Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Kloningannya


__ADS_3

Setelah makanan ya g berada di piring Nayya habis Nayya pun segera memyimpan piringnya ke dapur. Kana makan cukup lahap dengan di suapi Mominya. Tidak seperti saat Nathan atau Angga yang menyuapinya. Kana sedikit manja dan merajuk jika Nathan atau Angga menyuruhnya makan.


Kanaya tampak menguap karena kekenyangan. Namun, karena rasa rindunya kepada Mominya mata Kana pun dia paksa untuk terbuka. Kana tak ingin kehilangan Mominya lagi saat matanya terpejam.


"Aduh, kasian cicit Oma uyut ngantuk ya." Ucap Oma melihat Kana beberapa kali menguap.


"No Omayut. Ka no antuk." Jawab Kanaya.


"Bobo aja dulu sayang nanti sore main lagi sama Momi." Saran Nadin.


"No Oma No." Elak Kanaya.


"Ka, ajak tidur dulu kasian tuh udah nguap terus." Titah Nathan pada Kakaknya.


"Sayang, bobo sama Momi yuk." Ajak Nayya.


"Papi juga ya." Pinta Rama.


"No. Momi ja." Rengek Kana.


"Papi ih. Iya sayang kita bobo berdua ya. Biarin Papi di luar." Ajak Nayya pada Kana.


Nayya pun membawa Kanaya masuk kedalam kamarnya. Nayya membiasakan Kanaya untuk cuci tangan dan kaki sebelum tidur. Kanaya pun selalu menurutinya bahkan jika tidur bersama yang lain pun.


Setelah siap Nayya pun membaringkan tubuhnya di samping Kana. Kana memeluknya dan Nayya pun membalas pelukan Kana. Akhirnya mereka pun tidur berpelukan. Rama masuk kedalam kamar dan dilihatnya pemandangan yang begitu indah baginya.


Tak di sangka olehnya jika Kanaya anaknya yang sangat sulit di dekati oleh teman wanita Rama begitu lengket ketika bertemu dengan Nayya. Kanaya bahkan sampai harus di larikan ke rumah sakit karena rasa rindunya pada Nayya.


Dan kini dirinya lah yang begitu lengket pada Nayya. Rama sangat bersyukur bisa menemukan Nayya dalam hidupnya. Ditambah dengan keluarga Nayya yang menerimanya begitu hangat. Tak ada rasa curiga ataupun yang lainnya.


Rama membaringkan tubuhnya di samping Nayya. Memeluknya dari belakang. Nayya yang merasakan ada yang menindihnya menggeliatkan tubuhnya namun Rama mengeratkan pelukannya.


Nayya pun semakin terlelap dalam dekapan hangat Rama. Rama begitu tak ingin kehilangan moment kebersamaannya bersama istri dan anaknya. Rama tak hentinya bersyukur.


"Mas, anter adek ke toko buku yuk. Besok sudah mulai ujian ada satu buku yang harus adek cari." Rengek Netanya pada Nathan.


"Astaga adek. Memang ngga ada temen kamu yang bisa kamu ajakin beli buku bersama?" Tanya Nathan.


"Ada, tapi kan ga ada yang nganterin kita Mas." Bujuk Neta.


"Minta anter Pak.Ujang sana." Bentak Nathan.


"Mas.Nathan jahat. Adek bilang Kak.Rika Pokoknya.


"Astaga dek. Kenapa bawa-bawa Rika?" Kesal Nathan.


"Biar Kakak ga mau lagi sama Mas." Ucap Neta mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Ish, aduan. Kalo gitu Mas juga mau aduin kamu. Kalo kamu itu manja kaya Kanaya." Balas Nathan.


"Sama siapa? Aduin aja adek ga tajut." Jawab Netanya.


"Sama Yoga." Jawab Nathan singkat.


"Mas Nathan! Laporin aja. Bodo amat." Gemas Netanya.


Keduanya terus saja beradu argumen. Hingga Mba.Sus, Oma dan Nadin masuk karena mendengar keributan di dalam.


"Mas, Adek. Kalian ngapain sih." Teriak Nadin tapi masih lembut.


"Mas ga mau nganterin adek ke toko buku Mah." Adu Netanya pada Nadin.


"Kenapa memangnya Mas?" Tanya Nadin lembut.


"Capek Mah. Adek di anterin Pak.Ujang ga mau. Mas suruh telfon Yoga minta anter malah marah." Adu Nathan lagi.


