Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Kecelakaan


__ADS_3

Semester ini Nadin mulai mengisi mata kuliah di kampus namun tak penuh seperti dulu. Hanya mengajar saja tanpa ada kegiatan lainnya. Perut Nadin yang semakin membesar membuat pergerakannya terbatas. Sementara Nadin mengajar Angga bisa pergi kekantor.


Syafa dan Topan semakin sering juga bertemu dengan Nadin dan Angga. Syafa semakin dekat dengan Nadin. Namun Nadin masih tetap menjarak dengan Syafa. Sebenarnya Nadin kurang nyaman berdekatan dengan mereka. Oleh karena itu, Nadin selalu ditemani Angga setiap kali Sfaya mengajaknya bertemu.


Syafa memposting foto bersama Nadin di IGSnya. Banyak yang menyomentari "Akur ya." Awalnya syafa merasa aneh namun Syafa tak ambil pusing. Syafa terus saja memposting setiap kali pertemuamnya. Sampai datang lah DM. "Salut deh Istri sama Mantan akur."


Syafa pun membalas DM tersebut. "Maksudnya apa?"


"Lo, pura-pura be** atau be** beneran?"


"Maksudnya apa sih?"


"Itu bukannya mantannya laki Lu ya yang foti bareng Lu?" Duuueeerrrr... Syafa merasa kaget dengan isi DM dari seseorang itu.


"Lu emang ga tau atau pura-pura ga tau? Hati-hati di sambar lagi laki Lu tuh. Mantannya bening begitu." Duuueeeerrrr semakin dada syafa merasa terhimpit batu.


Syafa pun langsung mendatangi kantor Topan dan meminta penjelasannya. Topan menjelaskannya namun tak semuanya benar. Syafa sangat murka kepada Nadin. Menganggap Nadin bermuka dua.


"Halo ka, dimana?"


"Hai Sya. Saya masih di kampus. Kenapa Sya?"


"Makan siang yu."


"Kayanya ga bisa deh Sya. Maaf ya. Saya terabas jam pelajaran soalnya ada janji dengan dokter."

__ADS_1


"Owh! Begitu. Ya sudah lain kali ya Ka."


"Oke."


Penolakan Nadin seolah membuktikan kalo Nadin bermuka dua. Syafa semakin geram dibuatnya.


Sementara Nadin menyelesaikan jam mengajarnya. Setelah selesai Nadin menunggu Angga di depan gerbang kampus ditemani mahasiswi-mahasiswinya. Angga datang dan membukakan pintu mobil untuk aang Istri.


"Duuuuh,,, Bapa romantis ya bu."


"Alhamdulillah.. Makanya jangan pada pacaran dulu. Fokus kuliah." Ledek Nadin pasa Mahasiswinya.


"Siap Bu."


Angga pun melajukan mobilnya menuju klinik dokter A untuk melakukan USG sebelum Nadin dan Angga pulang ke kota C untuk menghadiri acara pernikahan Indah dua minggu mendatang. Nadin dan Angga berencana pulang sehari sebelum acara untuk menghindari Nadin ikut berkecimpung dalam persiapan pernikahan adiknya yang akan membuatnya stres.


BRraaaakkkkk....


Aaaaaa...... Pekik orang-orang yang melihatnya. Angga langsung berlari melihat kerumunan orang.


"Nadiiiin..." Angga langsung menganggakat Nadin dan menidurkannya di brankar yang di bawa perawat klinik. Dokter A segera melihat keadaan Nadin.


"Segera bawa ke Rumah Sakit besar." Perintah Dokter A.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya Dok?"

__ADS_1


"Anak kamu harus segera dilahirkan Ga. Fasilitas klinik belum memadai jadi harus segera di bawa ke Rumah sakit besar."


Duuuaaarrrr....."Lakukan yang terbaik."


Dokter A membawa Nadin dan Angga ke Rumah Sakit C. Dalam perjalanan Angga terus saja menggenggam tangan Nadin tak pernah lepas seolah memberi kekuatan untuk Istrinya. Sesekali air matanya lolos.


"Halo Wan?"


"Sudah beres Bro. Lu temenin Bini Lu aja. Gw udah hubungi semuanya."


"Thanks Wan."


Begitu Angga menghubunginya Iwan langsung datang menuju klinik tidak menemui dengan Angga melainkan langsung melihat cctv klinik setelag itu Iwan langsung bergerak menuju kantor polisi melaporkan kejadian serta menunjukan barang bukti.


Ayah dan Ibu segera pulang ke kota C. Karena tengah berada di luar kota. Mama, Bapa, Indah dan Doni dan Nayya segera menuju kota C setelah di hubungi Iwan. Semua sahabat pun segera meluncur. Kasih yang tengah ngidam pun bersikeras untuk menemui Nadin.


"Wan, gimana?"


"Gw di kantor polisi Rif. Lu kesini deh."


Arif segera pamit kepada istrinya untuk menemui Iwan. Amel pun mengijinkannya. Sementara Amel terus disisi Angga untuk menguatkan.


Semua keluarga dan sahabat berkumpul di lorong ruang operasi. Angga terus saja meneteskan air matanya. Bapa menghampirinya dan memeluk Angga.


"Semua sudah menjadi kehendaknya A. Berdo'alah yang terbaik untuk istri dan anakmu." Angga semakin mengeratkan pelukannya dan menumpahkan kesedihannya di pelukan Bapa.

__ADS_1


Tbc..


__ADS_2