
Nathan dan Rama masuk kedalam rumah di sambut oleh Nadin. Nadin tak menanyakan lagi perihal apapun pada mereka berdua karena tadi Rama mengatakan bahwa mobil Nathan mogok.
"Mas Nath, Mama minta tolong bantu Bik.Lulu beresin kamar Mba.Sus ya. Nanti sore dia datang bersama suaminya. Mama minta mereka tinggal di sini." Pinta Nadin.
"Oke Mah." Jawab Nathan.
"Mas," Panggil Rika.
"Yang, kenapa?" Tanya Nathan.
"Kak.Nayya." Ucap Rika.
"Kenapa Dek?" Tanya Rama.
"Sebaiknya Kakak liat sendiri." Titah Rika.
"Ada apa Kak.Rika?" Tanya Nadin yang mulai membiasakan memanggil Kakak pada Rika.
"Sepertinya Kakak nangis Mah di kamar." Ucap Rika.
"Ada apa Mas.Rama?" Tanya Nadin.
"Mungkin karena rasa cemas Nayya sama Kana Mah. Biar Rama lihat dulu." Ucap Rama.
"Ya sudah sana lihat Nayya. Beri pengertian pelan-pelan ya Mas." Ucap Nadin.
"Iya Mah." Jawab Rama kemudian berjalan menuju kamar Nayya.
Rama sengaja tak menutup pintu kamar Nayya karena mereka belum resmi menjadi suami istri. Rama melihat Nayya tengah terisak sambil memeluk erat Kanaya yang tengah tertidur.
"Sayang." Panggil Rama lembut.
Nayya menoleh kearah Rama dengan tatapan sendu dan air mata membasahi pipi mulusnya.
"Kenapa menangis?" Tanya Rama lembut duduk di samping tempat tidur.
"Nayya yakin Mas.Nathan menyembunyikan sesuatu dari Nayya." Ucap Nayya di sela tangisnya.
""Sayaang." Ucap Rama.
"Lihat." Tunjuk Nayya pada lengan Kana.
"Kenapa?" Tanya Rama pada Nayya.
"pagi tadi saat Nay memandikan Kana tak ada luka ini." Ucap Nayya sendu.
"Sayang, mungkin Kana terjatuh saat di taman tadi." Ucap Rama menenangkan.
"Ngga mungkin." Jawab Nayya sambil terisak.
__ADS_1
Rama membawa Nayya dan Kana kedalam pelukannya. Rama memeluk Nayya erat dan mendaratkan ciuman di puncak kepala Nayya. Tak terasa bulir bening pun menetes di sudut matanya. Rama menengadahkan wajahnya menahan agar bulir bening tak terus mengalir.
"Terima kasih sayang." Bisik Rama lirih.
Nayya menyimpan Kana yang masih tertidur dengan penuh ke hati-hatian. Nayya mendekatkan kembali tubuhnya kepada Rama setelah merebahkan Kana di tempat tidur.
Nayya mengusap lembut pipi Rama yang sudah di basahi air mata. Kemudian Nayya membenamkan kepalanya di dada bidang Rama dan memeluknya erat. Nayya tau apa yang berada dalam benak Rama. Yang hingga saat ini pun Nayya tak pernah tau mengapa rasa yang dia miliki terhadap Kanaya begitu kuat.
Nayya akan merasa sangat tersakiti lebih dalam saat ada yang menyakiti Kanaya baik itu tak di sengaja bahkan mungkin hanya suatu hal sepele yang biasa anak-anak lakukan.
"Kak," Panggil Nathan dan Rika di ambang pintu.
"Masuklah." Titah Rama dengan Nayya yang masih dalam pelukan Rama.
"Kak, Mas minta maaf." Ucap Nathan.
Nayya menoleh kearah Nathan masih dalam dekapan Rama. Nathan pun menceritakan apa yang terjadi padanya, Rika juga Kanaya saat mereka bersama. Nayya mendongakkan wajahnya kepada Rama meminta penjelasan.
"Lulu sekretaris yang mengundurkan diri setelah beberapa kali Mas tolak." Jelas Rama.
"Terus sekarang?" Tanya Nayya.
"Dia ada di tahanan." Jawab Rama.
"Mas." Ucap Nayya lirih.
"Semua akan baik-baik saja sayang." Ucap Rama menenangkan Nayya seraya mengusap lembut rambut Nayya.
"Terima kasih. Kalian sudah menjaga Kanaya." Ucap Nayya lirih.
