
"Wan, gimana?" Tanya Arif sesampainya di kantor polisi. Iwan menunjukkan telunjuknya kepada seseorang. Rahang Arif langsung mengeras mengetahui siapa pelakunya. Arif menghampirinya dan tamparan keras mendarat di pipi putih Syafa.
"Kurang aja Lu." Bentak Topan kepada Angga.
"Kenapa Lu? Itu ga seberapa dibanding penderitaan Nadin." Syafa langsung geram mendengar Arif mengucapkan kata Nadin.
"Lu tau Sya, bagaimana Nadin harus menahan amarahnya ketika Lu dan orang bo*** ini menemuinya."
"Diam!" Teriak Syafa.
"Kenapa? Apa salah Nadin sampe Lu tega melakukan ini?"
"Dia pantes dapetin ini. Dia mau ketemu gw biar bisa deket lagi kan sama Topan."
Plak Arif melayangkan tamparannya kembali. Iwan berusaha melerai keduanya. Iwan memberi kode pada polisi yang sedang berjaga.
"Asal Lu tau Sya. Gw masih menghargai Lu karena Lu sahabat dari istri Gw. Gw ga tau bagaimana hancurnya perasaan dia kalo sampai dia tau kelakuan Lu."
"Karena dia ga tau kalo kaka iparnya munafik."
Plak
"Cukup Rif."
"Kenapa? Lu takut Istri Lu tau kalo Lu ninggalin Nadin di hari pernikahan Lu sama Nadin." Syafa langsung menatap Arif dan Topan bergantian seolah meminta penjelasaan lebih jelas lagi.
"Siapa yang lebih bermuka dua disini Lu atau Nadin." Topan hanya terdiam tak mampu membalas ocehan Arif.
"Asal Lu tau Sya. Dia lebih memilih dijodohkan sama Lu dibanding nikahin Nadin yang kala itu belum jadi apa-apa. Dan asal Lu tau beberapa kali dia datang membujuk Nadin untuk mau menikah dengan dia lagi dan dia akan meninggalkan Lu." Syafa bak disambar petir mendengar pengakuan Arif. Tubuhnya lemas bak tak bertulang.
"Lu fikir Angga tak mengetahui niat busuk Lu? Angga tau dan Angga diam menghargai istri Lu yang udah di anggap adik oleh Angga." Duuueeerrr.... Dada syafa seperti dihantam batu besar.
__ADS_1
"Nadin selalu menemui Lu bersama dengan Angga. Bukan untuk memamerkan kemesraannya karena Nadin tak cukup kuat mengahadapi kalian. Nadin menjaga agar emosinya tak meluap menghadapi Lu Sya."
Syafa menunduk dan menangisi kebodohannya. Dirinya terlalu terbakar api cemburu di tambah Topan yang memutar balikan fakta. Syafa berlutut dikaki Arif memohon ampun dan meminta dirinya untuk bertemu dengan Angga dan Nadin.
"Wan, Lu urus dah." Arif meninggalkan Syafa yang masih tertunduk meminta permohonan.
"Maaf Pa.Topan dan Bu.Syafa saya tidak bisa mencabut laporan sebelum ada perintah dari Bos saya." Iwan menyerahkan semuanya kepada polisi.
Topan mengangkat Tubuh Syafa namun Syafa menolaknya. Topan terus meyakinkan Syafa.
Tiba di rumah sakit Iwan dan Arif hanya diam.
"Gimana Yang?"
"Nanti saja tunggu Nadin dulu yah." Arif memeluk Amel. Tak lama pintu ruang operasi terbuka. Angga langsung menghambur kearah Dokter A.
"Bagaimana Istri dan Anak saya Dok?"
"Alhamdulillah." Ucap semua orang yang tengah menunggui Nadin. Angga refleks memeluk Dokter A. Dokter A pun menyambut pelukan Angga.
Ayah dan Bapa bergantian memeluk Angga. Begitupun dengan yang lain.
"Pa, Adiknya Nayya udah lahir ya?" Angga langsung membawa Nayya kedalam gendongannya dan memeluk erat Nayya. Menciumi pipi Nayya dan puncak kepala Nayya.
"Adik laki-laki atau perempuan Pah?"
"Laki-laki sayang."
"Horeeee.... Adik Nayya jagoan Ki." Teriak Nayya kepada Akinya.
Nadin di bawa keruangan VIP. Kesadarannya belum sepenuhnya. Angga terus mendampingi Nadin. Sementara Ibu dan Mama menemani baby boy di ruang bayi. Karena dokter belum memperbolehkan baby di bawa karena baby boy lahir prematur walau berat badannya sudah mencukupi untuk lahir.
__ADS_1
Iwan menghampiri Angga dan memintanya untuk keluar sejenak. Karena ada hal yang harus di bicarakan. Iwan tak ingin Nadin mendengarnya.
"Kaka tinggal sebentar ya sayang." Nadin mengangguka kepalanya dan tersenyum kepada Angga.
"Pergilah Nak. Biar Bapa yang menjaga Nadin." Saut Bapa.
"Terima kasih Pa." Angga pun keluar dari rauangan Nadin dan perti ketaman belakang Rumah sakit.
Disana semua sudah berkumpul hanya Bapa, Ibu dan Mama yang tak ikut berkumpul. Iwan menunjukan rekaman cctv kepada semuanya. Angga dan Amel sangat terkejut. Amel menjatuhkan badannya Arif dengan sigap menahan tubuh istrinya.
Tak ada yang berani bicara sepatah kata pun. "Sekarang dimana dia?" Tanya Angga.
"Di kantor Polisi." Angga langsung bangkit dari duduknya di susul Iwan dan Aldo. Arif menenangkan Istrinya yang bersikukuh ingin ikut ke kantor polisi.
Akhirnya Ivan, Nando, Arif dan Amel menyusul ke kantor polisi. Yang lainnya kembali keruangan Nadin. Ayah hanya diam menyerahkan semuanya pada anak-anaknya.
"Nad,"
"Ayah," Ayah pun memeluk Nadin yang tengah terbaring lemah di ranjang pesakitan. Bapa memberikan ruang pada anak dan besannya.
"Pa, duduklah disini." Ajak Dina pada Bapa. Bapa pun menurutinya.
"Maafin Nad ya Yah."
"Kamu tidak perlu meminta maaf sayang. Semua ini sudah kehendak Allah. Yang terpenting sekarang kamu sehat kembali supaya bisa mengurus bayi kamu."
"Nad belum bisa ketemu baby Yah?"
"Sabar ya sayang tunggu dokter memeriksanya setelah itu kalian tidak akan dipisahkan lagi. Ibu dan Mama ada menemani baby boy."
Tbc....
__ADS_1