
Beberapa bulan berlalu Amel mulai terbiasa dengan kehidupan yang serba sederhana. Jauh dari kata mewah seperti biasanya. Bahkan Amel perlahan-lahan mulai mengikhlaskan mobil kesayangannya. Yang tanoa sepengetahuannya Arif telah membelinya kembali.
"Sayang, apa sudah ada kabar dari Ayah dan Ibu?" Tanya Amel.
"Menurut Ka.Rian Ayah sedang mengajak Ibu berobat. Tapi, dimananya Mas belum tahu." Jawab Arif.
"Ka.Angga dan Teh Nadin?" Tanya Amel kembali.
Arif menghela nafasnya dalam.
"Menurut Ivan. Minggu lalu Nadin datang ke pabrik." Arif.
"Hah! Kenapa Mas ga bilang. Mas ketemu?" Tanya Amel.
"Ngga sayang. Ivan memberitahukan Mas sehari setelahnya." Arif.
"Yaaah... Gimana ini Mas?" Amel.
"Sabar sayang. Mas terus mencarinya ko. Setiap kali bertemu dengan Ka.Rian Mas selalu bertanya." Arif.
Amel menundukan kepalanya. Bulir bening mengalir di pipinya. Arif mendekatinya dan memeluk dari samping. Memberikan kekuatan pada istri tercintanya.
"Semua gara-gara Amel Mas. Andai saja Amel tidak mudah terpengaruh semua ini tidak akan terjadi." Ucap Amel dalam isaknya.
"Semua ini pelajaran hidup sayang. Agar kita bisa lebih baik lagi." Arif.
__ADS_1
Amel membenamkan kepalanya di dada bidang Arif. Amel terus menangisi kebodohannya. Arif terus menguatkan Istrinya.
"Kita ke rumah Mamah ya. Jenguk anak-anak." Ajak Arif.
Mata Amel pun kembali berbinar. Dia merindukan dua buah hatinya. Amel pun bergegas bersiap untuk pergi ke rumah mertuanya.
Setelah di rasa cukup Amel segera menemui Arif di bawah. Arif melihat istrinya berjalan menuruni tangga dengan membawa tas besar. Arif pun segera menghampirinya dan mengambil alih tas yang di bawa Amel.
"Berangkat sekarang?" Tanya Arif. Dan Amel pun menganggukan kepalanya.
Amel dan Arif berpamitan pada Bibik sebelum berangkat. Setelah berpamitan Amel menggandeng lengan Arif. Arif mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Amel menyandarkan kepalanya di bahu Arif sepanjang perjalanan menuju kota J.
"Yang, apa sebaiknya kita mampir di rumah Mamah dan Bapak?" Tanya Amel.
"Apa Mamah dan Bapak akan marah?" Tanya Amel ragu.
"Marah kenapa?" Tanya Arif.
"Karena Teh.Nadin pergi." Amel.
"Mas Rasa Nadin bukan tipe orang yang suka mengadu. Dan Mas yakin Bapak dan Mamah tidak akan pernah mengetahui masalah apa yang tengah terjadi pada anak-anaknya. Terutama Nadin." Jelas Arif.
Amel pun hanya bisa diam merenungi apa yang di katakan Arif. Arif menggenggam tangan Amel dan mencium punggung tangan Amel memberikannya kekuatan.
"Semua akan baik-baik saja sayang." Ucap Arif.
__ADS_1
"Makasih ya Mas. Selalu ada buat Amel." Ucap Amel lirih. Tapi masih bisa di dengar oleh Arif.
"Sudah seharusnya sayang. Dan Mas yakin kita pasti bisa melewati semua ujiannya." Ucap Arif.
"Makasih sayang."
Tak terasa mobil Arif pun sudah sampai di pekarangan rumah orang tua Arif. Terlihat kedua buah hati mereka tengah bermain bersama dengan Aki nya. Dan saat melihat mobil Arif keduanya bersorak gembira melihat kedatangan orang tua mereka.
"Ayah... Bunda..." Teriak keduanya.
Amel segera turun dari mobil dan berlari menghambur kepada kedua buah hatinya. Refa dan Rafa pun berlari menghambur kedalam pelukan Bundanya.
"Bunda,, Kaka kangen Bunda." Ucap Refa.
"Adik juga." Timpal Rafa tak mau kalah.
"Bunda juga kangen kalian sayang." Ucap Amel.
"Jadi, ga ada yang kangen sama Ayah nih." Ucap Arif dengan nada suara di buat sedih untuk menarik perhatian kedua buah hatinya.
"Ayah... Kaka juga kangen Ayah." Ucap Refa menghambur ke dalam pelukan Arif.
"Adik juga." Tambah Rafa.
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏🙏🙏
__ADS_1