Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Simpati


__ADS_3

Setelah mengantarkan Ibu ke dalam kamarnya Nadin pun berencana menghubungi Amel. Karena Nadin tak ingin berlama-lama menunda rencananya. Nadin oun pergi ke kamarnya sementara Angga dan Ayah mengobrol di ruang keluarga.


📱Halo Mel


📱Iya Teh, ada apa?


📱Apa Teteh mengganggu?


📱Tidak Teh. Amel masih di butik. Ada apa?


📱Sebelumnya Teteh minta maaf ya Mel


📱Iya. Kenapa Teh. Langsung aja deh.


📱Amel bisa jenguk Ibu di rumah?


📱Loh, kenapa? Bukannya sudah ada Teteh disana? Teteh udah ga sanggup merawat Ibu?


📱Bukan begitu Mel. Sepertinya Ibu merindukan kamu anaknya.


📱Aduh, udah deh Teh. Kalo Teteh ga sanggup ya Udah anter ke rumah aja lagi Ibu. Di rumah banyak maid yang bisa jagain Ibu. Lagian kan ada Ayah juga. Bilang ke Ibu jangan manja.


Amel pun nengakhiri panggilannya sepihak. Nadin hanya menghela nafas kasar. Nadin tak menyangka akan bersikap seperti tadi. Tanpa Nadin sadari Angga sudah berada di ambang pintu dan mendengarkan percakapan antara Nadin dan Amel.


Sementara di butik.


"Siapa Mel?" Tanya Nina Sahabatnya yang kebetulan ada di butik Amel.

__ADS_1


"Teh.Nadin." Jawab Amel.


"Ngapain dia telfon?" Tanyanya kembali.


"Katanya Ibu kangen Gw. Terus Teteh minga Gw jengukin Ibu gitu." Jawab Amel sedikit sendu.


"Alah,,, Itu mah alasan aja Mel. Jangan percaya. Dia cuma mau narik simpati nyokap Lu aja paling. Biar dia di bilang menantu yang pengertian." Oceh Nina mengompori Amel.


Amel pun hanya terdiam dan Nina terus saja memanas-manasi Amel tentang hubungan keluarganya dengan Nadin.


Sementara dengan Nadin.


"Sayang," Panggil Angga.


Nadin pun menoleh kearah sumber suara.


"Telfon dari siapa?" Tanya Angga pura-pura tak tahu.


"Kenapa?" Tanya Angga lagi.


"Kemarin Ibu denger cerita Arif." Ucap Nadin.


"Nadin, mau Amel ketemu Ibu. Mungkin Ibu juga sudah rindu kepada anak perempuannya." Tambah Nadin sendu.


"Sayang, ga usah di fikirin yah. Biarkan saja dulu Amel seperti itu. Mas yakin Amel punya alasan mengapa dirinya berbuat seperti itu." Terang Angga menenangkan.


"Iya Mas. Tapi, Nad ga tega liat Ibu murung." Keluh Nadin.

__ADS_1


"Mas akan bicara pada Arif." Ucap Angga.


"Ibu?" Tanya Nadin.


"Mas yakin istri Mas ini akan bisa menghibur Ibu." Ucap Angga sambil menjawil hidung Nadin.


"Iiih,,, Mas." Rengek Nadin.


"Kenapa? Hmm? Istri Mas ko ngegemesin sih siang-siang begini jadi pengen deh." Goda Angga.


"Ih, apaan sih. Udah ah sana." Jawab Nadin tersipu.


"Ya ampun. Tambah gemesin deh." Goda Angga.


"Mas, Ah. Sana iiih.." Usir Nadin.


Angga pun tertawa melihat tingkah istirnya yang semakin hari semakin membuatnya jatuh cinta. Angga pun pergi meninggalkan Nadin yang masih tersipu. Angga masuk kedalam ruang kerjanya. Angga menguhuhungi Arif untuk membuat janji bertemu.


Nadin ke dapur membantu maid menyiapkan makan siang untuk mereka. Meskipun Maid meminta Nadin untuk membiarkan mereka menyiapkannya sendiri Nadin selalu saja ikut membantu jika dirinya senggang.


"Nad," Panggil Ayah.


"Iya Yah?" Jawab Nadin menoleh ke arah Ayah.


"Bisa Ayah bicara sebentar." Ucap Ayah.


"Bisa Yah. Sebentar Nadin cuci tangan." Ucap Nadin.

__ADS_1


Nadin pun segera mencuci tangannya dan melepaskan apronnya. Nadin segera menghampiri Ayah yang sudah menunggunya di halaman belakang.


Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2