Nadin, Oma dan Bude.Sus pun geleng-geleng melihat tingkah keduanya.


"Ya, sudah. Adek aja temen aja gimana?" Usul Nadin.


"Adek emang perginya sama Vika Mah. Tapi kan ga ada yang anter. Kalau sama Pak.Yoga nanti Vika curiga lagi." Ucap Netanya.


"Ya udah minta Pak.Ujang anter aja sayang." Tawar Nadin lagi.


"Astaga Dek. Jadi kamu minta anter Mas biar ada yang bayarin?" Kesal Nathan.


"Ya iya lah." Jawab Neta santai.


Karena keributan di luar. Rama pun terbangun dan keluar melihat apa yang terjadi begitu pun dengan Papa dan Opa. Sementara Pakde tengah bekerja di rumah sakit terdekat.


"Mau kemana Dek?" Tanya Rama di belakang Netanya.


"Mau ke toko buku Ka. Tapi, Mas.Nathan ga mau antar." Adu Neta pada Kakak iparnya.


"Abis ga cuma nganter Kak. Tapi, minta di bayarin juga." Kesal Nathan.


"Astaga Mas.Nathan. Emang kenapa kalau adiknya minta di bayarin. Sekali-kali ngga apa-apa dong." Lerai Papa Angga.


"Dih, Sekali-kali apanya sih Pah. Udah sering kali." Ucap Nathan cemberut.


"Ya udah. Pergi sama supir Kakak saja ya." Tawar Rama.


"Ngga usah. Sama Mang.Ujang aja Kak." Jawab Nadin.


"Ga apa-apa Kok Mah." Jawab Rama lagi.

__ADS_1


"Tapi," Ucap Neta terpotong.


Rama pun mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu debitnya pada Netanya.


"Ini ambil. Tapi jangan boros ya. Nanti kembalikan sama Ka.Nayya kartunya. Pinnya tanggal lahir Kak.Nayya ya." Ucap Rama menyodorkan kartunya.


"Asiik. Makasih Kak." Ucap Netanya kemudian berlari keluar.


"Jangan sering dimanjakan ya Kak adeknya." Ucap Nadin.


"Ngga apa-apa Mah. sekali-kali." Jawab Rama.


"Nathan enggak di kasih uang jajan Kak?" Tanya Nathan.


"Kan Nathan ga pergi nganter Neta." Jawab Rama santai.


"Mama,,,. Kak.Rama pilih kasih." Rengek Nathan pada Mama Nadin.


Yang lain pun tertawa melihat tingkah kakak beradik itu. Rama memang memperlakukan Adik-adik Nayya layaknya adik sendiri. Walaupun Rama pun memiliki seorang adik laki-laki. Namun Rama tak pernah membedakan adiknya dengan adik dari Nayya.


"Sudah-sudah kamu juga udah gede malu dong. Masa masih minta sama Kakak sendiri sih." Ledek Papa Angga.


"Dih, Papa. Biarin aja dong. Nathan kan cowok terganteng anaknya Papa." Ucap Nathan membanggakan.


"Masa Mas?" Tanya Oma.


"Iya dong Oma." Ucap Nathan dengan percaya dirinya.


"Jangan lupakan Rama dan Yoga ya Mas." Sindir Oma.


"Oma,,, Oma jahat banget sih sama Nathan." Teriak Nathan karena Oma yang berjalan meninggalkan smeuanya masuk kedalam kamar bersama dengan Opa.


Papa Angga dan Rama kembali ke kamar sementara Mama Nadin dan Bude Sus kembali ke taman merapihkan tanaman seperti biasanya. Keduanya memang sangat menyukai berkebun.


"Mba, setelah pindah nanti sering-sering main ke sini ya." Ucap Nadin.


"Iya. Jangan berlebihan deh kamu. Rumah Mba juga kan cuma terhalang beberapa rumah dari sini." Ucap Mba Sus.


"Iya sih. Tapi teteh beda Mba." Rengek Nadin.


"Kamu sama saja dengan Nathan suka merajuk." Ledek Mba Sus.


"Kan kloningannya Mba." Jawab Nadin santai kemudian keduanya lun tertawa bersama.


Mba.Sus sangat bersyukur mengenal Nadin. Adik yang begitu menyayanginya. Begitu pun dengan keluarganya yang begitu berlapang dadanya menerima dirinya masuk kedalam keluarganya. Bahkan saat Bapak meninggal Mba.Sus pun datang bersama dengan suami tercintanya.


Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya, vote juga boleh kok 😊. Terima Kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2