
Dua bulan berlalu setelah kepergian keluarga Angga. Begitu juga dengan Ayah dan Ibu. Ibu sudah nenunjukan progres yang baik. Ibu terus berlatih di bantu Mba.Sus dan seorang perawat yang di datangkan setiap hari melalui jasa home care.
Nayya dan Nathan yang mudah beradaptasi sudah mendapatkan banyak teman begitu juga dengan Neta di taman kanak-kanak. Angga menjalankan pekerjaannya di kantor Rian dan begitu sebaliknya. Komunikasi keduanya semakin lancar akibat dari pertukaran ini.
Iwan sekretaris Angga bertugas nengontrol hotel pusat milik Rian. Karena Rian harus selalu berada di Hotel milik Angga. Amel belum menyadari ada keanehan dalam kesehariannya. Amel masih saja berkutat dengan teman dan bisnis butiknya.
Hari ini Amel pergi kesebuah mall di kota C bersama dengan teman-temannya. Amel berbelanja seperti biasa tanpa mempedulikan nominal harga yang ada. Saat di kasir betapa Amel kaget karena kartu yang dia punya tak dapat di pakai untuk bertransaksi.
"Maaf ka, ada kartu lain lagi? Atau bisa cash." Ucap Si kasir.
"Hah! Jangan main-main Ka." Ancam Amel. Dan di angguki oleh kedua temannya.
"Iya. Mba ini ga tau siapa temen saya ini." Ancam Nina.
"Tapi, maaf Ka. Memang kartunya ga bisa di gunakan." Ucap Kasir sopan.
"Gimana Mel? Telfon kaka Lu deh." Saran Nina yang berharap Angga akan datang dan Nina akan memanfaatkan kesempatan bertemu dengan Angga.
Amel mangambil ponselnya dari dalam tasnya. Lalu mencari kontak Angga di dalamnya.
📱Ka, dimana?
📱Kaka, lagi sibuk Mel. Nanti telfon lagi ya.
📱Eh, tapi Ka.
__ADS_1
Dan telfon pun dimatikan sepihak oleh Angga dengan sengaja. Amel kesal dibuatnya. Kemudian Amel mencari kontak suaminya untuk meminta tolong.
📱Kenapa sayang?
📱Mas, tolong Amel dong. Bayarin belanjaan nih. Kartu Amel ga bisa di pakai nih.
📱Belanja? Belanja apa? Dimana?
📱Di mall P sini deh cepetan.
📱 Tapi Mas masih kerja sayang.
📱Ya Tuhan. Kamu kan pemilik perusahaan masa kamu ga bisa keluar sebentar. Jangan bikin malu aku deh.
📱Kamu batalkan saja belanjaannya dan pulang. Mas masih kerja. Kamu mau aku di pecat.
Amel pun geram lalu membatalkan belanjaannya. Nina dan Anya hanya mengikutinya dari belakang. Amel pergi ke hotel milik keluarganya yang di kelola oleh Angga.
"Maaf Bu ada yang bisa saya bantu?" Panggil resepsionis kepada Amel.
"Apa urusan mu. Saya mau bertemu dengan kakak saya." Hardik Amel pada resepsionis tersebut.
"Maaf Bu. Siapa Kakak Anda biar saya bantu." Ucap Resepsionis itu lagi.
"Kamu, anak baru ya. Kamu ga tau siapa saya. Saya anak pemilik hotel ini." Ucap Amel lagi. Dan di angguki oleh Nina dan Anya.
__ADS_1
"Maaf Bu. Mana mungkin CEO kami memiliki anak gadis seperti anda sementara CEO kami masoh sangat muda." Jelas Resepsionis.
"Iya karena CEO kalian itu Kakak saya. Paham." Hardik Amel.
"Maaf Bu. Mungkin anda salah gedung. CEO kami tidak memiliki adik." Ucap Resepsionis itu lagi.
"Kamu mau saya pecat. Hah! Tidak mungkin saya salah gedung. Dari kecil saya bolak-balik gedung ini mana mungkin saya salah." Teriak Amel.
"Ada apa ini?" Tanya seseorang.
"Ka.Rian." Sapa Amel. Ya Rian yang bertanya kepada mereka.
"Amel! Ada apa?" Tanya Rian santai.
"Amel mau ketemu Ka.Angga Ka." Jawab Amel.
"Angga?" Tanya Rian lagi.
"Iya Ka. Ka.Angga ngeblok semua kartu Amel." Ucap Amel kesal.
"Maaf Mel. Kakak tidak tau. Tapi hotel ini milik saya sekarang." Jawab Rian santai.
"Apa?! Kakak jangan becanda deh. Kakak emang sahabatan sama Ka.Angga tapi becandaan kakak ga lucu sama sekali." Elak Amel.
Rian hanya tersenyum lalu berpamitan kepada Amel karena ada meeting yang harus Rian hadiri. Amel dan teman-temannya hanya berdiri mematung.
__ADS_1
Sampai disini dulu semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏🙏🙏