itu datang lagi dan hanya memberikan ucapan selamat karena ujiannya telah usai.
Mega sebenernya ingin membahas perihal pesan yang selau datang padanya itu pagi hari saat akan mulai ujian dan siang hari ketika ujian usai. Namun, Netanya sudah lebih dulu di gondol Yoga akhirnya Mega pun mengurungkan niatnya.
"Bagaimana ujiannya sukses dong sayang?" Tanya Yoga setelah keduanya berada di dalam mobil.
"Alhamdulillah sukses dong Mas. Semoga besok nilainya memuaskan." Jawab Netanya.
"Makan siang dulu ya sebelum pulang." Ajak Yoga dan Netanya pun hanya mengangguk.
Direstoran yang mereka tuju untuk makan siang. Mereka berdua bertemu dengan Gaga dan juga Rama. Mereka berdua baru saja meeting bersama klien.
"Hei Ga,,Net." Sapa Gaga.
"Loh, Kakak ada di sini." Tanya Netanya.
"Iya baru selesai meeting." Jawab Gaga.
"Kamu udah beres ujiannya dek?" Tanya Rama.
"Udah Kak. Ini udah di jemput Mas.Yoga." Jawab Netanya.
"Ya sudah. Kakak pulang dulu ya. Mau makan siang di rumah." Pamit Rama.
Gaga dan Rama pun berpamitan kepada Yoga dan Netanya. Yoga dan Netanya pun masuk kedalam restoran untuk makan siang. Saat keduanya tengah menikmati makan siang tiba-tiba ada seorang wanita mendekati keduanya.
"Pak Prayoga," Sapa wanita tersebut.
"Bu.Devi." Jawab Yoga.
"Wah, senang sekali bertemu anda di sini." Ucap Wanita yang bernama Devi.
"Maaf ada apa ya? Ada yang pentingkan?" Tanya Yoga formal.
"Ngga ada kok Pak. Saya hanya akan makan siang saja. Tadi saya baru bertemu klien di sekitar sini dan mampir makan siang disini." Jawab wanita tersebut.
Yoga hanya menganggukan kepalanya. Sementara Netanya masih bersikap acuh terhadap wanita tersebut. Netanya hanya diam menikmati makan siangnya sementara Yoga sudah kalang kabut di buatnya.
"Boleh saya ikut bergabung dengan anda dan adik anda Pak." Ucap Devi.
"Maaf, tapi saya sedang tidak bersama adik saya."Ucap Yoga.
"Kenalkan ini tunangan saya Bu." Ucap Yoga memperkenalkan Netanya.
Devi merasa tak yakin karena Netanya masih mengenakan seragam esema nya yang hanya di tutupi oleh cardigannya. Netanya pun menjulurkan tangannya.
__ADS_1
"Neta." Ucap Netanya.
"Devi. CEO perusahan B." Sebut Devi dan Yoga menyunggingkan senyumnya.
Devi tak tau jika Netanya anak seorang Angga Bagaskara dan adik ipar dari pengusaha ternama Rama Nasution. Yoga tersenyum karena Devi terlalu menyombongkan dirinya.
"Owh! Begitu. Perusahaan anda bekerja sama dengan perusahaan milik tunangan saya?" Tanya Netanya.
"Tentu saja. Bahkan mungkin bisa lebih dari sekedar kerjasama perusahaan." Jawab Devi percaya diri.
"Hm, begitu. Silahkan anda mencari tempat duduk yang lain sebelum anda menyesali perbuatan anda." Ucap Netanya.
"Maksud Kamu apa?" Tanga Devi geram.
"Sayang, kita lanjutkan makan siang di rumah." Ajak Yoga.
"Itu lebih baik. Disini nafsu makan Neta udah hilang." Ucap Netanya.
"Maaf Bu. Kami duluan." Pamit Yoga pada Devi.
"Tapi, Pak.Prayoga.." Panggil Devi terhenti karen Yoga terus berjalan menggandeng tangan Netanya keluar dari restoran. Karen Yoga telah membayar makan siangnya tadi sebelum makan.
"Sial." Umpat Devi karena merasa di acuhkan oleh Yoga.
"Maaf ya sayang." Ucap Yoga pada Netanya.
"Kenapa minta maaf?" Tanya Netanya.
"Ya karena perempuan gil* tadi kita jadi batal makan siang romantis." Ucap Yoga.
"Ceh, biasa aja kali Mas. Tak perlu makan siang di restoran itu makan siang kita tetap makan siang romantis." Ucap Netanya.
"Terima kasih sayang." Ucap Yoga dan mendaratkan ciuman di puncak kepala Netanya.
"Udah yuk pulang. Mas belum makan sedikit pun. Kita makan di rumah saja." Ajak Netanya.
"Baiklah. Mas juga udah kangen masakan Mama Nadin." Ucap Yoga.
"Duh,, masa sih sayangku." Ucap Netanya mencubit pipi Yoga pelan.
"Aw, sakit sayang." Ucap Yoga berpura-pura dan Netanya pun mengusap lembut pipi Yoga.
"Nah, ini baru bener sayang." Ucapnya.
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya, vote juga boleh kok 😊. Kasih hadiah juga boleh kok 😊. Terima Kasih 🙏🙏🤗
__ADS_1