
Kini tinggal Angga yang berada di rumah Nadin. Mereka berdua pun masuk kedalam. Melihat ketiga anaknya tengah bermain bersama Mba.Sus. Angga menghampiri ketiganya.
"Sedang main apa hm?" Tanya Angga pada anak-anaknya.
"Papa..." Teriak Nayya dan Nathan. Keduanya menghambur kedalam pelukan Angga.
Mba.Sus menghampiri Nadin yang sedang memasak di dapur. Mereka berdua memasak alakadarnya dengan bahan-bahan yang tersedia. Setelah selesai Nadin menatanya di meja makan.
Tak ada perabotan rumah yang istimewa karena Nadin tidak ingin membuang-buang uang hanya untuk membeli perabotan rumah yang sesuai dengan apa yang dimiliki di kediaman Bagaskara. Nadin hidup sesederhana mungkin. Mengingat dirinya tidak bekerja dan hanya mengandalkan tabungannya.
"Mba, apa setelah ini Mas.Angga akan membawa kita semua pulang kerumahnya?" Tanya Nadin sambil terus fokus membereskan bekas memasaknya dan Mba.Sus mencuci wajan dan yang lainnya.
"Sepertinya begitu Bu. Mana mungkin Bapak tega meninggalkan Ibu dan anak-anak tinggal disini terus." Jawab Mba.Sus.
"Tapi,,," Perkataan Nadin terjeda. Nadin menarik nafasnya kasar. Mba.Sus yang telah selesai mencuci menghampir Nadin.
"Dimana pun Ibu Mba akan selalu ada dan akan selalu membantu Ibu. Mba yakin semua akan lebih baik Bu." Jawab Mba.Sus kemudian merangkul Nadin dan Nadin menghambur kedalam pelukannya.
Angga yang mendengar dan melihat istrinya berbicara dengan Mba.Sus begitu tersentuh hatinya.
"Sebesar itukah sayang rasa sakit mu. Maafkan Mas sayang. Mas tidak akan mengulanginya lagi." Bisik Angga dalam hatinya.
"Sayang," Panggil Angga.
Nadin pun melepaskan pelukannya pada Mba.Sus. Dan menoleh kearah sumber suara.
__ADS_1
"Ya." Jawab Nadin.
"Sudah selesai memasak?"
"Sudah. Sudah lapar ya. Yuk kita makan." Ajak Nadin.
Angga pun menghampiri Nadin dan mengecup keningnya singkat. Nadin pun memberikan senyumannya seolah tak pernah terjadi sesuatu diantara keduanya.
Nadin meminta anak-anaknya untuk duduk dan makan. Mereka pun telah berkumpul di meja makan. Nadin menggoyangkan stroler yang berisi Baby Neta. Mereka makan dengan sangat lahap walauphn dengan lauk seadanya.
Setelah selesai makan. Anak-anak melanjutkan mainnya dan kali ini ditemani oleh Angga. Sementara Nadin mengASIhi baby Neta. Dan Mba.Sus memberekan bekas makan mereka semua.
"Papa, Papa ga pergi lagi kan?" Tanya Nathan polos. Pertanyaan yang membuat hati Angga sedikit menceos.
Angga mengusap kepala Nathan dan hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan anaknya.
"Kenapa? Kakak kangen sama rumah?" Tanya Angga kembali.
"Kakak lebih suka di rumah ini Pa."
"O yah.." Ucap Angga sedikit tidak percaya anaknya berkata seperti itu. Padahal rumah yang di tempatinya sekarang jauh dari kata mewah seperti kediaman Bagaskara ataupun rumah mertuanya di kota.J.
"Iya Pah. Sepi ga banyak orang. Kita bisa main apa aja berdua." Jawab Nayya.
Angga begitu tertampar kala anak-anaknya mengatakan isi hati mereka. Angga fikir istri dan anak-anaknya nyaman-nyaman saja berada di rumah orang tuanya. Ternyata ada banyak sisi yang Angga tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Angga terdiam merenungi perkataan anak-anaknya. Dan perkataan istrinya kepada Mba.Sus yang dia dengar tadi. Angga mengetikan sesuatu pada ponselnya. Mengirim pesan pada seseorang untuk menyiapkan rumah siap huni yang akan dia beli untuk istri dan anak-anaknya.
Tak butuh waktu lama. Orang tersebut menghubungi Angga kembali dan mengatakan rumahnya sudah siap. Angga pun sangat berterima kasih kepadanya.
Nadin yang baru saja keluar dari kamarnya bersama Baby Neta sedikit mendengar percakapan Angga dan seseorang disebrang sana. Namun Nadin tak ingin ikut campur urusan suaminya.
"Kakak, Mas. Ayok kita bobo siang dulu." ajak Nadin kepada anak-anaknya.
"Adek sudah bobo Mah?" Tanya Nayya.
"Belum sayang. Sebentar Mama timang nanti adek bobo. Kakak sama Mas Bobo dulu ya di temenin Mba.Sus." Titah Nadin.
"Oke Mah." Jawab keduanya kompak.
Baby Neta masih dalam gendongan Nadin. Nadin pun menimang-nimang Baby Neta yang sudah mulai menutupkan matanya. Setelah dirasa pulas Nadin pun menyimpannya di atas tempat tidur.
Angga menghampiri Nadin yang sedang menidurkan Baby Neta di kamar. Dan betapa Angga terkejut melihat keadaan kamar tersebut. Angga memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang, maafkan Mas ya." Bisik Angga di telinga Nadin.
Nadin mengusap tangan Angga yang melingkar di pinggangnya.
"Kenapa Mas minta maaf?" Tanya Nadin balik.
"Karena Mas. Kalian harus tinggal di tempat seperti ini." Ucap Angga sambil membalikan tubuh Nadin berhadapan dengannya.
__ADS_1
Nadin hanya menggeleng dan membenamkan kepalanya di dada Angga. Nadin memejamkan matanya menghirup aroma tubuh suaminya yang sudah sebulan lebih dia rindukan.
Sampai disini dulu semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih semuanya 🤗🙏🙏🙏🙏