"Itu sudah menjadi kewajiban kita Kak." Ucap Rika.
Nadin yang merasa ada yang aneh dengan anak-anaknya pun menghampiri mereka di kamar Nayya dan betapa teduhnya kala melihat mereka semua tengah berpelukan menumpahkan kasih sayang.
"Terima kasih Mas. Sudah hadir di hidup Nayya." Ucap Nayya.
"Kamu malaikat yang Tuhan kirim untuk Mas dan Kana sayang." Balas Rama.
"Terima kasih Rika. Bunda sudah melahirkan wanita hebat sepertimu." Ucap Nayya.
"Dan terima kasih kamu sudah mau menerima adik Kakak yang gantengnya ga seberapa." Ucap Nayya lagi.
"Kakak.." Ucap Nathan seraya melepaskan pelukannya.
Mereka semua pun tertawa melupakan ada Kana yang tengah tertidur. Kana pun merasa terusik dengan suara orang-orang dewasa itu.
"Momi..." Teriak Kana.
Semua pun terkejut dan spontan menutup mulut mereka. Nadin yang menyaksikan di ambang pintu pun tersenyum lalu meninggalkan mereka ke ruang keluarga.
__ADS_1
"Sayang, anak Momi sudah bangun." Ucap Nayya lembut mendekati Kanaya.
Kanaya pun langsung memeluk Nayya dan Nayya membalas pelukannya.
"Papi ga mau peluk nih?" Goda Rama.
"No." Pekik Kanaya.
"Hiks...Hiks... Momi Kana ga sayang Papi... Hiks...Hiks..." Rengek Rama berpura-pura.
"Huaa.... Papi.... " Tangis Kanaya pun pecah sambil merentangkan tangannya.
Rama pun segera membawa Kanaya kedalam pelukannya. Nayya tersenyum melihat tingkah anak dan Papinya. Nathan dan Rika tak ingin mengganggu moment kebersamaan Nayya dan calon keluarga kecilnya. Mereka pun keluar dari kamar Nayya.
"Mas," Panggil Nadin.
"Iya Mah. Kalian belum makan siang. makanlah dulu. Ajak sekalian Kakak kalian." Titah Nadin.
"Mama ga sekalian?" Tanya Rika.
"Mama sedang puasa Yang." Ucap Nathan.
"Owh! Kalo gitu Ri siapkan makan Mas ajak Kakak makan." Ucap Rika pada Nathan kemudian pergi ke dapur.
"Baiklah. Mas ke kamar sebentar setelah itu Mas ajak Kakak untuk makan. Nini sekalian makan." Ajak Nathan pada Mama Nadin.
"Nini sedang menemani Mama kalian berpuasa sayang." Ucap Nini.
"Hm.. Baiklah kalah begitu." Ucap Nathan berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Setelah makanan siap Rika pun memanggil Nathan di kamarnya. Setelah itu Nathan memanggil Kakaknya di kamar. Nathan melihat Nayya tengah bermain bersama Kanaya dan Rama.
"Kak, makan siang dulu." Ajak Nathan.
"Owh! Iya. Momi jadi lupa. Ayo kita makan dulu sayang." Ajak Nayya.
Mereka berempat pun menuju meja makan. Nayya yang teu jika Mama dan Nini nya tengah berpuasa tak mengajak mereka untuk makan siang. Namun, Rama merasa heran mengapa Nayya tidak mengajak Mama serta Nini nya untuk makan.
"Yang, kok ga ajak Mama sama Nini sekalian?" Tanya Rama.
"Mereka lagi puasa Mas." Jawab Nayya.
"Masya Allah. Beruntungnya Mas masuk ke dalam keluarga ini." Ucap Rama.
Nayya pun hanya tersenyum menanggapinya. Sudah berkali-kali Rama memuji keluarganya. Rama yang tak pernah tau pernah ada badai besar dalam keluarga Nayya namun, kini keluarganya bisa bertahan melewati badai besar yang menghantam keluarganya.
Badai yang hampir memporak porandakan semua keluargany karena suatu kelalaian dari seseorang. Nayya yang menyaksikan bagaimana perjuangan Mamanya melewati semua badai. Menyusun satu persatu puzzle kehidupan mereka hingga menjadi satu kembali.
"Sayang," Panggil Rama lembut ketika melihat Nayya yang hanya melamun saja.
__ADS_1
"Eh, iya Maaf. Nay melamun." Ucap Nayya.
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya, vote juga boleh kok 😊. Terima Kasih 🙏🙏🙏